Oleh: Ruslan Ismail Mage

Judul tulisan ini tidak ada kaitannya dengan merek dagang, atau brand pasar yang selama ini kita kenal, seperti keripik Palembang, keripik singkong, keripik bawang, keripik kentang, keripik pisang, keripik tempe, dan beberapa jenis keripik lainnya yang menggugah rasa. Namun, yang pasti keripik ini mampu membuat seorang gadis mematahkan konsep bahwa mengkonsumsi makanan bergizi seimbang berbanding lurus dengan tingkat kecerdasan seseorang.

Semakin rutin mengonsumsi makanan bergizi, semakin membuat kecerdasan meningkat. Sebagaimana yang dilansir dari laman situsĀ www.depkes.go.id, kecerdasan manusia sangat erat kaitannya denganĀ asupan gizi dan nutrisi. Sebaliknya, semakin rendah asupan gizi menyebabkan penurunan
kecerdasan seseorang.

Adalah seorang gadis remaja yang lahir dari pasangan ayah bekerja sebagai buruh tani dan ibu penjual gorengan membuka pikiran dan menyentuh jiwa kita. Sang gadis tangguh ini berdamai dengan kenyataan yang hidup dalam serba keterbatasan ekonomi. Ia tidak pernah mengeluh kepada kehidupan yang tidak memberinya kenikmatan dan keyamanan. Sejak lahir rupiah tidak bersahabat dengannya. Untuk melanjutkan hidup, dia membantu ibunya menjual gorengan di kampung.

Kondisi keterbatasan ekonomi orang tuanya tidak pernah mematikan api semangat jiwanya untuk mengarungi samudra ilmu pengetahuan. Kisah hidupmya ketika menjadi mahasiswa di UIN Bandung benar-benar membuka pikiran dan menyentuh jiwa. Membuka pikiran, karena menyadarkan kita betapa kunci kesuksesan seorang anak tidak tergantung dari sarana dan prasarana yang disediakan orang tua, tetapi dari tekad dan konsistensi memupuk semangat kerja keras untuk memuliakan dan membahagiakan orang tua. Membuka pikiran, bahwa kecerdasan seorang anak tidak selamanya ditentukan oleh asupan gizi makanan yang dikonsumsi (susu, buah-buahan, sayuran, ikan, telur, daging) sebagaimana layaknya anak-anak orang kaya, tetapi di tentukan kesyukuran menikmati makanan apa adanya tanpa mengeluh.

Hari-harinya sebagai mahasiswa menyentuh jiwa. Bahkan, saat menulis catatan ini, rasa empati membuat butiran-butiran kristal di sudut mata menggeliat ingin tumpah. Betapa kekurangan selalu membingkai hidupnya sebagai mahasiswa. Untuk membiayai kuliah, dia bekerja mencuci piring di rumah makan. Setiap pulang kampung ke Garut melepas rindu kepada kedua orang tuanya, ia selalu diberi bekal beras dan keripik untuk di bawa ke kota sebagai sumber energi dalam menjalani rutinitas sebagai mahasiswa di (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.

Sampai titik ini, penaku berhenti. Seluruh pancaindraku bertasbih membayangkan kesehariannya lebih tiga tahun kuliah hanya makan nasi ditemani keripik yang dibekali ibu dari kampung. Makan buah dan minum susu sebelum berangkat kuliah adalah kemustahilan bagi dara berhijab ini. Ketika teman kostnya berbagi memberi sebungkus mie instant , ia tidak langsung memasak semuanya. Mie itu dibagi dua. separuh dimasak, separuh kagu disimpan untuk makan berikutnya. Alasannya, dia takut kalau makan nanti tidak ada teman nasinya. Subhanallah.

Tuhan tidak pernah tidur. Kesabarannya berdamai dengan ketidakmampuan ekonomi orang tuanya, keikhlasannya menjalani hidup sebagai mahasiswa yang hari-harinya makan nasi hanya ditemani keripik, dibayar langsung tunai oleh Allah Swt.

Siti Rodiah, nama mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Bandung berhasil di yudisium cumlaude dengan IPK 3,71. Didampingi kedua orang tuanya, Siti dipanggil ke depan panggung untuk mendapatkan penghargaan dari Rektor UIN Prof. DR. H. Mahmud, M.Si sebagai mahasiswa inspiratif dan mendapat hadiah netbook serta beasiswa lanjut kuliah S2.

Selamat kepada Siti Rodiah. Keripik telah menjadi saksi kesuksesanmu di yudisium cumlaude.

*Akademisi, inspirator dan penggerak, founder Sipil Institute Jakarta.

(Visited 83 times, 1 visits today)
One thought on “Keripik Cumlaude”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.