Satu hati, satu jiwa
Takkan pernah terpisahkan lagi
Walau berjuta rintangan menghalang
Aku tetap milikmu

Ku yakini cinta kita
Takkan jadi penghalang yang berarti
Untuk mewujudkan impian kita
‘tuk selamanya ohhh..

Sudah lama tidak mendengar lagu ini. Tiba-tiba muncul di sisi kanan layar YouTube. Akhirnya, aku klik dan dengarkan lagunya. Ya, mendengarkan saja, karena aku tidak fokus pada videonya, hehe…

Betul juga, kalau cinta jangan marah. Mungkin kita pernah mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi. wajar sih, setiap hubungan memiliki pasang surut. Tetapi, kemarahan dalam suatu hubungan benar-benar dapat memakan korban, lho!

Jika kita merasa selalu mencari sisi negatif dari pasangan, kita mungkin sedang menghadapi beberapa masalah kemarahan. Namun, ada cara untuk melawan amarah dan bekerja sama dengan pasangan demi hubungan kita. Iya, demi hubungan kita, sayang…

Gemana tuh caranya?

Pertama, menjauhlah dari situasi. Ambil jeda dari apa pun yang membuat kamu marah. Kamu bisa pergi ke ruangan lain atau bahkan berjalan-jalan di luar. Jika aku ada di sekitarmu, mintalah aku memberi kamu waktu beberapa menit untuk mengumpulkan pikiran sebelum kita berdua berbicara lagi. Saat sendirian, kamu bisa berusaha menenangkan diri dan memikirkan apa yang ingin kamu katakan padaku selanjutnya, oke?

Ini adalah teknik yang bagus untuk digunakan selama argumen atau perkelahian besar. Memberi aku dan kamu jarak satu sama lain, memungkinkan kita mengumpulkan pikiran tanpa emosi mengaburkannya.

Kedua, ambil napas dalam-dalam. Fokus pada bernapas masuk dan keluar perlahan. Jika kamu merasa diri kamu mulai marah, tarik napas dalam-dalam melalui hidung, lalu keluarkan melalui mulut. Lakukan ini 5 sampai 10 kali sampai kamu merasa dirimu lebih tenang, ya?

Bernapas dalam-dalam juga membantu memperlambat detak jantungmu, yang dapat membantu menghilangkan beberapa gejala fisik dari kemarahan yang ekstrem. Latih napas dalam-dalam saat kamu tidak marah sehingga kamu tahu persis bagaimana melakukannya saat kamu mulai kesal padaku.

Ketiga, berpikirlah sebelum berbicara. Kumpulkan pikiranmu untuk mencegah kemarahan mengambil alih. Meskipun mungkin terasa mudah dan menyenangkan untuk mengungkapkan semuanya, kamu bisa saja akhirnya mengatakan sesuatu yang kamu sesali. Jika reaksi awal kamu adalah kemarahan yang ekstrem, berhentilah sejenak sebelum mengatakan sesuatu dengan keras kepadaku.

Jika kamu tidak mengatakan apa-apa, beri tahu aku bahwa kamu sedang memikirkan apa yang akan akan kamu katakan selanjutnya. Tidak apa-apa, aku akan memberimu waktu sejenak untuk mengumpulkan pikiran sehingga kamu tidak mengatakan sesuatu yang akan kamu sesali.

Keempat, waspadai tanda-tanda peringatan kemarahanmu. Kamu bisa menangkap kemarahan sebelum menjadi masalah. Jika kamu menyadari bahwa kamu mulai marah, kamu dapat menggunakan mekanisme koping untuk menenangkan diri atau beristirahat sejenak.

Kemarahan dapat menyelinap pada dirimu, tanda-tandanya tangan atau rahang terkepal, ketegangan otot (seperti bahu), merasa memerah (warna kulit ya? bukan memerah susu), pernapasan lebih cepat, sakit kepala, mondar-mandir sebagai peningkatan kebutuhan untuk bergerak, dan jantung berdebar. Kalau begitu, aku tahu biasanya kamu sedang marah.

Kelima, ulangi kalimat yang menenangkan. Gunakan kata atau frasa untuk mengingatkanmu agar tetap tenang. Kamu dapat mencoba sesuatu seperti, “santai” atau “aku tenang”. Saat kamu melihat kemarahan mulai meningkat, ulangi kalimat itu dengan keras atau di kepalamu untuk menenangkan diri. Kamu juga dapat menggunakan frasa ini sebagai pemicu untuk membantumu kembali tenang. Nggak apa-apa kok, aku maklum.

Yang keenam apa? Besok lagi ya, sayang? Eh, sampai di mana tadi lagunya?

Kalau cinta jangan marah
Jangan ragukan cintaku
Ku tak mau kau membisu
Marilah kita bicarakan

Kalau cinta jangan marah
Aku takut orang lain
Yang mencuri hatiku dari sisimu

Kalau cinta jangan marah.

[Bersambung]

(Visited 68 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

One thought on “Kalau Cinta Jangan Marah (Bagian 1)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.