Rasa syukur yang mendalam atas anugerah Allah yang maha Rahim. tanpa karunia-Nya mustahil buku ini bisa terselesaikan tepat waktu. Mengingat tiga bulan terakhir kondisi fisik sedang tidak baik-baik saja, sehingga harus konsul rutin ke dokter. Hasilnya saya diminta istirahat dan mengatur pola makan untuk memulihkan kesehatan. Dalam masa recovery itu, entah kenapa tiba-tiba saya teringat pesan yang dikirim melalui Whatsapp kurang lebih satu tahun lalu. Narasi pesannya, “Dalam agama Islam, selain perintah wajib melaksanakan shalat lima waktu, ada perintah lain yang sangat penting juga dipahami dan dilaksanakan, yaitu perintah membaca dan menulis (RIM)”. Seketika pesan dari sang inspirator Ruslan Ismail Mage ini terus meresap dalam kalbuku.Sejak itu kegemaran menulis mulai tunbuh, terlebih setelah bergabung ke dalam komunitas menulis Bengkel Narasi (BN) akhir april 2021 yang diasuh oleh mentor-mentor profesional menulis. Akibatnya, bukan lagi jatuh cinta kepada dunia tulis menulis, tetapi sudah ketagihan menulis.
Sehari tidak menulis rasanya ada yang kurang dalam hidup ini. Karena itu, di musim pandemi yang mengharuskan bekerja di rumah, penaku seperti menemukan ruang sejuk untuk “berbulan madu”. Lahirlah kemudian puluhan tulisan dan bait-bait puisi sebagai bahasa jiwa dalam memaknai kehidupan. Penaku selalu menggeliat ingin menulis apa yang ada dibenak tanpa memikirkan apa yang tertulis, yang pasti dengan menulis saya bisa merasa menemukan sesuatu yang menjadi terapi jiwaku. Benar kata bunda Pipit Senja, “Menulis bisa menjadi terapi jiwa yang menyehatkan”. Saya sudah menjadi saksinya. Tercatat 40 lebih judul tulisan yang sudah menjadi terapi jiwaku, kini menjelma menjadi buku berjudul, “Pandemi Cinta di Taman Literasi” seperti yang sekarang ada di tangan pembaca.
Sejak bergabung di Bengkel Narasi, saya ditempah untuk mampu mengendalikan emosi, merendahkan hati, dan menumbuh kembangkan jiwa kemanusiaan. Filosofi Bengkel Narasi, “Menulis sambil memeluk kemanusiaan, menulis sambil mengurus kehidupan, menulis sambil berbagi”, benar-benar telah meresap dalam kalbu.Buku kedua ini masih tetap lahir dalam proses belajar menulis lebih baik. Karena itu, kalau di sana-sini pembaca menemukan kekurangan mohon dimaklumi. Sebaliknya jika menemukan energi kreatif, sekecil apa pun nilainya dalam buku ini, silahkan dijadikan bahan inspirasi dalam memaknai kehidupan.
