Sore itu aku mampir ke tempat Ibu dan Bapak. Tidak terasa, azan Magrib pun berkumandang.
“Bu, apa lagi yang belum sedia untuk lebaran?” tanyaku sambil menikmati satu cup bubur sumsum campur cendol dan candil. Enak sekali rasanya, pikirku. Bukan hanya di bulan Ramadan, penjualnya memang setiap hari lewat. Jadi, tidak diragukan lagi rasanya.
“Ah, udah siap semua. Tinggal pesan daging aja satu kilo sama si ibu tukang sayur,” jawab Ibu.
Mungkin karena sudah lansia, tahun ini Ibu tidak membuat kue lebaran. Kalaupun buat, pasti tidak akan ada yang makan. Akhirnya, dibagi-bagikan ke tukang sampah, tukang ojeg, atau siapa pun yang lewat.
Pun urusan hidangan lebaran. Tahun ini, Ibu tidak akan banyak memasak. Untuk opor, rendang, dan sejenisnya, Ibu ikut ke kakak ipar saja, ngasih uangnya. Untuk konsumsi berdua dengan Bapak, cukup memasak rawon. Kebetulan Bapak asli Jawa Timur dan suka kangen makan rawon.
Tadi pagi, aku sempatkan lagi mampir. Kebetulan ada kakak ipar dan keponakan.
“Nek, Ali pamit dulu kembali kerja.” Keponakanku mencium tangan Ibu.
“Itu rambutnya dipotong atuh,” kataku saat Ali pamit padaku.
“Nanti aja, Mang, kalau udah deket tanggalnya,” jawab Ali.
Iya sih, keponakanku memang akan menikah tanggal 22 Mei nanti. Seragam keluarga bernuansa merah maroon sudah disiapkan. Namun, gamis punya Ibu baru akan selesai dijahit H-4 lebaran.
“Yan, Ibu mah pengen dicariin kerudung instan yang lebar warna begini. Nggak bisa pakai kerudung kotak mah.” Ibu memperlihatkan kerudung kotak warna merah maroon yang agak-agak sparkling milik kakak ipar sebagai contoh.
“Oh iya, nanti siang ya, Bu? Iyan mau ke kantor pajak dulu.”
Aku pun izin ikut ke toilet. Setelah itu, aku sempatkan membuka WhatsApp, mengecek pesan-pesan yang masuk.
“Selamat pagi Kang. Buat nambahin beli kue lebaran ya, Kang? Salam sehat.”
Kuunduh file fotonya. Foto kertas struk bukti transfer, nominalnya tertera jelas. Pengirimnya seorang penulis yang bukunya segera terbit Mei ini. Meskipun nomor ISBN sudah ada, kami tunda jadwal pencetakan buku setelah lebaran saja.
Masya Allah, Aku tidak menduga akan mendapat transferan tersebut. Mataku mulai basah. Seketika itu aku ingat kutipan yang dibagikan oleh Bang RIM melalui akun media sosialnya kemarin. “Penuhi kebutuhan orang tua. Biar Tuhan yang penuhi kebutuhan kita.“
“Ingat, kalau ngasih untuk orang tua jangan yang abal-abal!”
Pesan seorang sahabat sejati itu selalu terngiang-ngiang di telingaku. Aku pun memarkirkan kendaraan di sebuah outlet busana muslim yang paling besar di kota ini.
Banyak sekali orang yang berbelanja. Mau pilih-pilih sendiri, nggak ngerti juga tentang kerudung. Akhirnya, aku meminta bantuan pramuniaga yang bertugas.
“Mohon menunggu sebentar ya, Pak? Saya selesaikan dulu pembelian Ibu ini,” jawab gadis cantik berhijab ungu rapi.
“Iya, nggak apa-apa.” Urusan SPT pajak sudah beres kok. Jadi, aku tidak terburu-buru.
“Untuk acara kondangan, yang ini bagus, Pak. Warnanya juga cocok. Untuk ukuran besar, saya ambil dulu stoknya di gudang belakang. Sebentar ya, Pak?”
Aku sih setuju saja. Tidak lama kemudian, gadis cantik itu kembali dan menyerahkan shopping bag berisi kerudung instan dengan ukuran XXL.
“Semoga Ibu suka,” pikirku sambil mengantre di kasir. Aku pun bergegas kembali ke tempat Ibu.
“Bu, ini dicoba. warnanya udah cocok. Ukurannya juga besar.”
“Bagusnya…” Ibu pun langsung memakainya di depan cermin.
“Pasti mahal,” kata Ibu.
“Ah, nggak juga. Harga kerudung ya segitu.” Aku langsung melepas hang tag yang masih menggantung di ujung kain kerudung, meremasnya, dan memasukannya ke dalam saku celana.
Kutatap erat Ibu di hadapanku sambil merapikan posisi kain kerudungnya.
“Ibu Jangkung masih cantik!”
Kulihat Ibu tersenyum. Kulit wajahnya sudah banyak keriput. Kucium pipi kanan Ibu dan kupeluk dia erat. Tak terasa air mataku menetes.
“Ibumu… Ibumu… Ibumu…” []

[…] Baca tulisan: Kerudung untuk Ibu […]