Setiap karya buku akan menarik penulisnya bertahta di puncak intelektualitas publik.

Ruslan Ismail Mage

Quote ini muncul sebagai keyakinan bahwa, “Menulis buku adalah kerja intelektual dan kerja cerdas.” Disebut kerja intelektual karena menulis buku adalah kerja orang berilmu, bukan sekadar berpengetahuan. Memiliki keberanian mental dan kepercayaan diri berbagi gagasannya ke ruang publik untuk dibaca, ditelaah, sekaligus dikritisi.

Disebut kerja cerdas, bukan sekadar kerja pintar. Terlalu banyak orang pintar, tetapi belum bisa menulis buku. Sesungguhnya cerdas dan pintar punya selisih harga relatif jauh. Orang pintar hanya menggunakan “logika” berpikir menyelesaikan masalah dan menangkap peluang. Sementara orang cerdas di samping menggunakan logika berpikir juga menggunakan seluruh pancaindranya untuk menyelesaikan masalah dan menangkap peluang.

Menulis buku di samping menggunakan logika berpikir juga butuh daya jelajah imajinasi, daya kepekaan rasa, daya sorot penglihatan, daya serap ingatan, dan daya deteksi pendengaran. Butuh kepercayaan diri menyebar gagasan dan keberanian mental dikritik di ruang publik.

Itulah yang sering didiskusikan di komunitas menulis Bengkel Narasi (BN) bahwa, “Tulislah apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Lalu, biarkan tulisannya berjalan sendiri menemui pembacanya di ruang-ruang publik.”

Salah seorang anggota aktif komunitas menulis Bengkel Narasi yang memaknai dan menerapkan dalam kehidupannya adalah sang penulis buku ini, Andi Akbar Herman. Selama kurang lebih enam bulan, pemuda visioner ini terus merekam dalam bentuk narasi tulisan tentang “apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan.”

Sebagai akademisi muda tidak jarang memberi sentuhan teori keilmuan dalam memperkaya tulisannya. Sebagai advokat penyuara keadilan, beberapa tulisannya mengupas rasa keadilan yang terkadang terkoyak dalam kehidupan sosial. Sebagai aktivis literasi, penanya selalu mengapungkan membaca dan menulis sebagai satu-satunya jalan membangun sumber daya manusia unggul.

Sebagai putra daerah, penanya terus bergoyang mengikuti irama alam di sudut-sudut kampung dalam mencerdaskan anak-anak negeri yang jauh dari fasilitas pendidikan yang memadai. Ia melintasi batas-batas kampung terpencil, naik dan turun gunung, berjalan kaki berkilo meter, terbakar terik matahari, basah kuyup kehujanan, adalah irama perjuangannya untuk sampai ke titik saran dalam menyebar pendidikan gratis kepada anak-anak negeri.

Semua pengembaraan jiwanya dalam memeluk kemanusiaan, mengurus kehidupan, dan berbagi ilmu, terekam dalam buku inspiratif ini. Buku yang akan menjadi warisan literasi tidak ternilai harganya kepada generasi berikutnya.

Akhirnya, dari rumah jiwa di angkasa Bengkel Narasi, saya mengucapkan selamat kepada Adinda Andi Akbar Herman atas terbitnya karya ini. Saya yakin Kolaka Utara akan bangga memilikimu, sebagaimana kebanggaan kami bersamamu di komunitas menulis Bengkel Narasi.

Jakarta, April 2022
Salam pena tanpa limit,

Ruslan Ismail Mage
Inspirator dan Penggerak, Founder Sipil Institute, Founder Bengkel Narasi, dan Founder Pena Anak Indonesia

(Visited 49 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.