Oleh: Hamsah
Bukan lagi hitungan hari namun tinggal sebatas hitungan jam kita akan sampai pada penghujung tahun 2022 dan akan memasuki tahun 2023 Masehi. Memasuki tahun baru seakan ada tahun yang telah berakhir. Seperti ada waktu yang telah selesai. Ibarat pekerjaan, selesai atau tidak selesai ia akan ditinggalkan karena kita akan memulai pekerjaan yang baru. Sehingga sebagian orang menganggap bahwa awal tahun akan menjadi letupan perubahan terhadap apa yang belum tercapai. Karenanya awal tahun akan melahirkan rencana-rencana baru untuk diwujudkan dalam satu tahun ke depan. Akan tetapi dalam menapaki waktu ke depan kita tidak pernah terlepas dari kecemasan baru yang akan dihadapi.
Namun, sejatinya waktu tidaklah pernah berakhir. Ia hanya berganti berdasarkan perhitungan hari, bulan dan tahun. Esensi tetaplah sama, ia akan terus berlangsung dan tak akan pernah selesai. Dengan demikian, mesin waktu akan terus bergerak dengan berbagai bentuk kecemasan yang dihasilkan. Beragam faktor akan menjadi penyebab munculnya kecemasan-kecemasan dalam diri individu dan masyarakat, mulai dari perkembangan era, lingkungan dan sikap individu itu sendiri.
Memasuki era disrupsi yang mempertontonkan ketidakpastian menjadi simpul utama yang terus melanggengkan kecemasan-kecemasan dalam diri individu dan masyarakat. Terlalu banyak harapan, impian, dan rencana yang ingin kita capai dalam perjalanan waktu. Namun, waktu tetaplah menjadi waktu yang terus bergerak dan tak pernah berkompromi dengan ketidak tercapaian dari apa yang kita inginkan.
Ditambah dengan kondisi lingkungan seperti penataan wilayah dan kota yang belum disinergikan dengan kondisi alam turut memberikan sumbangsi terhadap kecemasan-kecemasan masyarakat. Seperti akhir tahun yang layaknya dijadikan sebagai momentum bahagia namun justru menjadi wahana untuk berempati terhadap saudara-saudara yang terkena musibah seperti banjir, longsor dan sebagainya. Akhir tahun dengan curah hujan yang tinggi menjadi sumber kecemasan yang berulang terhadap masyarakat yang bermukim pada daerah langganan banjir.
Begitupun dengan sikap ambisi dari masing-masing individu akan terus memproduksi kecemasan baru dan melanggengkan kecemasan yang telah ada. Mulai dari kecemasan pribadi yang meningkat sampai pada kecemasan sosial. Kecemasan pribadi terbangun dari beberapa keinginan pribadi yang membutuhkan waktu dalam pencapaian. Begitupun dengan kecemasan sosial terbangun dari impian yang dilekatkan pada pengharapan dan penilaian masyarakat. Sehingga sebagian dari kita akan disibukkan dengan membangun dan mempertahankan citra yang telah ada. Kemudian kita akan merasa cemas jika citra tersebut tidak lagi menampilkan apa yang kita harapkan. Karena itu, kita seperti menggantungkan dan memilih jalan hidup berdasarkan pendapat orang lain.
Oleh karena itu, gerak kecemasan yang kita bangun menjadikan waktu sebagai ukuran ketercapaian. Tapi sejatinya waktu dan kecemasan tidaklah pernah selesai. Hal ini
seperti dalam quotes dari seorang antropolog Fysal bahwa pergantian tahun adalah permulaan yang hanya ditentukan oleh waktu, esensinya tak pernah final dari kecemasan.
