Oleh : Hamsah*
Berjumpa namun tak saling menegur, berdampingan namun tak saling menyapa, bersama-sama namun tak saling bicara. Ini adalah fenomena yang muncul seiring dengan perkembangan teknologi digitalisasi. Gadget sebagai anak emas dari perkembangan teknologi mampu merubah tatanan kehidupan sebagian besar masyarakat, baik yang tua, muda, bahkan anak-anak. Pola interaksi seperti berkomunikasi kian semakin berubah dan semuanya serba digitalisasi.
Kehidupan dan pola interaksi kita saat ini seperti hidup dalam kebisuan, bertemu dan bersama-sama namun tak saling bicara. Kita masing-masing hanya memiliki orientasi pada tujuan yang membuat diri kita merasa senang. Tak penting orang mau ke mana, yang pasti kita bisa sampai pada tujuan yang kita inginkan. Karena itu, perjumpaan hanyalah sekedar formalitas.
Seperti berkumpul bersama keluarga, reuni bersama teman-teman sekolah, rapat, bahkan mendengar pengajian pun kita tetap saja hanya peduli dan sibuk dengan diri sendiri. Gadget sejatinya berfungsi untuk membantu dan mempermudah berbagai ritual-ritual kehidupan. Namun, yang terjadi justru hal tersebut membuat kehidupan menjadi renggang.
Kita terlalu digandrungi oleh digitalisasi, dunia seakan dilipat dengan kecanggihan teknologi dengan sarana media sosial. Bahkan perpindahan kita dalam satu lantai mampu membuat kita menyaksikan kejadian di beberapa negara berkat teknologi. Tak hanya itu, dalam waktu singkat kita bisa mengetahui dan membaca pikiran dan perasaan orang-orang melalui postingan status di media sosial dan lainnya. Namun, sayangnya itu justru membuat kita semakin berjarak dengan lingkungan sosial secara nyata.
Sebuah dikotomi, kita individualis dalam dunia nyata, tetapi sangat sosial dalam dunia maya. Semua orang seakan ingin kita kenal, bahkan tidak sedikit yang kita tak pernah saling kenal dalam dunia nyata tapi kita tertarik akan kehidupan orang itu. Tidak sedikit di antara kita sangat kepo (istilah gaul) dengan kehidupan atau rutinitas orang lain. Akibatnya, kita lebih memperdulikan orang-orang yang ada dalam dunia maya dibanding dengan kehidupan orang di sekitar kita.
Inilah yang saya maksud dengan hidup seperti dalam lift. Kita telah tersandera dengan budaya diam dan enggan untuk saling banyak bicara. Namun, justru tetap haus akan kehidupan orang lain, meskipun itu dalam dunia maya. Oleh karena itu, jika kesadaran akan kehausan diri untuk peduli dengan orang lain diletakkan pada orientasi kehidupan nyata, maka yakin hidup akan lebih bermakna.
*Akademisi Universitas Negeri Manado
