Malam itu aku berkendara pulang. Malam Minggu, pelajar masih libur kenaikan kelas, tanggal muda pula. Tak heran jika jalanan di Kota Bandung masih padat meskipun sudah lewat pukul 21.

Mengarah ke lampu merah Bypass-Buah Batu, kulihat dua motor berdampingan. Masing-masing dinaiki oleh dua orang anak muda. Ah, happy sekali mereka, padahal salah seorang pengendara tampak sibuk mendorong motor di sampingnya menggunakan kaki kanannya. Step motor istilahnya.

Seketika itu aku teringat anak laki-lakiku. Ya, berkali-kali di bilang baru beres step motor temannya yang mogok atau kebalikannya. Tak tanggung-tanggung, jarak tempuh step motor tersebut bisa belasan hingga lebih dari dua puluh kilometer. Apa tidak pegal itu kaki?

Mengarah ke lampu merah Bypass-Muhammad Toha, aku pun kembali melihat hal yang sama, hanya berbeda orang. Apakah malam Minggu begini banyak anak motor yang kuda besinya mogok? Kehabisan bensin atau memang mesinnya bermasalah? Aku hanya tersenyum simpul.

“Aa, tadi Abah lihat anak motor step temannya.”

“Di mana itu, Bah?”

“Di Bypass Bandung.”

“Oh, hehe…”

“Ketawa kamu… Sering begitu juga, kan?”

“Hehe, iya lah…”

“Abah salut sama kalian. Solidaritas kalian sangat tinggi.”

“Iya harus gitu di jalan mah. Siapa lagi yang akan nolong kalau bukan kita-kita juga?”

“Padahal nggak kenal juga, kan?”

“Hehe, iya… Kadang nggak kenal juga. Pokoknya kalau lihat ada anak motor yang mogok di jalan, pasti ada yang nyamperin.”

“Apalagi anak Vespa, ya? Vespa apa itu yang…”

“Yang butut? Hehe…”

“Bukan Abah yang bilang lho…”

“Hehe, nggak apa-apa.”

“Bagus lah kamu punya banyak teman. Itu penting. Tapi ingat ya, jangan suka genk-genk-an, bertemanlah dengan semua komunitas. Jangan cari masalah, apalagi tawuran.”

“Iya, Bah. Aku nggak pernah cari musuh kok.”

“Dan jangan lupakan yang utama, salat wajib…”

“Iya itu mah pasti.”

“Lha kamu sendiri dari mana tadi?”

“Kopdar mingguan, Bah.”

Hmm, begitulah anak motor, anakku sendiri! Perwujudan solidaritas sosial di dalam komunitas anak motor biasanya berupa kopdar rutin setiap malam Minggu. Mereka saling mengenal satu sama lain, bertukar informasi tentang segala hal terkait hobi motor.

Biasanya masing-masing anggota punya tugas yang berbeda. Namun, semua mengarah pada tujuan komunitas. Jika ada anggota yang kesusahan, anggota yang lain ikut membantu. Saat ada anggota komunitas yang sakit, anggota lain menjenguk. Perwujudan solidaritas eksternal biasanya dengan kopgab dengan komunitas yang lain, juga dengan masyarakat dan pengguna jalan.

“Kadang terjadi pertengkaran juga antar anggota. Biasanya karena kesalahpahaman atau bercanda yang terlalu berlebihan. Ada juga rasa iri tentang kepengurusan komunitas dan pembagian kerja dalam komunitas.”

“Oh gitu, ya? Terus gemana solusinya?”

“Anggota wajib berperilaku baik kepada anggota lain. Yang terpenting adalah ketua harus memberi contoh dan bersikap yang baik kepada anggota-anggotanya. Kalaupun sudah ada pembagian kerja, tidak ada salahnya bergotong-royong. Jika anggota yang satu sudah selesai menyelesaikan tugasnya, ia harus berinisiatif membantu anggota lain yang belum menyelesaikan tugasnya,” jelas anakku.

Eh, udah pintar ngomong ini bocah…

Jujur, kadang muncul rasa khawatir. Komunitas remaja yang tidak teratur cenderung melakukan tindakan anarkis. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa komunitas adalah suatu bentuk perluasan dari interaksi sosial remaja dengan teman sebaya yang memiliki kesamaan minat, visi, dan misi. Di dalamnya pun terdapat nilai dan norma yang mengikat anggota.

Secara sadar, tentunya setiap manusia akan mendekatkan dirinya dengan komunitas-komunitas yang dianggap memberikan rasa nyaman, kesenangan, dan wadah pengembangan pikiran. Setiap individu dalam masyarakat secara pasti memiliki keinginan menjadi bagaian dari komunitas tertentu. Motif dasarnya adalah kebutuhan interaksi, sosialisai, dan komunikasi. Selain itu, ada keinginan untuk menunjukan eksisistensi (keberadaan) dan identitas (jati diri).

Khawatir iya, tetapi anak-anak perlu tumbuh dewasa dalam dunia nyata. Sesekali dibenturkan dengan kerasnya hidup agar mereka menjadi kuat dan tangguh. Satu hal yang harus kita jaga adalah hal-hal terkait pemikiran kelompok (groupthink). Ini adalah fenomena psikologi yang terjadi di sekelompok orang di mana keinginan untuk menyamakan sikap, keyakinan, dan perilaku dalam kelompok kadang menghasilkan pengambilan keputusan yang irasional atau disfungsional.

Pemikiran kelompok terjadi ketika lebih memilih mempertahankan loyalitas kelompok dibandingkan membuat pilihan yang terbaik. Situasi kelompok sering membuat orang merasa sulit untuk berpikir dan bertindak mandiri. Intinya, jangan sampai pemikiran kelompok menyebabkan kemerosotan efisiensi mental, pengujian realitas, dan penilaian moral yang dihasilkan dari tekanan dalam kelompok.

Berbaur boleh, larut jangan. []

(Visited 52 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.