Oleh: Ghinda Aprilia

Masih teringat beberapa tahun lalu berita 2 WNI dibunuh seorang bule? Beritanya begitu santer. Waktu itu saat ada pengajian Kang Deni Aden di Houtung School, aku sempat nyeletuk sama beliau saat rehat.

“Kang, terkadang aku sedih yang dimuat malah berita-berita  miring macam ini, daripada berita negatif lebih banyak yang positif.”

“Iya teh aturan Teh Ghinda nih yang layak diangkat ke dalam berita ini.” Jawab Kang Deni antusias.

Bicaralah yang baik-baik, karena itu bisa sebagai doa. Beberapa bulan kemudian, benar juga kisahku dimuat koran Berita Indonesia. Tidak lama ketemu lagi Kang Deni saat aku tugas negara di Sugar Street.

“Kang, terima kasih ya doanya, beneran juga nih kisahku ditulis BI.”

“Alhamdulillah Teh, semangat ya, berkah tuk semuanya, Aamiin,” Kang Deni menimpali ucapanku dengan sumringah.

Di hari Minggu sudah aku niatkan waktu libur untuk umat. Karena merasakan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, ketika hidup ini bisa berarti untuk orang yang membutuhkan. Ya, sejak tahun 2010, waktu liburanku aku gunakan untuk ngencleng (mencari dana) dari teman-teman PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang ada di Hongkong. Bismillah, walau tenagaku tidak sekuat beberapa tahun yang lalu tidak menyurutkan niatku untuk tetap menjalankan rutinitas ini, semampunya tetap aku lakukan.

Diawali pagi hari, aku harus beres keadaan rumah, rapi, bersih, lalu menyiapkan barang-barang yang mau aku bawa berlibur. Sudah beberapa bulan ini aku usahakan untuk masak sendiri, dengan alasan selain bersih, hemat, juga aku tidak tega kalau harus makan sendirian. Mungkin faktor usia dan banyak macam barang yang harus aku bawa, terkadang masih ada yang kelupaan tidak terbawa. Barang-barang pribadi yang penting seperti Safencing (KTP), Octopus, duit aku taruh di tas. Baju-baju buat salin aku taruh di   ransel, sedangkan makanan aku taruh di Troli yang biasa aku gunakan ke pasar. Troli penuh kanan kiri masih aku cantelin jerigen air dan kotak amal. Ha ha pantaslah dipanggil “Mak Rempong.”

Di hari liburku seperti biasa ngencleng di sekitar Causeway Bay, jika dulu cukup berdiri di depan Bank Mandiri, sekarang harus keliling. Dulu mencari bisa disambi dengan mengedarkan majalah-majalah islam tetapi sekarang seiring berjalannya waktu kalah dengan maraknya internet, buku atau majalah sudah tidak berlaku lagi. Ya  benar, seperti yang pernah disampaikan bapak Antonius Tanan saat aku ikut pembelajaran di Ciputra dan Bank Mandiri (Mandiri Sahabatku), “Nanti peran buku akan kalah dengan internet.”

Suka duka tentu ada, sukanya ketika pulang menghitung hasil galang dana, kebahagiaan di hati tak terukir dengan kata-kata. Dukanya, tentu tidak semua orang percaya dengan langkahku, yang mencibir juga ada, bahkan yang blak-blakan disama-ratakan dengan pencari dana lain juga. Belum lagi teman seperjuangan yang iri dengan kegiatan ini, tetapi aku tidak mau ambil pusing, masih banyak hal-hal positif yang bisa aku lakukan.

Di mataku, rasa solidaritas teman-teman PMI Hongkong luar biasa, terlebih jika ada bencana di Indonesia, dari semua komunitas bahu membahu menggalang dana tanpa dikomando.

Selain keliling aku juga ikut menyemangati teman-teman seperjuangan di KMF (Katalis Madani Filantropi). Biasanya sebulan sekali kami mengadakan pengajian, doa bersama, (apalagi saat pandemi ini banyak anggota keluarga yang meninggal dunia)  di samping mereka fundraising. Sabtu malam minggu kami pengajian rutin online via zoom.

Pertama kali membuat group ini dengan modal nekad. Satu-satu aku chat, Alhamdulillah, direspon. Volunteer ini didominasi teman-teman zaman canvasing team Tsim Tsa Shui. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu,  group ini bertambah personilnya. Terharu manakala melihat jumlah donasi yang kami salurkan ke daerah-daerah bencana. Kalimantan, Lumajang (Semeru), Nusa Tenggara Barat (banjir Lombok), Malang, Palestina juga kami menyalurkan donasi beasiswa dan guru ngaji.

Kami bahu membahu berbagi tugas tanpa harus dikomando, mereka merelakan waktu liburnya untuk menggalang dana. Di sore hari setelah keliling kami menghitung hasil penggalangan dana, jika sudah terkumpul baru kami salurkan kepada yang berhak atau tergantung akadnya.

Gundah gulana, sedih , bingung, galau hilang jika berada di komunitas ini, karena selalu ada bahan candaan yang bisa membuat kita ketawa. Bersyukur dari mereka menyadari jika itu hanya sekedar guyonan, sekalipun ledekan tidak ada yang diambil hati.

Kami makan seadanya dari bekal yang kami bawa. Aku biasakan memasak karena selain bersih juga tidak tega rasanya harus makan sendiri, sementara kalau beli banyak tentu perlu merogoh kocek yang banyak.

Lelah itu menjadi Lillaah, rasa capek pun sirna seharian dari pagi hingga malam hari berada di luar rumah. Pukul 21.00 biasanya aku dan teman-teman meninggalkan Causeway Bay.

Berkahi langkah kami ya Rabb, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk umat-Mu.

(Visited 63 times, 1 visits today)

By Ghinda Aprilia

Sebaik-baik hidup bisa berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

2 thoughts on “Mak Rempong”
  1. Manini, punten masih di eja-eja, ini juga tulisan beberapa bulan lalu tergeletak dicatatan. Sehat terus Manini, gak berani minta kritik Manini sakit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.