Waktu menunjukkan sekitar pukul sebelas malam. Aku yang sudah sangat mengantuk tidak tahu kalau suamiku pulang. Aku terbangun mendengar pintu kamar dibuka.

Melihatku terbangun, suamiku pun berkata, “Ma, besok takziah ke rumahnya Pak So. Pak So meninggal.”

“Pak So siapa?” sahutku datar.

“Pak So itu lho, tetangga sebelah.” kata suami menjelaskan.

“Innalilahi wa innailaihi rojiun! Pak So meninggal? Kapan? Kenapa?”

Aku yang terkejut seolah tak percaya dengan berita ini. Padahal, kemarin terlihat masih sehat bugar.

“Meninggal barusan sekitar pukul delapan, terpeleset ketika dia mau ambil wudu untuk salat isya. Ini aku juga baru pulang takziah bersama teman-teman!” sambung suamiku.

Panggil saja Pak So, tetangga sebelah. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Berperawakan sedikit gemuk dan orangnya ramah. Sering sekali aku berjumpa dengannya di sawah. Meskipun dia tidak terlalu paham dengan bahasa ngapak, tetapi dia sering bercanda denganku menggunakan logat jawa ngapak. Dia tahu kalau aku berasal dari Cilacap yang terkenal dengan bahasa ngapaknya.

Biasanya sepulang dari sawah, dia selalu berjalan melewati depan rumahku. Aku yang sudah hafal sudah bisa menebak siapa yang lewat. Dia selalu membawa radio kecil atau ponsel.

Selalu berselawat dan berzikir di setiap langkah yang dilaluinya. Berelawat dengan irama musik di ponsel atau radio kecilnya. Pak So, seorang pensiunan guru yang tidak merasa gengsi bekerja di sawah, berkubang dengan lumpur. Selalu murah senyum dan menyapa setiap berjumpa dengan orang.

Selamat jalan Pak So. Engkau dipanggil oleh sang pencipta ketika akan menunaikan perintah-Nya. Semoga Allah Swt menempatkanmu di sebaik-baik tempat disisi-Nya. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu. Semoga husnul khatimah, amiin.

(Visited 32 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sarmini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.