Oleh : Harbed

Tersebutlah seorang tokoh yang berproses menjadi seorang pemimpin yang memulai perjalanannya dari lingkungan paling bawah. Entah karena kepatuhannya pada hukum proses atau karena nasib berpihak kepadanya. Namun, yang pasti ia berhasil mendapat amanah dari rakyat menjadi pemimpin di daerahnya.

Sebagaimana yang terjadi di beberapa daerah dalam perjalanan kepemimpinan terjadi pecah kongsi dengan pasangan. Akibatnya, konflik kepentingan tidak bisa lagi terhindarkan. Tampil di depan publik bisa saja tertawa bersama, tetapi sesungguhnya secara konsep dan kepentingan tidak sejalan.

Konflik yang biasa terjadi di hampir semua elemen masyarakat itu karena adanya perbedaan kepentingan dan tidak ada mau saling mengalah. Keduanya memiliki argumen sebagai alasan pembenar. Akibatnya, konflik tumbuh subur dalam hati dan pikiran.

Kasus beberapa konflik yang saya lihat langsung di tengah masyarakat membuatku teringat pada dosen inspiratif mahasiswa bapak Ruslan Ismail Mage yang mengajar mata kuliah “Manajemen Resolusi Konfik”. Seorang dosen yang banyak menulis buku-buku politik, kepemimpinan, dan demokrasi.

Kelihaiannya mengulas masalah politik dan kepiawaiannya menjelaskan hukum-hukum kepemimpinan, membuat kami menganggapnya “dosen ngeri-ngeri sedap”. Ia konsisten menyuarakan kebenaran di depan mahasiswanya di ruang kelas, walaupun mungkin akan berdampak kepada karinya.

Saya selalu memaksimalkan waktu dan energi untuk mengikuti kuliahnya. Karena disamping menjelaskan teori-teori keilmuan sesuai dengan mata kuliah, ia juga selalu menyisihkan narasi-narasi inspiratif yang tidak terduga sebelumnya. Contoh yang berkaitan konflik yang tidak bisa terhindarkan dalam kehidupan.

Dari beberapa konsep resolusi konflik yang disampaikan, saya paling tertarik dan tercengang, ketika beliau mengatakan, “Alat paling ampuh untuk menyelesaikan konflik adalah telinga” bukan mulut atau yang lainnya”.

Kami semua mahasiswanya terdiam, karena tidak pernah membayangkan kalau dengan telinga bisa menyelesaikan konflik. Sesaat kemudian sang dosen menjelaskan, “Orang atau kelompok yang sedang berkonflik susah dinasihati apalagi diceramahi. Jadi, biarkan bicara atau marah sekali pun. Coba gunakan telinga, dengarkan dengan baik apa masalah dan tuntutan keduanya, lalu berusaha mencari jalan keluarnya”.

Menurutnya, kenapa mereka berkonflik, karena masing-masing mau bersamaan bicara, bahkan bersamaan marah. Akibatnya, konflik semakin memanas dan bisa membakar kesadaran. Coba kalau yang satu bicara atau marah dan satunya diam, pasti konflik mereda, jelasnya.

Kami pun mengangguk-angguk terkesima dengan pelajaran baru mengatasi konflik dengan telinga, bukan mulut. Menyelesaikan konflik dengan mendengar, bukan menceramahi. Kalimat super penutup kuliahnya adalah, “Jika ada orang marah kepadamu, diam dan dengarkan, jangan bersamaan marah. Sesungguhnya, pemenang bukan yang suka marah, tetapi yang diam mendengarkan”.

*Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Unes Padang

(Visited 29 times, 1 visits today)

By Harbed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.