Hidup itu ibarat roda yang berputar, kadang dibawah kadang diatas. Roda-roda gila kehidupan selalu silih berganti seiring waktu kita lalui bersama di dunia peziarah ini. Sejak kita keluar dari rahim ibu, tangisan kita memecahkan kesunyian malam atau hiruk-pikuknya siang.
Tangisan kita pertanda awal kesengsaraan kita di dunia ini. Dunia yang harus kita perjuangkan sendiri maupun berkelompok. Sejak kita masih usia belia dibesarkan dalam beraneka ragam kesulitan yang selalu menghantui kita. Kita dinafkahi, dibimbing, diajarkan, disayangi, oleh penganti empunya di muka bumi ini. Rasanya bagai di taman Eden tampa rasa kekurangan apapun, semuanya dipenuhi apa yang kita butuhkan.
Namun setelah kita menginjak masa akil balik, mata kita mulai terbuka akan kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang penuh dengan perjuangan. Kita berjuang untuk mempertahankan hidup, mencari nafkah sendiri, membangun rumah sendiri dengan keringat sendiri. Kadang jatuh bangun, yang berhati mulia mengulurkan tangan namun yang berhati binatang angkat tangan, bahkan ada yang menyeramkan dan lebih buas dari binatang liar.
Dikala masih usia dini, sang empunya selalu mengingatkan kita, “usahakan berdikari dan jangan bersimbiosis pada yang lain”. Seakan seruan ini selalu berkumandang di kuping kita yang memonitornya. Ia selalu membisikan suara hatinya kepada kita agar kita waspada pada orang-orang munafik, dan berkolaborasi dengan sesama yang senasib dan seperjuangan.
Kita juga diajarkan untuk tidak egois dan hanya mementinkan diri kita sendiri, tapi kita juga harus mengulurkan tangan kita kepada sesama kita dan juga pada Yang Mahakuasa disimbolkan dengan salib. Sebelum kita mengenal yang abstrak kita harus tahu realitas, karena yang realitas itu merupakan perwujudan dari yang abstrak.
Sejak kita muncul di muka bumi ini bagai kertas putih. Kita dinodai, dicoret-coret oleh keadaan situasi dimana kita berada. Setiap langkah hidup kita selalu terukir dalam kertas putih ini, bagai agenda diari kehidupan yang selalu merekam semua suka dan duka yang kita alami setiap hari. Dari munculnya mentari hingga tenggelamnya sang surya, selalu ada bekas coretan di kertas putih itu. Ada coretan yang manis dan ada coretan yang pahit sepahit empedu.
Namun semuanya itu kita lalui bersama dengan seiring waktu kehidupan kita selagi masih berziarah di muka bumi ini. Kita diisi oleh aneka input positif dan negatif untuk menjalani hidup ini sampai ajal menemui kita. Ibarat sebuah lampu kalau mau menyala harus dihubungkan dengan dua kabel beraliran positif dan negatif. Begitu pula kehidupan kita. Kalau terlalu baik dimanfaatin, kalau terlalu buruk dicampakkan ke dalam tong sampah.
Itulah kehidupan kita di dunia fana ini, dari kebodohan menjadi kepintaran, dari kemiskinan menjadi kekayaan, dari yang tiada menjadi ada. Dulu kita sengsara tampa makanan, pakaian, perumahan, ilmu, tetapi setelah kita berusaha kita bisa berdikari, walaupun badai menerjang kita tetap kokoh bagai batu karang yang bersandar di tepi pantai yang selalu dihantam oleh ombak dan badai.
Sekarang sudah mendingan dibandingkan dengan jaman dulu. Sekarang sudah super enak, tapi perlu meguras lagi tenaga untuk mengapainya. Tapi ingat jangan egois dan hanya mementinkan diri kita sendiri, tetapi selalu mengingat tanda salib, sesama dan Tuhan sang empunya kehidupan ini. Agar kehidupan kita menjadi lebih baik harus bergantung pada sang ilahi empunya kehidupan ini.
By Aldo Jlm’22
Edisi 16072022
