Oleh: Juharman Muliadi

Rabu pagi,1Februari 2023, suasana yang sangat ceria untuk mengawali bulan ini, melihat anak anak yang sangat antusias memasuki gudang ilmu yang lebih dikenal dengan perpustakaan. Rasa haru bercampur bangga melihat semangat generasi muda yang rela antri demi mendapatkan buku yang mereka senangi.
Semangat belajar mereka berkobar meskipun cara baca mereka masih ada yang kurang lancar dan bahkan salah dalam penyebutan katanya. Namun, mereka tidak sedikit pun memperlihatkan raut wajah sedih atau pun malu. Justru sebaliknya, saya melihat semangat anak-anak dalam belajar membaca. Seolah mereka paham bahwa ketika anak sekolah tidak bisa membaca, maka sekolah akan terasa menjadi siksaan baginya. Tapi sebaliknya, jika di usia dini sudah pandai membaca, maka sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar dan menimba ilmu tapi juga menjadi zona bermain dan tempat ternyaman yang mereka selalu rindukan.

Semangat yang jarang dimiliki oleh peserta didik di tempat lain ini, sangat patut diberikan apresiasi dan dukungan agar semangat itu tetap bersemayam di lubuk hati mereka yang masih belia, namun sudah paham akan kebutuhan mereka di masa yang akan datang. Beda halnya dengan anak-anak lain yang justru mungkin masih merengek, menangis kepada ibunya tak mau ke sekolah jika tak memiliki uang jajan, sebaliknya potret dari keseharian mereka justru masalah itu mereka atasi dengan membawa kotak nasi masing-masing dari rumah.

Ada yang menarik dari keseharian yang mereka lakukan. Berbagi lauk dan makanan sudah tidak asing bagi mereka. Rasa persaudaraan begitu kuat sehingga kita tidak akan pernah menemukan kelompok-kelompok kecil di antara mereka yang sering disebut oleh anak jaman now sebagai gamers. Kalau pun ada kelompok kecil yang akan kita temui, sudah pasti itu adalah kelompok belajar mereka yang memiliki gaya tongkrongan seperti orang dewasa yang membaca buku di bawah pohon sambil menikmati senja dan secangkir kopi.

Kebiasaan mereka harus kita lihat dengan cermat, perhatikan dan apresiasi karena banyak yang di luar sana menginginkan untuk membangun kecintaan pada literasi untuk anak-anak didik mereka, namun justru kesadaran peserta didik itu sendiri belum ada dan masih memilih untuk bermain. Tak heran juga jika banyak di antara pendidik yang melarang siswa untuk berkeliaran, justru tidak memberikan kesibukan yang dapat memicu perkembangan kognitif atau psikomotorik dari siswa tersebut. Oleh karena itu, ini menjadi langkah yang mudah bagi kita karena sisa merawat dari semangat literasi dari hati dan jiwa mereka.
“Mari galakkan literasi untuk mengurangi penggunaan gadget pada anak.”

Salam Literasi.

(Visited 55 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.