Sahabat, seperti seorang anak kecil, kita benar-benar murni. Kita tidak pernah berpura-pura menjadi yang bukan diri kita. Kecenderungan kita adalah untuk bermain dan mengeksplorasi, untuk hidup di saat ini, untuk menikmati hidup. Tidak ada yang mengajarkan kita untuk menjadi seperti apa; kita semua dilahirkan apa adanya. Ini adalah sifat alami kita sebelum kita belajar berbicara.

Sahabat, ketika pikiran manusia cukup matang untuk konsep-konsep abstrak, kita belajar untuk menganalisis segala sesuatunya benar atau salah, baik atau buruk, cantik atau jelek. Kita membuat cerita tentang bagaimana kita seharusnya. Kita menaruh kepercayaan dan cerita itu menjadi kebenaran bagi diri kita.

Sahabat, di balik semua pesan yang kita dengar sebagai anak-anak adalah pesan bisu yang tidak pernah terkatakan, tetapi kita bisa memahaminya: merasa tidak baik menjadi diriku atau aku tidak cukup baik. Di saat kita menyetujuinya, kita berhenti menjadi diri kita sendiri dan mulai berpura-pura menjadi yang bukan diri kita: hanya untuk menyenangkan orang lain, hanya untuk menyesuaikan perwujudan citra yang mereka buat untuk diri kita, menurut cerita mereka.

Sahabat, kita tidak akan pernah bisa menjadi yang bukan diri kita. Kita hanya bisa menjadi diri kita, dan hanya itu. Diri kita adalah diri yang sekarang ini, dan itu begitu mudah.

Sahabat, manusia dilahirkan dalam kebenaran, tapi kita tumbuh percaya pada kebohongan. Salah satu kebohongan terbesar dalam kisah kemanusiaan adalah kebohongan dari ketidaksempurnaan kita. Ini hanya sebuah cerita, tetapi kita percaya itu. Kita menggunakan cerita untuk menghakimi diri kita sendiri, untuk menghukum diri kita sendiri, dan untuk membenarkan kesalahan kita.

Sahabat, semua ciptaan Tuhan itu sempurna. Jika kita tidak melihat kesempurnaan pada diri kita sendiri, itu karena perhatian kita terfokus pada kisah kita. Kebohongan cerita menghalangi kita dalam melihat kebenaran. Tetapi, dengan kesadaran kita bisa mengubah cerita dan kembali kepada kebenaran. []

Disarikan dari The Voice of Knowledge, Don Miguel Ruiz.

(Visited 36 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.