Oleh : Hamsah*
Topik tentang kaya atau kekayaan telah menjadi halaman utama dan beranda di setiap lembaran kehidupan manusia. Hampir separuh hidup kita diadopsi dengan konsep harus sukses, berhasil atau dalam bahasa materialisme harus menjadi orang kaya. Nyaris tiada kesuksesan tanpa mengambil variabel kekayaan sebagai tolak ukur. Begitu pun keberhasilan dalam pendidikan, terkadang kaya menjadi parameter keberhasilan. Sekolah tinggi namun, tidak kaya terkadang dipertengkarkan dengan proposisi tidak sekolah, atau hanya tamat sekolah ini tetapi bisa sukses dan kaya.
Pertanyaannya, bagaimana ukuran kita bisa dikatakan kaya? Apakah harus memiliki banyak harta, seperti banyak uang, mobil mewah, rumah mewah, atau harus banyak istri, eh mungkin tidak tepat jika banyak istri menjadi ukuran kaya, meskipun kita tahu bahwa untuk beristri juga diperlukan banyak modal/materi.
Jika ukuran kaya harus seperti yang dilansir dalam Republika.co.id, misalnya Keluarga Budi Hartono, pemilik BCA dan Djarum, memiliki harta 8,5 miliar dolar AS. Michael Hartono memiliki harta 8,2 miliar dolar AS. Dua orang ini jelas lebih kaya ketimbang kita. Menurut Forbes, mereka menduduki peringkat pertama dan kedua daftar orang terkaya di Indonesia. Tetapi, ternyata mereka tidak ada apa-apanya jika dibanding Carlos Slim Helu dan Bill Gates. Harta Carlos Slim Helu, CEO Telefonos de Mexico dan America Movil, mencapai 73 triliun dolar AS, sementara Bill Gates, yang mantan CEO Microsoft, memiliki harta 67 miliar dolar AS.
Jika ukurannya seperti yang di atas, maka butuh modal berapa dan berapa lama harus berusaha dan bekerja untuk mendekati kekayaan mereka? Penulis tidak ingin memikirkan itu. Namun, barangkali ada pendekatan lain yang bisa dilakukan untuk dicap menjadi kaya.
Atau mungkin inilah yang dikatakan Paulo Freire dalam kritik pendidikan, sebagai bentuk mendaur ulang ketidakberdayaan dengan menciptakan kesadaran naif. Misalnya, jika hal itu tidak bisa didapatkan, maka kita akan selalu mendaur ulang harapan-harapan itu, dengan harapan anak atau generasi kita menjadi kaya. Terkadang juga, karena ketidakberdayaan kita mencapai kekayaan sehingga kita menggeser fokus-fokus kita ke hal yang lain. Misal, tidak masalah tidak menjadi kaya yang penting sehat, punya istri cantik atau yang lainnya. Ini hanya contoh.
Namun, ini tentu tidak berlaku bagi mereka yang sudah terlanjur kaya dari dari awal, (kaya dalam perspektif materialisme). Namun, penulis ingin berbicara dalam perspektif lain.
Pernah tidak kita berpikir bagaimana konsep maha kaya yang dilekatkan pada Tuhan? Tuhan maha kaya, kenapa ia dikatakan maha kaya, meskipun dalam keyakinan kita bahwa yang menciptakan segala sesuatu adalah Tuhan, dia adalah pemilik dan penguasa sehingga ia dikatakan maha kaya. Sehingga Tuhan sebagai pemilik segala sesuatu adalah suatu keniscayaan yang diterima secara universal. Tetapi tentu bukan itu poin yang ingin penulis katakan.
Ketika kita menggunakan pendekatan Tuhan yang maha kaya, maka kita bisa menemukan konsep esensial tentang kekayaan. Tuhan dikatakan maha kaya karena ia tidak membutuhkan sesuatu. Tuhan tidak membutuhkan materi, rumah, mobil, dan lain-lain. Sehingga dengan ketidakbutuhan Tuhan dengan segala sesuatu, maka ia menjadi maha kaya.
Pertanyaannya, bagaimana cara manusia menjadi kaya? Di saat definisi kaya dimaknai harus banyak harta? Tentu sangat sederhana. Langkah pertama berarti kita harus merubah definisi kaya. Kaya berarti bukan banyak harta, akan tetapi meniadakan atau mengurangi kebutuhan. Simple kan?
Kaya bukanlah mereka yang memiliki segala-galanya, melainkan kaya adalah mereka yang minim akan kebutuhan bahkan tidak lagi membutuhkan apa apa.
*Akademisi Sosiologi Universitas Negeri Manado

Good Narasi
Kaya hanyalah seuntai kata yg tidak semua orang bisa memilikinya, namun kaya itu sendiri bagi saya pribadi bagaimana kita sebagai individu sosial dapat mengurangi beban atau masalah orang lain baik itu dari segi materi maupun bentuk pemikiran.
Belum dapat dikatakan kaya apabila masih ada org disekitar kita berkekurangan.
So esensi dri kaya itu sendiri menabur kasih sayang terhadap sesama tanpa pandang bulu.
Cherrs
semua orang di dunia ini tidak ada yang kaya mengapa karena semua orang di dunia ini masih bekerja dalam mencukupi kehidupan mereka walaupun mereka sudah memiliki uang.