Bagaimana caranya supaya para murid menyukai materi yang diajarkan oleh sang guru? Ketika seorang guru masuk ke dalam kelas, dengan rasa percaya diri, menguasai materinya, mengajar dengan murid-muridnya dengan senyuman dan cinta pada mereka, pasti mereka suka.

Di dalam kelas harus tegas sebagai seorang guru, tapi di luar kelas guru harus menempatkan diri sebagai teman curhat dan sahabat bagi muridnya. Dengan cara inilah para murid akan menyayangi kita sebagai seorang guru dan mau menerima materi yang kita ajarkan.

Kadang kita terlalu sibuk mengajar, sampai lupa satu hal penting: Apakah murid kita mau belajar dari kita atau tidak? Kita bisa punya gelar panjang, metode canggih, suara lantang. Tapi semua itu bisa jadi sia-sia… kalau ternyata mereka tidak suka sama kita.

Ini bukan soal ingin disukai demi popularitas. Ini soal pengaruh. Anak-anak tidak membuka telinga, apalagi hati, pada orang yang membuat mereka takut, malu, atau tidak nyaman. Sering kali kita salah paham. Kita kira mereka malas. Padahal mungkin, mereka hanya merasa “tidak aman” bersama kita.

Coba ingat guru favorit kita dulu. Pasti bukan yang paling galak. Tapi yang membuat kita merasa dilihat, didengar, dan dihargai. Anak-anak juga ingin hal yang sama. Mereka peka. Mereka tahu siapa yang mengajar dengan cinta dan siapa yang cuma mau cepat pulang.

Sebelum menilai kemampuan anak-anak, yuk tengok diri kita: Apakah aku membuat mereka merasa aman? Apakah mereka percaya padaku?

Karena sekali lagi: “Murid hanya akan belajar dari guru yang mereka sukai”. “Disukai” bukan soal lucu atau modis—tapi soal menjadi manusia yang tulus, hangat, dan benar-benar peduli.

Bukan mendidik mereka dengan kekerasan dan tangan besi ala jaman portu dengan palmatorinya. Melainkan menurut ajaran seorang Santo bernama Don Bosco, yang mengajarkan sistem preventifnya pada muridnya, dengan cinta dan pengorbanan. Mendidik mereka dengan kasih Tuhan, menunjukkan jalan Etika Moral pada muridnya agar bertingkah laku yang baik, di sekolah maupun di masyarakat.

Jadi tugas seorang guru adalah, menempatkan diri di dalam kelas maupun di luar kelas, harus menjadi teman dan sahabat bagi mereka, dengan cinta seorang bapak atau ibu kedua di sekolah. Guru yang baik bukan hanya menaikkan mereka dari satu kelas ke kelas lainnya, tetapi misi utamanya adalah mengantar anak muridnya hingga mencapai kesuksesannya di masa depan.

Semoga misi mulia dari seorang guru sebagai pendidik ini, dapat terwujud apabila seorang guru berintrospeksi dirinya, pada saat mulai masuk kelas untuk mengajar, apakah murid-murid menerimanya dengan wajah gembira atau sebaliknya?

Jika wajah mereka terlihat gembira dan senang berarti mereka menyukai gurunya, tetapi sebaliknya mereka tidak menyukainya. Jika sudah tidak menyukainya, otomatis materinya juga tidak disukainya.

By prof. Edo Santos’25

(Visited 72 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.