ketika dua orang atau lebih berwicara dalam suatu diskursus, mereka hendaknya saling memahami terlebih dahulu sebelum sampai pada hal-hal lain. … Habermas kemudian merumuskan norma-norma kritis yang disebutnya sebagai ‘syarat-syarat wicara ideal‘ (ideal speech situations).
Habermas
Jürgen Habermas (1929-sekarang) seorang filsuf lintas zaman yang usianya telah mencapai 90 tahun & masih produktif membahas isu2 kontemporer. Bahkan ia masih sempat mengulas panjang lebar sejarah filsafat & agama dalam buku setebal 1.700 halaman yang terbit tahun lalu.
Prolog.
Penentu waktu, menunjukkan 06.30, waktu komp. Unhas kota Makassar, dan sekitarnya saatnya joging disekitaran jl. Hukum, perdata, kedokteran menyusur lapangan sepak bola kompleks, terbayang beberapa tahun lalu sebelum covid 1, ruang ruang publik ramai saling bercanda, ahhh itu dulu. Pandemi COVID-19 memberi kejutan tentang kesadaran kita akan eksistensi ruang publik. Sekarang kita sedang menyaksikan bahwa ruang publik (dan pertemuan publik) telah menjadi tempat yang menakutkan dan berbahaya. Ruang publik (dicurigai) menjadi tempat orang yang membawa virus corona baru dan menftransfer ke orang lain, ketakutan terbesar pada pembawa yang virus. Penyakit ini mengancam siapapun, dan akan fatal pada mereka rentan.
Ruang dan pertemuan publik ini ada di pasar dan pusat belanja, kantor dan bengkel kerja, terminal dan transportasi umum, warung, rumah makan, acara pernikahan, dan tempat-tempat lain di mana pertemuan manusia dalam jumlah besar terjadi.Tempat-tempat itu, yang diisi oleh aktivitas keseharian kita di hampir seluruh muka bumi ini, menjadi tempat menyebarnya virus yang mematikan. Ada kengerian melihat ruang publik kita karena pandemi ini. sementara dan digantikan dengan layanan online. Hari ini kami ada kegiatan zoom bedah naskah di rumah besar Bengkel Narasi. Sebelum terlibat mendengar ilmu dari para tentor, masih ada waktu sejenak membuka buku, dan yang jadi pilihan saya adalah buku ruang publik Jürgen Habermas sebagai sarapan pagi sekaligus judul untuk tulisan pagi ini one day one note.
Mari menyimak pemikiran tokoh Jürgen Habermas:
Habermas merupakan seorang filsuf Jerman terpenting pada paruh kedua abad ke-20. Ia lahir pada 8 Juni 1929 di Düsseldorf dan tumbuh besar di Gummersbach, Jerman.
Pada usia 10 tahun, ia bergabung dengan gerakan Pemuda Hitler dan pernah dikirim bertempur di Front Barat di usia 15 tahun. Kalau ingin tahu gimana anak-anak Jerman yang polos didoktrin Nazi, tonton deh film komedi satir Jojo Rabbit.
Habermas melanjutkan pendidikan menengahnya dan kuliah di Universitas Bonn, Göttingen, dan Zürich. Di Bonn ia menerima gelar Ph.D filsafat tahun 1954 dengan disertasinya tentang filsuf Friedrich Schelling.
Selama menjadi mahasiswa pascasarjana, ia tertarik dengan eksistensialisme Heidegger. Habermas membaca ulang Pengantar Metafisika (1953). Namun ada yang mengganjal di pikirannya, ia menemukan kalimat “inner truth and greatness” yang dipakai untuk membela Nazi.
Tumbuh di era kegilaan Nazi dan berakhir kekalahan, Habermas adalah generasi pasca-perang yang skeptis melihat kegagalan moral dan politik Jerman. Membaca pernyataan Heidegger yang masih memberi ruang pada Nazi, membuatnya tak habis pikir dan mengecam Heidegger.
Selain itu, Habermas menjadi semakin yakin bahwa tradisi filosofis Jerman gagal bersikap kritis terhadap Nazi. Ini juga yang kemudian memotivasi Habermas mempelajari pemikiran di luar tradisi Jerman dan bergabung dengan sejumlah intelektual muda generasi pasca-perang.
Selama 1956 sampai 1959, Habermas merapat ke Institute for Social Research alias Sekolah Frankfurt dan menjadi asisten Theodore Adorno. Di sinilah Habermas bersinggungan langsung dengan para pencetus teori sosial kritis.
Di Sekolah Frankfurt, Habermas bersama Adorno dan Horkheimer melibatkan diri ke dalam gerakan mahasiswa kiri Jerman. Habermas mendapat reputasi sebagai pemikir baru yang diharapkan melanjutkan tradisi pemikiran Neo-marxis Sekolah Frankfurt generasi pertama.
Ketika mahasiswa kiri mulai melancarkan aksi kekerasan pada tahun 1970-an, Habermas tidak setuju. Ia mengkritik dengan menyebut sebagai revolusi palsu, sedangkan mahasiswa membalas dengan menyebut Habermas sudah melalaikan kewajibannya.
Sebelum mengambil jarak dengan gerakan kiri mahasiswa, Habermas telah menyelesaikan gelar doktor keduanya di Universitas Marburg pada 1961. Karyanya yang sudah dirintis sejak di Sekolah Frankfurt berjudul Transformasi Struktural Ruang Publik terbit pada tahun 1962.
RUANG PUBLIK
ruang publik memiliki peran yang cukup berarti dalam proses berdemokrasi. Ruang publik merupakan ruang demokratis atau wahana diskursus masyarakat, yang mana warga negara dapat menyatakan opini-opini, kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan mereka secara diskursif.
Jürgen Habermas
Konsepnya tentang ruang publik mendapat perhatian luas baik di Jerman maupun di luar negeri. Mari membahas secara umum tentang ruang publik Habermas.
Menurut Habermas, ruang publik adalah ruang yang mandiri yang terpisah dari negara dan pasar. Tempat di mana masyarakat saling berdiskusi secara rasional dan kritis terhadap kekuasaan. Aksesnya dijamin untuk semua warga serta bebas dari sensor dan dominasi.
Habermas melacak akar historis dan sosiologis kemunculan ruang publik dari Abad Pertengahan. Kekuasaan feodal (raja, gereja, bangsawan) sangat kuat. Mereka menampilkan diri sebagai kekuatan tertinggi sekaligus representasi dari rakyat. Tidak ada ruang publik yang ideal di sini.
Baru di abad ke-18, kekuasaan feodal terurai menjadi unsur-unsur privat dan publik. Agama bukan urusan publik, kaum ningrat terpisah dari militer dan birokrasi. Masyarakat berada di ruang privat yang berdiri berseberangan dengan otoritas negara.
Bangsawan dan intelektual bertemu membahas sastra. Obrolannya merembet ke masalah politik. Diskusi dan perdebatan terjadi di kedai kopi, kelab, salon, dan komunitas-komunitas. Di sinilah ruang publik terbentuk dalam iklim masyarakat borjuis abad ke-18.
Diskusi semakin lancar seiring dengan perkembangan media massa. Surat kabar mulai menampung opini publik yang dihasilkan dari diskusi di ruang publik. Pers menjalankan fungsinya sebagai ruang publik. Hematnya, kegiatan kaum borjuis ini memenuhi syarat terbentuknya ruang publik.
Bagaimanapun ruang publik borjuis tetap mengandung aspek ideologis. Ruang publik yang ideal tidak bisa diterapkan di negara-negara kesejahteraan (welfare state) abad ke-20. Transisi kapitalisme dari liberal ke monopoli membuat ruang publik kehilangan fungsi kritisnya.
Ide ruang publik yang berkaitan dengan rasionalisasi kekuasaan melalui diskusi publik di antara orang-orang privat terancam disintegrasi. Ruang publik menjadi arena persaingan kepentingan, kompetisi dan mengambil bentuk konflik kekerasan serta mengarah ke refeodalisasi.
Diagnosis Habermas memang terdengar pesimis dalam meratapi matinya ruang publik. Ini tampak sejalan dengan pemikiran Dialektika Pencerahan (1944) yang dicetuskan gurunya di Sekolah Frankfurt. Bahwa proyek pencerahan yang menumbuhkan kesadaran kritis justru tidak terwujud.
Kapitalisme, birokratisme & teknokratisme menjadi aktor dalam menumpulkan kesadaran kritis. Membuat individu bersifat adaptif terhadap sistem & tunduk pada konsumerisme.
Hal itulah yang memunculan dialektika pencerahan, bahwa kita sebagai makhluk rasional sebenarnya tidak pernah berhasil mencapai rasionalitas.
Lagi pula, jauh sebelum bergabung dengan Sekolah Frankfurt, Habermas sudah membaca karya-karya Horkheimer dan Adorno pada 1930-an termasuk Dialektika Pencerahan (1944) yang membuat Habermas tertarik mempelajari dialektika.
Namun Habermas punya harapan besar bahwa proyek pencerahan bisa berlanjut dengan membangkitkan rasionalitas publik lewat dialog dengan menerbitkan pemikirannya berjudul Teori Aksi Komunikatif pada 1981.
Tentu konsep ruang publik Habermas telah mendapat kritik dan memantik diskusi menarik dari berbagai pemikir hingga saat ini. Secara umum karya Habermas sangat mempengaruhi banyak disiplin ilmu, seperti komunikasi, kajian budaya, teori moral, hukum, sastra, filsafat, politik, dll.
Ohiya, Habermas juga aktif terlibat gerakan menentang nuklir di Eropa (akhir 1950 & awal 1980-an), mengingatkan bahaya nasionalisme Jerman setelah penyatuan Jerman 1989-90, menentang Perang Irak (2003) dan masih banyak lagi!
Referensi Sunting
1. Menuju Masyarakat Komunikatif: Ilmu, Masyarakat, Politik dan Postmodernisme menurut Jurgen Habermas (Hardiman, F.B.)
2. Kritik Ideologi: Menyikap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan bersama Jurgen Habermas. (Hardiman, F.B.)
3. Habermas, J. ‘The Public Sphere: An Encyclopedia Article (1964)’, New German Critique 3 (Autumn/1974): 49.
4. https://t.co/O5DR4z2A1h
5. https://t.co/EuHNmAmwWm
6.Konten oleh @tonyfrmn
