Oleh: Yusriani Nuruse

Kehilangan adalah segala yang sering terjadi tanpa diharapkan. Kehilangan adalah bagian kehidupan yang kadang melahirkan kedukaan. Kehilangan adalah rahasia dalam skenario Tuhan.

Kini, 100 hari kehilangan dirimu,tanpa aku harapkan dalam kehidupanku, namun, aku selalu ikhlas untukmu bahwa ini semua bagian dari skenario Tuhan yang tak dapat dihindari dalam setiap kehidupan. Rentetan doa setiap waktu kupersembahkan untukmu. Aku yakin engkau Husnul Khotimah, Insya Allah. !3 tahun bersamamu begitu banyak suka dan duka kita lewati bersama. Boleh aku bilang, badai tsunami sering menghantam kehidupan kita.

Walau rasa perih,rasa hambar, rasa sakit menyelimuti kehidupan kita ,namun, kita tetap berusaha  menepis sedikit demi sedikit rasa itu. Walau ku akui tangan kita nyaris terlepas dari hantaman ombak dan badai itu. Tidak mudah melewatinya.

Namun, keyakinanku akan kuasa Allah kita terus berjalan bersama hingga tiba waktunya Allah memanggilmu kembali di sisi-Nya, meninggalkan jejak-jejak kenangan bersamamu.

Aku tahu hidupmu penuh liku-liku,terlebih setelah Dokter memvonis mengalami skizofrenia paranoid itu menurut medis.Sebagian orang-orang yang mengenalimu mulai mundur dari hidupmu, namun, sebagian pula menaruh simpati padamu dengan apa yang kau alami. Namun, engkau tetap menjalani hidupmu dalam kebisuan dan kehampaan. 

Badai sering kali menerpa kita dari berbagai arah, terombang ambing bersama mencari tempat yang aman. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain setiap kali engkau merasakan kegelisahan dan rasa tak aman, dan aku hanya mampu mengikutimu.

Hingga akhirnya, kita terhempas dan berlalu di pinggir kota Soppeng menjauh dari sebuah ombak dan badaiĀ  yang telah kita arungi bersama dengan susah payah.

Namun, harapan tak seindah impian, ombak dan badai mengintai setiap waktu yang hampir membuat kita lengah dan meluluh lantakkan pertahanan kita. 

Bersyukur Allah menyayangi kita , menguatkan kembali rakit yang  kita bangun bersama.

Seringkali ku dapati dirimu khusyuk dan menangis dalam salat malammu, seringkali engkau memintaku tak menjauh ataupun meninggalkanmu, segala keluh kesahmu hanya Allah, aku dan engkau yang tahu, namun, engkau tak pernah menaruh dendam kepada mereka yang menyakitimu.

Tak banyak orang yang tahu dan simpati pada kehidupan kita, sebagian hanya memandang dari penyakit yang engkau alami. Bersyukur keluargaku selalu mendukung dan mensupport  hingga kita mampu terus bersama sampai akhir hayatmu.

Semoga perjalanan hidupmu di dunia yang penuh onak dan duri, Allah ganti dengan kesenangan yang tak terbatas di alam sana. Di sini aku dan anak-anak kita akan selalu mengenangmu dalam doa setiap waktu.

Tenanglah engkau di sana wahai kekasih hatiku.

Watansoppeng, 19 Mei 2022

(Visited 98 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.