Seratus tahun enam bulan telah berlalu, pelaksanaan Kongres Pemuda Pertama, tepatnya 30 April -2 Mei 1926 , yang kemudian berlanjut ke Kongres Pemuda ke dua tepatnya 27 – 28 Oktober 1928 yang melahirkan Ikrar pemuda. Para pemuda telah menyadari kekeliruannya sehingga terpanggil untuk bersatu dari berbagai daerah dan kalangan. mereka datang  di Jakarta tanpa tunjangan dana makan minum dan transport selama perjalanan mereka pergi dan pulang, dari dan ke daerah masing-masing. Tujuannya hanyalah untuk menyatukan pandangan dan Langkah agar dapat membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan  penindasan yang membatasi ruang gerak warga untuk melangkah maju saat itu. Tahun 1928 para pemuda Kembali terpanggil Berkumpul, yang saat itu menjadi peristiwa aekonik  bagi para pemuda  dari berbagai kalangan yang  terdorong adanya  kesadaran bersama  se Nusantara yang kala itu, Indonesia belum terbentuk menjadi satu negara berdaulat, melainkan masih terpecah-pecah dari berbagai kerajaan yang terpisah antar pulau. Kongres ini lahir dari adanya rasa senasib  sepenanggungan karena ketertidasan dan ketertinggalan dalam berbagai sektor, terutama sektor pendidikan yang mengakibatkan keterbelakangan pada kebanyakan rakyat, kecuali pada orang-orang tertentu.

Kongres ini  menjadi catatan sejarah penting,  bahwa semangat kemerdekaan dapat diraih bukan hanya dengan melalui perjuangan fisik di medan perang dengan mengangkat senjata bertempur saling menembak dengan musuh, melainkan dengan persatuan pandangan dan semangat meraih kemerdekaan lewat gagasan-gagasan brilian. Saat itu, para pemuda sadar, pasti masih akan melalui perjuangan panjang dalam rentang waktu yang tidak pasti, akan tetapi tekad makin mebara dan membulat, bahwa ikhtiar harus dilaksanakan dengan haarapan akan menjadi catatan amal jariyah yang kelak akan menjadi saksi  yang tertulis dalam catatan sejarah perjuangan bangsa ini. Meskipun sadar akan melewati perjalanan waktu yang Panjang penuh pengorbanan karena juga adanya motivasi semboyan dengan pekikan “Merdeka atau Mati” dalam gejolak perang yang tak berkesudahan, akhirnya kemerdekaan terwujud, tepatnya 17 Agustus 1945, 17 tahun setelah kongres pemuda ke dua terlaksana.

Dalam perjalanan Panjang sejak seruan kemerdekaan melalui pembacaan naskah Proklamasi, kemerdekaan pun diraih yang disambut dengan gegap gempita seluruh warga, baik yang ada di kota maupun di desa lewat siaran radio yang menggema mengabarkan kabar gembira bahwa kemerdekaan telah terwujud. Selanjutnya apakah perjalanan mengisi kemerdekan berjalan mulus sesuai harapan? tentu tidak. Selang hitungan bulan, para penjajah ingin kembali mencengkeram menjajah hingga jatuhlah peristiwa Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November 1945 di Kota Surabaya. Perlawanan heroik yang dilakukan oleh para pemuda di Surabaya, dengan segenap daya dan upaya, mereka mampu menghalau para penjajah.  Pencapaian kemerdekaan sebelum dan sesudahnya, tentu tak lepas dari pengorbanan yang tidak terlukiskan,  pengorbanan harta yang tidak terukur. kucuran keringat dan darah yang membasahi tanah yang tidak mampu ditakar, bahkan tak terhitung nyawa ada yang juga telah terkubur.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 dengan mengambil tema : “Patriotik, Gigih, Berempati : Pemuda Untuk Indonesia”. Mengapa harus pemuda? Karena pemuda adalah kekuatan, seperti ungkapan Bung Karno Bahwa : “Berilah aku 10 pemuda maka akan aku guncangkan dunia” menandakan betapa kuatnya pemuda. Namun pertanyaan selanjutnya, pemuda yang bagaimana? Tentu pemuda yang ditempa melalui proses Pendidikan sesuai kurikulum selama  ini yang menjadi pedoman, melewati jenjang-jenjang yang telah ditentukan bukan jalan pintas, karena karakter yang menempuh jalan pintas dengan yang melewati proses panjang, tentu kuliatas dan kapasitas keilmuannya yang dimilikinya pastilah berbeda dalam menghadapi dan menangani setiap masalah di tengah masyarakat.

Hari ini, apakah tantangan telah hilang? Tentu tidak, bahkan  semakin besar dan kompleks apalagi di era digitalisasi. Sampai saat ini masih terlihat gejala ada kelompok ingin berkuasa secara instant, menghalalkan segala cara bahkan merubah UU sebagai pedoman bernegara yang  sejak Indonesia merdeka telah dirancang oleh para pendiri bangsa yang terwakilkan dari berbagai golongan, dengan kapasitas dan kapabilitas yang mereka miliki tanpa tendensi kekuasaan, mereka telah melahirkan  pedoman bernegara yang tertuang dalam Pembukaan dan UUD 1945 yang memberi arah jalan kebenaaran dalam menata negara agar tidak tersesat dan tidak memihak ke satu golongan saja. Siang malam, berhari-hari beliau merumuskan konstitusi tersebut agar tujuan ditegakkannya Negara kesatuan Repoblik Indonesia tidak salah arah.

Dengan memperingati Hari Sumpah Pemuda tahun 2026, 98 tahun berlalu, terhitung sejak diikrarkannya janji bersama. Rawatlah Sumpah Pemuda yang menjadi penyemangat persatuan meraih kemerdekaan yang telah kita nikmati hingga ahirkehidupan kita, yang menjadi janji kita Bersama dari Sabang sampai Merauke dengan semoboyan “Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu, yaitu : satu tanah air, satu bangsa, dan satu Bahasa, yaitu Indnesia” dalam naungan Pancasila dan UUD 1945 sebagai filosofi dan konstitusi pedoman bernegara kita”. Jayalah Indonesia selamanya.

(Visited 22 times, 22 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.