Jam dinding sudah menunjukkan sekitar pukul enam pagi. Tetapi, lampu di dalam dan luar rumah masih terlihat menyala dengan terang. Jendela rumah belum ada yang dibuka. Pintu rumah masih tertutup rapat. Keadaan di dalam rumah masih terlihat sepi, belum ada aktivitas apa pun.
Kakak perempuan dan keponakanku pun merasa heran karena ini tidak seperti biasanya. Rumah Emak berada di depan dan rumah kakak perempuanku berada di belakang rumah Emak, agak nyamping sedikit. Rumah kakak hanya berjarak sekitar lima meter dari rumah emak,sehingga aktivitas emak setiap hari bisa terlihat dan terpantau dengan jelas oleh kakak.
Biasanya, saat azan Subuh Emak sudah bangun. Salat subuh kemudian dilanjutkan dengan aktivitas lainnya. Merebus air, membuat sarapan untuk dirinya sendiri, dan mematikan lampu di sekitar rumah. Emak paling senang kalau sarapan paginya di luar rumah, yaitu di samping rumah di bawah pohon Kelengkeng. Pohonnya rindang, udaranya pun sejuk. Pun ketika siang hari, Emak sering sekali tidur siang di bawah pohon Kelengkeng, di atas dipan kecil yang terbuat dari bambu. Boleh dikata, rumah hanya digunakan Emak untuk tidur di malam hari. Untuk siang hari, Emak lebih suka di luar.
Emak hanya tinggal sendiri. Semua anak Emak sudah mandiri dan tinggal di rumah masing-masing. Daripada rumahnya kosong, akhirnya Emaklah yang menempati. Lagian Emak juga tidak mau kalau harus tinggal dengan mereka, anak-anak Emak. Karena memang Emak tidak mau merepotkan siapa pun. Dulu, rumah ini ramai, penuh sesak oleh anak-anak Emak. Sekarang, setelah anak-anak menikah, suasana rumah tidak seperti dulu lagi.
Meskipun anak-anak Emak tinggal di rumah masing-masing, Emak tidak pernah merasa kesepian. Setiap hari, di waktu siang anak Emak selalu datang untuk menjenguk, entah itu hanya sekadar minum kopi atau pun ngobrol ringan dengan emak.
Rumah anak Emak pun tidak begitu jauh, hanya sekitaran tetangga desa saja. Malahan, ada yang berdampingan dengan rumah Emak. Hanya dua orang dari anak Emak yang tinggal jauh, yaitu aku dan salah satu kakak perempuan yang lain.
Rasa khawatir, waswas, dan curiga kian mendera. Kakak perempuan dan keponakanku sudah berkali-kali mengetuk pintu dan memanggil-manggil Emak, tetapi tetap tidak ada jawaban. Takut terjadi sesuatu, akhirnya keponakanku mencongkel jendela kamar depan.
Terlihat Emak masih dalam posisi tidur. Dipeganglah badan dan tangan Emak, terasa dingin. Digoyang-goyangkan badan Emak, tetap tidak ada respons. Dipanggil-panggil pun tidak menyahut. Di hidung, tidak ada hembusan napas. Nadi pun sudah tak berdenyut lagi.
Innalilahi wa innailaihi roji’un,Emak sudah meninggal. Seketika tangis pun pecah.
“Kalau anak-anak sudah pada menikah dan mandiri, Emak insya Allah siap dipanggil kapan pun oleh Sang Pencipta.”
“Semoga di hari tua, Emak tidak merepotkan anak-anak Emak. Semoga Emak tidak menjadi beban mereka.”
Itulah kata-kata yang sering sekali terlontar dari mulut Emak. Dan kata-kata itu pun benar terjadi.
Emak sedang tidak sakit apa pun. Emak sehat bugar jasmani dan rohani. Aktivitas Emak pun seperti biasa, tidak ada yang ganjil. Anak-anak Emak tidak tahu jam berapa Emak meninggal. Soalnya, jam sepuluh malam Emak masih ngobrol dengan anak-anak Emak. Setelah itu, Emak masuk kamar dan tidur.
Sebenarnya, malam itu ada salah satu anak Emak yang menemani Emak tidur. Namun, karena ada sesuatu hal, anak Emak pergi keluar dan pulang agak lama.
Biasanya kalau anak Emak pulang, mengetuk pintu, oleh Emak pun langsung di buka. Namun, kali ini berbeda. Karena pintu tidak dibuka, akhirnya anak Emak tidur di teras, di kursi depan rumah Emak.
Aku menangis sejadi-jadinya mendengar kabar Emak meninggal. Rasanya baru kemarin aku dan Emak ngobrol lewat telepon. Dan yang paling membuat aku semakin sedih adalah aku tidak bisa melihat wajah Emak untuk yang terakhir kalinya.
Aku sudah memohon agar Emak dimakamkan setelah aku tiba. Tetapi, anak-anak Emak yang lain tidak setuju. Kasihan emak kalau harus menunggu lama.
Sekitar pukul sepuluh pagi, Emak selesai dimakamkan. Aku tiba di rumah Emak sekitar pukul tiga sore hari. Setelah Emak selesai dimakamkan, hujan pun turun dengan derasnya.
Banyak yang tidak percaya dengan kabar meninggalnya Emak. Sore hari emak masih santai mengobrol dengan orang-orang yang sedang sibuk memanen padi di sawah. Kebetulan belakang rumah Emak adalah sawah dan jalan setapak. Banyak orang lalu lalang di situ.
Emak itu sok kenal sok dekat. Tidak kenal pun Emak dengan hangatnya ngobrol dengan beberapa orang di sawah yang sedang beristirahat di pinggir jalan. Dibuatkannya beberapa gelas kopi oleh Emak untuk mereka. Mereka terlihat senang.
Emak sering ditegur oleh anak-anaknya.
“Ih Emak, kan ndak kenal sama mereka. Ngapain Emak bikin kopi? Mereka kan sudah membawa bekal juga!”kata salah satu anak Emak.
“Ndak apa-apa, hanya segelas kopi, tidak berarti. Tidak akan berkurang harta kita,” kata emak ringan.
Emak memang selalu begitu. Ternyata, itu kopi terakhir buatan Emak. Orang-orang yang pernah dibuatkan kopi oleh Emak merasa kehilangan.
Selamat jalan, Emak! []
