Oleh : Hamsah*

Belasan tahun yang lalu saya pernah ke Palu dalam rangka mengikuti kegiatan kongres mahasiswa sosiologi se Indonesia, hadir sebagai delegasi dari salah satu Universitas swasta di Kota Makassar. Setelah belasan tahun kemudian, akhirnya saya kembali ke kota Palu dengan kegiatan yang berbeda.

Tepat tanggal 4 Desember 2022, saya ke Palu dengan tujuan perjalanan dinas dalam rangka mengikuti kegiatan klasikal pendalaman nilai-nilai Berakhlak. Selama lima hari mengikuti kegiatan, banyak ilmu dan pengalaman yang dapat saya pelajari, baik dari narasumber yang berkapasitas, maupun dari pengalaman dan cerita teman-teman sejawat yang juga tak kalah pentingnya sebagai sumber pembelajaran. Mereka adalah para tenaga pengajar dan tenaga kependidikan dari berbagai lintas kampus.

Saat-saat terakhir sebelum kami meninggalkan Palu untuk kembali ke industri pengetahuan pada instansi masing-masing, bersama rekan-rekan yang lain kami berkeliling dan mengunjungi beberapa tempat di kota Palu. Pilihan pertama kunjungan kami adalah salah satu bukit yang melewati lokasi Likuifaksi tanah yang menelan jiwa beberapa tahun lalu.

Tentu kita semua tahu bahwa beberapa tahun yang lalu, dunia menangis dan dan kita semua merasakan sakit ketika menyaksikan saudara-saudara kita yang ada di Palu harus kehilangan nyawa, sanak keluarga, tempat tinggal akibat bencana yang tak pernah diduga-duga. Bencana tersebut adalah sebuah fenomena alam yang sangat dahsyat di mana kejadian ini tepat terjadi pada 28 September 2018 di Palu, Sigi, dan Donggala.

Fenomena gempa dan likuifaksi yang membuat tanah bergerak dan menenggelamkan bangunan bahkan pemukiman warga membuat kita semua tak bisa melupakan cerita tentang Palu.

Semoga Palu bisa bangkit dan perekonomian dan cepat pulih kembali. Kejadian seperti likuifaksi tersebut tentu kita sebagai manusia harus mampu menerjemahkannya. Di balik kejadian tersebut tentu ada pesan yang akan disampaikan oleh alam, karena sesungguhnya bahasa alam adalah bahasa Tuhan. Secanggih dan seperkasa apa pun manusia jika alam sudah murka, maka manusia tidak mungkin dapat berdaya.

Penyebab alam menjadi murka banyak dicontohkan oleh kisah-kisah terdahulu. Seperti umat nabi Nuh dengan berbagai kezaliman dihancurkan oleh banjir. Umat nabi Syu’aib yang penuh dengan kecurangan dihancurkan dengan gempa yang mematikan. Umat nabi Luth yang dilanda kemaksiatan dihancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat, serta beberapa kejadian-kejadian yang lain.

Tulisan ini tidak bermaksud mengatakan bahwa terjadinya fenomena alam seperti likuifaksi tanah bergerak yang kemudian menimbun ratusan orang di Palu ini disebabkan oleh hal yang serupa dengan cerita di atas. Tetapi paling tidak peristiwa ini menjadi pembelajaran buat kita semua, di mana sebagai hamba harus sadar bahwa ada kekuatan alam yang maha dahsyat di dalam kehidupan ini. Kita semua berada dalam kontrol alam semesta. Segala tindakan, sikap dan ucapan semuanya dapat terkomunikasikan bersama alam. Apa yang kita kejar dan miliki di dunia ini, baik itu harta, pekerjaan dan teman wanita, semua sifatnya sementara dan tidak ada yang abadi.

Oleh karena itu, kita semua harus mampu berdialog dengan alam dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan sang pencipta dan pemilik alam beserta seluruh isinya.

*Akademisi Universitas Negeri Manado

(Visited 63 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Hamsah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.