Oleh: Nurhadi*
Sesungguhnya pengalaman ini sudah beberapa bulan lalu, namun karena menemukan energi penggerak di dalamnya, maka terasa menarik untuk diabadikan dalam tulisan. Terlebih pernah membaca sebuah ungkapan bijak yang mengatakan, jika disuarakan dengan bahasa lisan suatu saat akan terlupakan, namun jika disuarakan dengan bahasa tulisan akan abadi selamanya”.
Pada acara PKKMB Fakuktas Ekonomi Universitas Ekasakti Padang beberapa waktu lalu, ada seorang narasumber hebat diundang panitia untuk melahirkan generasi petarung masa depan. Pada umumnya panitia tidak mengenal sosoknya, terlebih para mahasiswa baru pasti tidak familiar siapa orangnya, termasuk saya yang belum pernah mendengar namanya di lingkungan kampus.
Narasumber tersebut adalah seorang inspirator, Bapak Ruslan Ismail Mage. Dengan suara lantang beliau memberikan motivasi membangun jiwa kami yang tadinya lelah ingin menyerah menjadi jiwa penuh semangat membara untuk terus berjuang dalam menuntut ilmu.
Dalam acara tersebut ada lima orang mahasiswa penuh percaya diri yang diminta tampil ke depan menyebut tokoh bangsa idolanya. Kalau sama tokoh bangsa di halaman pertama karya bukunya berjudul, “Generasi Emas Minangkabau (Pemikir Besar Nusantara)”, maka berhak mendapatkan bukunya setebal 600 halaman tersebut.
Salah satu dari lima mahasiswa itu adalah saya. Kebetulan sejak SD saya suka membaca buku sejarah perjuangan bangsa menuju kemerdekaan, sehingga saya menyampaikan bahwa tokoh bangsa idolaku adalah Tan Malaka, orang pertama yang menulis tentang Indonesia merdeka 20 tahun sebelum kemerdekaan.
Ketika sang inspirator menyuruh saya untuk membuka bukunya di halaman pertama, yang kulihat adalah wajahku dalam pantulan cermin yang diletakkan di halaman pertama buku itu. Sesaat kemudian pak Ruslan pun menanyakan kepada saya, siapa yang kamu lihat di dalam buku halaman pertama ini? Saya menjawab melihat diriku sendiri.
Dengan suara yang membahana, pak Ruslan melantangkan suaranya kepada saya, “Wahai anak muda, yang kamu lihat dari buku halaman pertama tersebut adalah seorang Tan Malaka muda, penerus Tan Malaka”. Subhanallah, seketika air mata ini tidak bisa tertahankan, tidak bisa tebendung lagi. Saya meneteskan air mata sebagai tanda seorang yang ingin terus bergerak sebagaimana tokoh bangsa idola saya.
Saya salah satu panitia dari acara PKKMB tersebut sangat termotivasi olehnya dan beliau berkata, “Barang siapa yang menahan lapar, menahan ngantuk, menahan lelah, karena menuntut ilmu, maka ia akan tersenyum bahagia di masa dewasa”. Kata tersebut yang di ucapkan oleh sang penggerak jiwa, seorang akademisi sekaligus inspirator dan penulis buku produktif yang dimiliki Univeraitas Ekasakti Padang.
Terima kasih bapak Ruslan Ismail Mage yang telah memberikan energi lebih untuk jiwa yang ingin terus bergerak. Gagal, jatuh, bangkit lagi, dan bangkit lagi untuk terus melangkah menjemput masa depan yang gilang gemilang. Begitulah mataku basah di saat jiwaku membara penuh semangat.
*Mahasiswa Universitas Ekasakti Padang

Profisiat….Salam kenal
Puji Tuhan.
Kita dipertemukan dalam lewat satu wadah yakni Bengkel Narasi yang selalu mengudara di Angkasa.
Profisiat Bang RIM.
Inspirator dan pendiri Bengkel Narasi.