Kamu tahu? Belakangan ini, setiap pagi aku merenung ditemani secangkir kopi. Kamu itu seperti kopi tubruk. Permukaanya kasar, tetapi ketika aromanya dicium dan dihirup lebih dalam, mengapa aku jadi tidak bisa melupakanmu?
Kadang aku menambahkan gula, tetapi tidak terlalu manis. Ingat saat awal kita melakukan pendekatan? Aku bilang tidak mau terlalu manis, apalagi ditambah kepalsuan. Apa adanya saja.
Kadang aku membuatnya tidak terlalu pahit. Berapa tahun kamu menungguku? Ya, meskipun kamu berkata bahwa kita terlambat dipertemukan, jangan sampai hidup semakin pahit karena kemudian kita saling melewatkan.
Jangan khawatir, kopi tidak pernah memilih siapa yang layak menikmati. Di hadapan kopi, kita semua sama. Ini hanya masalah waktu.
Kamu tahu? Biji-biji ini tidak akan memberi citarasa kopi yang sama di tangan barista yang berbeda. Begitu pula dengan kisah kita. Kamu dengan dia dan kamu saat ini bersamaku, kisahnya akan berbeda. Why so worry?
Bukankah kita sudah memilih? Karena itu, ikuti setiap langkah kaki, rekatkan jemari, dan kita berjalan bergandengan. Pegang tanganku, tetapi jangan terlalu erat. Aku ingin berjalan seiring, bukan digiring.
Jadilah seperti kopiku pagi ini. Walau sendiri, memberi ketenangan dan inspirasi tanpa henti. Hingga suatu hari rindu ini teratasi. []
