Adikku, kini usiamu telah memasuki 23 tahun. Sedikit banyaknya pahit manis dalam kehidupan telah engkau semai. Engkau kini telah tumbuh menjadi sosok yang dewasa dalam berfikir dan bijak dalam berprilaku. Sebagai Kakak yang tertua, besar harapanku kepadamu.

Adikku, kelak kamu akan melalui getirnya kehidupan yang kian menyulitkan. Jangan surutkan langkahmu, melangkahlah dengan pasti. Pilihannya ada padamu, apakah trus melangkah atau bertahan untuk melanjutkan hidup.

Adikku, kelak engkau akan tahu bahwa di sekelilingmu ada banyak orang yang sangat menyayangimu. Rela meluangkan waktu untuk menghabiskan hari ditengah terik, bolak balik setiap pagi dan malam sebelum tidur demi makanan dan pakaian yang engkau kenakan.

Adikku, tumbuhlah menjadi pribadi yang membanggakan kedua orang tua. Bermanfaat bagi sesama dan berguna bagi bangsa dan negara.

Adikku, milikilah pribadi yang menyenangkan bagi banyak orang, bukan pribadi yang dapat menyesatkan banyak orang.

Adikku, waktu itu tidak bisa dibagi, tetapi bagaimana kita mengatur waktu itu untuk sekiranya berguna dan tidak ada kesia-siaan.

Adikku, Jaga ibadahmu karena hanya itu modal utamamu untuk meraih keberkahan menjalani kehidupan ini, jaga perilakumu sebagai implementasi dari ibadahmu.

Adikku, engkau terlahir bukan dari keluarga yang bergelimang harta, tahta dan jabatan. Sehingga engkau harus mencatat sejarah atas namamu sendiri.

Adikku, engkau harus mengerti tentang bagaimana lelahnya kerja ditengah terik, bagaimana air mata paham arti keringat, dan tentang bagaimana arti kenyang dan menahan lapar dikala tidak memiliki uang. Buatlah dirimu mengerti dan faham tentang hal itu.

Adikku, perbanyaklah menjalin silaturahmi, bergaulah dengan banyak orang dan menjadikan mereka teman. Karena teman adalah nasib, semakin banyak bergaul maka semakin besar harapan. Nasib kita kadang ditentukan oleh teman adikku. Tapi tidak mesti menggantungkan nasib terlalu tinggi, karena fitrahnya bahwa rezeki itu berada pada orng lain. Semakin banyak relasi maka semakin banyak peluang yang menghasilkan potensi.

Adikku, engkau harus faham bahwa saat namamu tercatat buruk dalam sejarah, maka engkau akan habiskan waktumu untuk mengubah cacatan sejarah itu. Sehingga mengerti dan fahamkanlah dirimu serta sibukkanlah dirimu untuk membuat sejarah atas namamu sendiri.

Adikku, jangan pernah jadi penikmat sejarah. Sibuklah jadi pelaku sejarah, karena itu penting bagimu dan untuk masa depanmu.

Doaku menyertaimu, dan doa kami semua menyertaimu.

(Visited 91 times, 1 visits today)
3 thoughts on “Teruntuk Adikku”
    1. Alhamdulillah terimakasih Kak,. Saya juga selalu bangga ounya keluarga BN, yang selalu support dalam melakukan segala hal baik. Alhamdulillah

      1. Iya Dinda. Kita saling mengsupport untuk semuanya supaya muncul di permukaan. Semangat Dinda untuk selalu menabur kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.