Oleh: Zulkifli Azir

Agar tidak hilang dari ingatan, sedikit saya buat catatan perjalanan dari Pulau Bungin di Tinanggea ke Pulau Bangko, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Keduanya merupakan permukiman suku Bajau di atas air. Pagi-pagi dari Pulau Bungin, sore hari bada Asar baru tiba. Seharian perjalanan hanya ada laut sejauh mata memandang.

Diberi nama PULAU, padahal pulaunya tidak ada. Bangko adalah permukiman suku Bajau di atas air. Serius, di atas air! Di sana tidak ada air tawar. Warga mandi menggunakan air laut.

Hanya penduduk yang kaya dan pengurus masjid yang mandi menggunakan air tawar. Khusus pengurus masjid, mereka disubsidi oleh warga. Selalu ada air tawar untuk berwudu.

Ini dia orang yang saya cari. Namanya Puto Mungkama. “Puto” artinya paman. Dialah satu-satunya pelantun IKO-IKO SAMA yang menguasai 7 PAKANNAANG (cerita tutur). Setiap pakannaang dibawakan dalam waktu semalam suntuk. Bahkan, dia pernah menggelar IKO-IKO SAMA selama tujuh hari tujuh malam, hanya beristirahat di waktu salat dan makan.

Saat bertemu, Puto Mungkama terheran-heran. Orang Bajau memang cenderung tertutup terhadap orang yang asing. Yang berkaos putih adalah abang saya, Dr. Ir. Siradjuddin Azir. Dia yang menjelaskan maksud kedatangan kami mencari Puto. Dia juga yang menjelaskan silsilah keluarga kami.

Setelah tahu keluarga kami, spontan Puto bersimpuh. Dia masih ingat almarhumah ibu saya, Hj. Sitti Zainab Al-Habsyi. Orangnya besar, gemuk. Waktu itu, si Puto masih kecil, sering dimarahi. Tetapi, setelah dimarahi, dibujuk lagi, diberi uang, lalu disuruh bernyanyi. Suara Puto ini memang enak didengar untuk ukuran orang desa kami waktu itu.

Ini istrinya yang ke-4, namanya Ma’ Ecce’. Dia termasuk pesinden. Awalnya biasa manggung di kampung bersama si Puto. Dari situlah terjadi cinta lokasi, kemudian menikah. Padahal, saat itu Puto masih punya istri.

Malam harinya, Puto Mungkama dan Ma’ Ecce’ berduet menghibur kami. Didahului dengan melantunkan lagu Pamuka Susurang (lagu pembukaan penyambutan pembesar). Tradisi Datu-Datu Bajau dahulu menerima kedatangan setiap tamu dengan lagu itu.

Wah, mereka menghibur kami seperti layaknya menyambut kedatangan pembesar. Mereka mengenakan pakaian adat Bajau. Pakaian adat laki-laki disebut SARIJJA. Pakaian adat perempuan disebut SAMMARA. Yang terpampang di belakang berwarna biru putih itu ULA-ULA SAMA, itulah panji kebesaran Bajau di Indonesia. Suku Bajau di Malaysia menamakannya SAMBULAYANG. Sementara suku Bajau di Filipina menyebutnya PAGLAMAK. Abaikan yang berwarna merah; itu gorden.

Ini lagu PAMUKA SUSURANG, diiringi oleh pemain gambus Puto Samsuddin. Ada bait di dalamnya. TABE’ LAH TABE’ ANA’ MA MUNDAANTA, AKU ITU SANANG NA UYA SAMA. Maaflah maaf ananda di hadapan kita semua, aku mohon diri hendak menyanyi Bajau.

Ada beberapa lagu YANG mereka lantunkan. Setelah beristirahat sejenak, dilanjutkan dengan lantunan IKO-IKO SAMA. Sempat diselingi beberapa kali istirahat ke kamar kecil, nyuruput kopi dan minuman cola, lanjut lagi hingga Subuh.

Ini yang ditangannya bukan teks, melainkan kardus untuk kipas-kipas.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali saya mulai perjalanan pulang. Kembali mengarungi laut menggunakan perahu “katinting”.

Ini adalah desa terdekat dari Pulau Bango. Wah, saya lupa lagi nama desanya. Perjalanan menggunakan perahu “katinting” sekitar 15 menit saja. Masyarakat Pulai Bangko biasa ke sini mengambil air tawar dari LUMBOH (sumur) meggunakan perahu didayung. Tentu saja lebih lama dan membuat tangan pegal.

Sepanjang pesisir pantai ini mayoritas penduduk Bajau. Pokoknya, asal bisa berbicara bahasa Bajau, pasti hidup lah. []

(Visited 195 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.