Tahun 1999 bulan September setelah referendum, ada seorang gadis yang bernama Venia (bukan nama asli) sangat kehilangan segalanya, karena kedua orang tuanya meninggal saat perang di Timor-Timur waktu itu. Sehingga Venia tinggal bersama dengan saudara kandung dari mamanya. Venia lulusan SMA negeri di Dili, dan barusan terima Ijazah sebulan sebelum referendum.

Venia berjuang menghadapi dan menanggung kepahitan hidup sendirian karena dia anak tunggal. Mulailah ia bergabung dengan program kebersihan yaitu membersihkan puing-puing sampah yang bertumpuk di kota Dili dengan upah U$ 3 waktu itu untuk menjamin keperluan hidupnya.

Venia menyisihkan waktunya untuk belajar bahasa Inggris selama 3 bulan kemudian dia melamar menjadi interpreter disalah satu agensi UN, dan dia berhasil bekerja waktu itu.

Dia menabung uangnya dari hasil keringat yang diperoleh selama hampir 2 tahun. Setelah itu Vania berpikir untuk kuliah lagi karena kontrak kerja selesai. Venia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di UNTL pada jurusan Ekonomi sambil mencari pekerjaan sampingan di salah satu restoran sebagai kasir yang bekerja sore hari sampai malam.

Suatu hari, datanglah seorang pengusaha muda ke restoran untuk makan malam. Karena Venia termasuk wanita cantik, maka si pemuda ini mulai jatuh cinta pada Venia. Maka mulailah mereka saling mengenal satu sama lain, jadilah mereka pacaran. Sehingga setiap malam saat Vania pulang kerja diantar oleh pemuda tersebut yang bernama Agus.

Dengan berjalannya waktu, Agus mulai merayu dan meyakinkan Venia bahwa Venia tidak perlu kuliah lagi. Kebetulan Venia baru masuk semester II. Venia pun berhenti kuliah demi cinta dan taat pada Agus. Agus mengetahui bahwa ada beberapa cowok di kampus yang sedang kejar-kejar Venia. sehingga Agus memberi opsi kepada Venia untuk berhenti kuliah.

Mulailah Agus memberitahukan kepada orang tuanya untuk melamar Venia. Maka Venia pun ikut saja. Maka tiba saatnya Agus melamar Venia untuk menjadi istrinya. Keluarga besar dari kedua belah pihak hadir untuk berbicara adat dan mulai kasih Belis pada keluarga Venia. Venia dan keluarganya mau supaya langsung menikah di gereja. Tapi keluarga besar dari Agus tidak menanggapi secara serius karena mereka ingin supaya Venia dan Agus harus memiliki keturunan dulu.

Seiring berjalannya waktu, Venia belum ada tanda-tanda hamil mulai dari tahun pertama masuk tahun ke dua. Maka keluarga besar terutama saudara saudari dari Agus mulai hasut dia. Agus mulai stress dan mencari wanita lain dil uar. Venia pun merasa tidak nyaman di tempat kerjanya. Venia mulai mencari dukun untuk mendapat solusi dari masalah yang dihadapinya. Banyak duit yang dia bayar buat dukun mulai dari satu dukun pindah ke dukun yang lain termasuk beli obat tradisional tapi belum juga hamil.

Venia tertimpa banyak masalah. Baik itu masalah kesehatan, suami mulai ada wanita simpanan di luar, utang pun mulai bertambah. Agus yang memiliki perusahaan mebel habis terpake oleh wanita lain. Maka Venia merasa bahwa kehidupan keluarganya bagaikan di neraka.

Masuk pada tahun yang ke enam, Venia tidak berdaya lagi. Maka bos di Restoran tempat Venia bekerja sudah memecat dia karena masalah keuangan. Selama mereka hidup bersama, Venia tidak mendapat uang suaminya.

Suatu hari Venia ke gereja. Bertemulah Venia dengan sekelompok orang yang sedang berdoa pada jam 15:00. Venia masuk Gereja tapi dibanjiri dengan air mata. 15 menit kemudian datanglah salah seorang ibu diantara sekelompok orang itu menghampiri Venia. Tanpa basa basi Venia mulai curhat sama ibu ini. Lalu ibu ini hanya mendengar lalu mulai memberi masukan untuk datang berdoa setiap jam 15:00 di gereja. Maka Venia mulai ada rasa kelegaan. Hatinya mulai sejuk.

Venia merasa lebih akrab dengan Tuhan Yesus. Setiap kali dia berdoa Koronka. Mulai membaca firman setiap malam. Firman Tuhan yang selalu dia ingat dalam hatinya adalah Tuhan Yesus bersabda Datanglah kepadaku kamu yang letih lesu dan berbeban berat aku akan memberikan kelegaan kepadamu.

Venia mulai tekun berdoa Rosario Kerahiman hampir satu bulan, puji Tuhan banyak perubahan yang dia alami dalam keluarga. Muncul tanda – tanda hamil pada dirinya. Mulai rasa mual – mual. Tapi suami malah curiga mungkin Venia ada penyakit. Sampai suami rencana untuk ceraikan saja Venia. Lama kelamaan perut Venia mulai membesar lalu pergi cek ke dokter. Pada saat yang sama suaminya di pukul dan dikeroyok oleh suami dari selingkuhannya.

Saat itu juga suami mulai bertobat dan minta maaf kepada Venia untuk tidak selingkuh lagi. Langsung putuskan hubungan dengan selingkuhannya. Dia baru menyesal atas perbuatannya dan pergi minta Romo Paroki setempat agar mereka harus menikah di gereja dulu sebelum bayi mereka lahir.

Akhirnya bayi mereka lahir dengan normal. Bayinya laki-laki bernama Domingos yang lahir pada hari Minggu. Mereka memberi nama Domingos karena lahir pada hari Minggu. Dalam bahasa Tetun hari Minggu adalah Domingo, yang berasal dari kata Domin yang artinya Cinta❤️

Kehadiran baby Domingos dapat menyatukan kembali kedua hati yang sudah retak. Melalui doa sang ibunda tercinta ❤️. Tuhan hadir dalam diri baby ini karena kekuatan Doa sang istri.

Penulis : Elvira Pereira Ximenes

(Visited 38 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Elvira P. Ximenes

Elemen KPKers Dili TL, telah menyumbangkan puluhan tulisan berupa, artikel, cerpen, dan puisi ke BN, dengan motonya, "Mengukir makna dalam setiap kalimat, menghidupkan dunia dalam setiap paragraf", pingin jadi penulis mengikuti jejak para penulis senior lainnya di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.