Kolom Ruslan Ismail Mage*
Seorang ibu dan anaknya merasa senang dan bahagia mendengar kendaraan suaminya memasuki pagar rumah. Senang karena dari pagi di rumah menunggu suami yang seharian bekerja sudah sampai dengan selamat. Bahagia karena lelaki sang penanggung jawab keluarga tidak pernah telat pulang sebagai bukti kecintaan pada anak dan istri.
Bergegaslah sang ibu dan anaknya menyambut sang suami di pintu. Namun, betapa kagetnya sang intri ketika membuka pintu melihat suaminya pulang tanpa kepala. Seketika anaknya yang masih kecil berteriak, “Papaaaaaaa, mana mukanya?”
Sang istri pun mengulangi teriakan anaknya, “Papaaaaaaa, mana mukanya?”
Sang suami kaget dan baru sadar bahwa sejak meninggalkan kantor tadi tidak pakai muka.
“Waduh! Mukaku mana, ya?” Sambil panik sang suami berusaha mengingat-ingat disimpan di mana tadi mukanya sebelum pulang kantor. Lama hilir mudik sambil mengeluarkan sebatang rokok dan korek api untuk mengurangi kepanikannya. Ketika dia mau mengisap rokoknya, baru sadar lagi bahwa mukanya tidak ada. Dia pun duduk loyo, termenung mengingat-ngingat di mana dititipkan mukanya tadi.
Lama baru ingat bahwa pagi tadi di kantor ia menyimpan mukanya di laci meja bosnya. “Maaf Mama, sudah ingat! Tadi waktu dipanggil menghadap bos di kantor aku titip mukaku di meja bos.”
“Dasar tukang cari muka…” Hampir saja anak istrinya pingsan karena suaminya pulang ke rumah tanpa muka. “Papa tidak usah cari-cari muka. Permanenkan aja mukanya. Walaupun jelek, aku tetap mencintaimu tanpa syarat tanpa batas,” kata sang istri.
Mari menyimak!
*Penulis, inspirator, dan penggerak

Suka tulisan ini …mantul… Jadilah diri sendiri, apa adanya.. Pelajaranku siang ini di BN