Era digital, terlebih lagi era medsos, memang membawa perubahan lanskap yang cukup siginifikan pada peta kebudayaan. Dulu, tidak semua orang bisa “berbicara”. Sekarang, mulai profesor yang bersin saja pakai metode yang sangat saintifik, sampai penganggur yang belum pernah pegang buku seumur-umur, bisa sama-sama bersuara.
Iqbal Aji Daryono – detikNews
Sebuah buku yang menarik untuk di baca, kebiasaan saya buku yang dibeli simpan di mobil, biasanya nanti ada waktu luang saya sambar salah satunya, yang incaran tadi pagi buku, MATINYA KEPAKARAN, dibeli sebelum pandemi covid, di salah satu toko buku disekitaran pintu satu unhas, (sebut toko buku Rausyan Fikrr makassar), dari judulnya menarik, plastik pun di robek, kopsus dan pisgor sudah tersedia untuk menemani mendaras buku ini, Bismillah hasil bacaan sudah dapat berbarengan menipisnya kopsus titisan terakhir memperlancar proses masuknya pisgor di lambung.
Rangkuman isi buku ini, saya ramu untuk, sebuah komitmen one day one note, di Bengkel Narasi, semoga utas ini dapat menyebar dari berbagi BN super.
Sebagaimana kita tahu buku Matinya Kepakaran merupakan hasil Karya Tom Nichols. Dapat diprediksi bahwa buku ini berangkat dari keresahannya melihat bagaimana orang-orang dari “tidak mendapat informasi” menjadi “salah informasi”. Pencarian informasi akan menampilkan hasil sesuai dengan algoritmanya. Ukuran dan volume internet yg besar, memungkinkan adanya informasi buruk yang mengelilingi informasi yang baik. Artinya, dua jenis informasi tersebut tidak bisa dipisahkan hanya dengan mengandalkan internet.lewat Prof. Dr. Google. Com. Kita tidak bisa menganggap sudah melakukan penelitian hanya dengan menuliskan kata kunci di mesin pencari guru besar Google. Alih-alih mengedukasi, banjir informasi yang beragam justru bisa menempatkan kita dari di posisi tidak tahu menjadi keliru bahkan Sok tahu (SOTTA,istilah anak makassar) dan bukan melahirkan pakar (ahli) tapi jadi pakarENA ( penari bahasa makassar), menari nari pendapatnya. Semakin banyak mengklik portal informasi, semakin kita merasa sudah mengerti. Padahal kita ada dalam situasi salah mengartikan pengetahuan yg didapat dari luar sebagai pengetahuan internal. Jadilah generasi instan, Proses bertambahnya pengetahuan seperti ini memberikan tantangan bagi seorang ahli (pakar bukan pakarena)
Dalam memproses yang ada di internet melibatkan peran aktif kita sebagai pembaca. Tidak seperti ensiklopedi yang merupakan hasil kerja kolektif, pengguna bisa mengawasi setiap entri dan membersihkan kesalahan dan bias. Bermain mesin pencari tidak serta merta membuat kita ahli. Outputnys ahli juga tapi Ahli copas
Bahkan penulis menyrbut “Kadang-kadang,” tulis Tom Nichols, “manusia perlu berhenti dan merenung, memberi waktu untuk menyerap dan mencerna informasi.”Sebagaimana ditengarai Tom Nichols di buku ini MATINYA KEPAKARAN (Kepustakaan Populer Gramedia, Desember 2018)
Kita sepatutnya bertanya, dengan keberlimpahan informasi di internet yang tinggal klak-klik, kenapa masih ada orang yang punya pandangan yang tidak layak, bahkan hoaks,
Yang lebih ironis, pandangan keliru itu justru makin dikuatkan dengan hasil pencarian mereka di dunia maya. Internet yang kita kira sumber informasi tanpa batas yang berguna memberi pencerahan dan hidup lebih baik ternyata punya sisi buruk yang fatal, Era teknologi dan informasi tidak hanya menciptakan lompatan pengetahuan, tapi juga memberi jalan dan bahkan memperkuat kekurangan umat manusia. Internet justru jadi sarana menyerang pengetahuan yang sudah mapan. Internet jadi sumber sekaligus sarana tersebarnya informasi bohong hoaks.
Selanjutnya Nichols menganalogikan internet dengan Hukum Sturgeon yang mengatakan, “90 persen dari semua hal (di dunia maya), adalah sampah.” Orang bebas mengunggah apapun di internet, sehingga ruang publik dibanjiri informasi tak penting dan pemikiran setengah matang.
Internet mengizinkan satu miliar bunga mekar, namun sebagian besarnya berbau busuk, mulai dari pikiran iseng para penulis blog, teori konspirasi orang-orang aneh, hingga penyebaran informasi bohong oleh berbagai kelompok.
hal. 130-131)
Tambahan pula, internet bukan hanya membuat kita makin bodoh, tapi juga lebih kejam. Di dunia maya sebagian dari kita tak ingin menguji informasi, berdiskusi dan berdebat sehat, tapi mengecilkan opini orang lain yang berbeda, menghina, dan menyerang.
Internet, termasuk mesin pencari dan medsos di dalamnya, sejatinya cuma alat. Ibarat pisau, bagi dokter bedah pisau berguna untuk menyembuhkan pasien, sedangkan bagi penjahat pisau berguna untuk membunuh korban. Selamat bersktifitas. Pakailah logika kepakaran kita dengan nalar positif. Tetap membaca buku sebagai sumber ilmu pengetahuan,
Salam literasi.
MATINYA KEPAKARAN
Penulis: Tom Nichols
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: Cetakan I, Desember 2018
Halaman: 320 halaman
Buku ini sangat recomended untuk di baca
Sumber:
1). Matinya Kepakaran (Tom Nichols, 2018)
2).https://www-gramedia-com.cdn.ampproject.org/v/s/www.gramedia.com/blog/review-buku-matinya-kepakaran-tom-nicholscermin-perilaku-kita-di-dunia-maya/amp/?amp_js_v=a6&_gsa=1&usqp=mq331AQHKAFQArABIA%3D%3D#aoh=16220726891764&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&_tf=Dari%20%251%24s&share=https%3A%2F%2Fwww.gramedia.com%2Fblog%2Freview-buku-matinya-kepakaran-tom-nicholscermin-perilaku-kita-di-dunia-maya%2F

Betul sekali pak Sudirman. Jika kita mencari suatu informasi di mesin pencari (google misalnya) maka akan ada ratusan ribu atau bahkan jutaan “jawaban” yang diberikan, ada yang akurat ada pula yang sama sekali bukan yang kita harapkan…