Para generasi Z masa kini, hanya beramai-ramai masuk sekolah, bukan mencari ilmu, tapi hanya untuk meramaikan lingkungan sekolah saja, bahwa dia juga turut mengambil bagian dalam sekolah tersebut. Apalagi mencari kualitas itu jauh dari impian dan harapan para guru yang mengajari mereka.

Mengapa tidak? Kenyataannya setiap hari masuk sekolah, mengikuti pelajaran tidak focus, lupa membawa peralatan sekolah, lupa memakai seragam sekolah sesuai dengan hari yang telah ditentukan, lupa membawa kartu siswa, tidak membuat PR, terlebih tidak mendengar penjelasan guru di dalam kelas.

Tapi asyik ngobrol sama teman tiada habisnya, entah apa yang dibahas tidak tahu, hanya di atas yang tahu. Tapi mulutnya selalu komat-kamit bercerita, layaknya sejak lahir Ia konsumsi kodok, sehingga bersuara dalam kelas gaya kodok. Tidak menghiraukan guru yang ada dalam kelas, Ia dianggap sebagai boneka mereka, keluar masuk sesuka hati, tanpa pamit. Main hp di belakang, main game, main tiktok, semau mereka. Sudah dekat ujian baru melakukan pdkt (pendekatan) pada guru mapel bersangkutan untuk memohon nilai tinggi.

Generasi Z adalah generasi yang tak beretika dan bermoral secara rata-rata. Hanya segelintir murid saja yang berinisiatif untuk belajar, karena mereka ini mengikuti group tertentu, yang tau etika dan moral. Hal ini karena pengaruh gadget, dan peraturan pemerintah TL yang mengaplikasikan demokrasi edukasi dalam lingkungan sekolah, sehingga guru diikat kaki dan tangannya untuk bertindak, menegur, menyapa, mendidik,  mereka dengan sistem ala portu dulu.

Model-model inilah yang membuat para siswa berbuat sesuka hatinya, semau gue, mau ikut materi atau tidak, terserah. Kalau generasi model begini, apa jadinya masa depan mereka? Mereka hanya akan menjadi sampah masyarakat.

Apalagi sekarang lapangan kerja semakin sulit digapai, dengan skill tertentu. Untung jika ada kenalan atau istilahnya ada bapak dan mama baptis di tempat kerja ya baik. Walaupun tidak ada skill apa-apapun ya diterima saja, karena ada kenalan di dalam.

Bandingkan dengan zaman era 80-an dan 90-an, para murid sangat menghormati dan takut pada sang guru, karena guru itu dianggap sebagai orang tua kedua di sekolah, yang siap sedia mendidik, membina, mengasah otak anak didik, hingga mereka betul-betul matang dan tahu materi yang diikutinya.

Hingga ada yang rela membayar guru-guru mapel (mata pelajaran) tertentu seperti, matematika, fisika dan kimia, untuk memberikan les tambahan, supaya mendalami mapel tersebut, guna mempersiapkan diri pada EBTANAS, bagi mereka yang telah duduk di bangku akhir kelas tiga SMP maupun SMA.

Hal seperti ini sudah tidak relevan lagi pada mereka, karena segala sesuatu telah tersedia semuanya dalam Kamus Besar Google. Tinggal klik saja, semuanya keluar sesuai dengan keinginannya. Tapi apakah ini membuat mereka pintar atau sebaliknya. Sehingga matematika sederhana saja tidak bisa menjawabnya dan harus menggunakan kalkulator.

Apalagi sekarang bagi generasi Z muncul lagi satu aplikasi namanya AI (Artificial Inteligent), yang menjawab semua pertanyaan dari segala bidang study. Tinggal memasukkan pertanyaannya hasilnya akan keluar sesuai dengan keinginan. Semuanya mie instan, serba jadi, serba cepat, di era globalisasi ini. Namun di balik itu menyimpang sejuta kebodohan bagi si pakainya. Sehinga kadang-kadang saya menjuluki mereka dengan sebutan batalion 801, yang berarti masuk jam 8, pulang jam 1, tapi isinya kosong.

Supaya seorang siswa dapat fokus pada mapel di sekolah, dan tahu etika moral, maka yang bersangkutan harus rajin mengikuti kegiatan di gereja, di group-group lainnya, yang membantu dan mendukung dirinya, supaya maju dalam intelektual dari segi etika dan moral, niscaya masa depannya akan gemilang.

By prof.EdoSantos’25

(Visited 52 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.