Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) VI tahun 2025 telah usai. Satu per satu Bupati dari seluruh nusantara meninggalkan Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara. Kebanyakan melalui Bandar Udara Sam Ratulangi. Sebagian kecil menempuh jalan darat, terutama yang dari Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah.

Mereka yang dari luar Sulawesi Utara, banyak yang takjub dengan pemandangan di Minahasa Utara. Bukan sekadar menikmati banyak B: Bunaken, Bubur Manado, Berenang di perairan Bunaken, Bercengkerama sambil lihat sunset di kawasan Megamall, atau Berlari pagi sampai Jembatan Soekarno Hatta.

Selain B, sebagian wilayah Minahasa Utara juga menyuguhkan pemandangan indahnya Gunung Klabat di sebelah Timur, yang menjulang indah seperti Merapi dilihat dari Jogjakarta, atau Sumbing yang menakjubkan dari Magelang. Dari pesawat, pemandangan Gunung Klabat ini jauh lebih indah.

“Sayang sekali berkabut, padahal kita bisa melihat indahnya pemandangan. Entah kapan lagi bisa ke sini,” kata penumpang yang duduk di sebelah penulis, seat 26B. Dia mengaku staf protokol salah satu Bupati di Jawa Timur dan baru kali ini ke Manado.

Selesainya Munas dan HUT Apkasi, dan kembalinya para peserta dan pendukung ke daerah masing-masing, ternyata meninggalkan sejuta kenangan tentang Bumi Nyiur Melambai, julukan Sulawesi Utara, dan Kota Seribu Satu Gereja, julukan Kota Manado.

Yah, meski kegiatan utama Munas dilaksanakan di Minahasa Utara, sebagian besar peserta nginap di Kota Manado, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit, kecuali ke acara welcome dinner dan funwalk yang waktu tempuhnya hampir 2 jam. Lokasi kedua kegiatan ini di pantai Utara, tepatnya di Kecamatan Likupang, Minahasa Utara.

Minahasa Utara, terutama Hotel The Sentra, yang pada Musyawarah Nasional (Munas) Apkasi VI penuh sesak dengan manusia, kini kembali seperti biasa. Masih ramai tamu tentu saja, namun tidak seramai saat ada kegiatan nasional.

Jalannya Munas Apkasi VI

Sebanyak 516 Bupati, masing-masing didampingi Ketua Tim Penggerak PKK, Sekda dan 2 Kepala Bagian, serta tentunya ajudan, protokol dan dokumentasi, memadati tempat acara, Hotel The Sentra Manado yang beralamatkan di Jl. Ir. Soekarno, Maumbi, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara.

Ruang Pertemuan Sam Ratulangi di lantai 6 penuh sesak. Tidak semua bisa masuk. Para pengawal tetap di luar ruangan, berpencar, antri di depan lift dan di pintu toilet, duduk di sisi-sisi ruangan sambil sekedar tiduran memanfaatkan waktu untuk istirahat kumpulkan energi, atau nongkrong di café. Hampir separuh dari pendamping ini menghabiskan waktu berjam-jam di ruang terbuka di depan ruang pertemuan. Tempat sampah yang disediakan pihak hotel tidak mampu mencegah banyaknya sampah-sampah kecil berbentuk batang warna putih sekitar 2 centimeter yang bertebaran di mana-mana.

Kembali ke ruangan pertemuan Sam Ratulangi. Tempat ini padat selama satu hari penuh. Lalu kemudian jadi saksi bisu lahirnya tokoh yang selama 5 tahun ke depan, akan menjadi pucuk pimpinan di Apkasi.

Dialah Bursah Zarnubi, Bupati Lahat Provinsi Sumatera Selatan, yang terpilih secara aklamasi sebagai ketua Apkasi periode 2025-2030. Bursah menerima tongkat estafet kepemimpinan Apkasi yang sebelumnya dijabat oleh Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin atau Cak Ipin sebagai Pejabat Sementara (Pjs). Sebelumnya ada dua kandidat, satunya tuan rumah Bupati Minahasa Utara Joune Ganda. Namun setelah konsolidasi, semua peserta sepakat memilih Bursah Zarnubi. Sementara Joune Ganda sebagai Sekretaris Umum.

Untuk selanjutunya Ketua Bursah akan jadi perpanjangan tangan para Bupati se-Indonesia dalam menangani urusan-urusan keorganisasian Apkasi, juga untuk komunikasi dengan baik pada pimpinan, terutama di pusat. Meskipun tentu saja secara individual mereka bisa melakukannya dengan sangat mudah.

Dalam sambutannya usai terpilih, Bupati yang sudah periode kedua ini memimpin Bumi Seganti Setungguan (dalam bahasa Besemah yang artinya suka membantu dan rela berkorban) menekankan pentingnya peran Apkasi dalam menyongsong Indonesia Emas 2045 dan menilai Apkasi sebagai wadah strategis dalam merancang kebijakan daerah.

Seperti diwartakan di cnbcindonesia.com, Bursah menyebut Apkasi akan menjadi ruang kajian, menyusun rekomendasi terhadap isu-isu penting agar menjadi rujukan nasional. Salah satu isu utama yang diangkatnya adalah soal desentralisasi. Ia menyoroti semakin terbatasnya kewenangan pemerintah daerah, terutama dalam aspek penganggaran.

“Hak-hak pemerintah daerah banyak direnggut pusat. Untuk dana operasional saja sulit. Ini harus diperjuangkan agar otonomi daerah tidak hanya sekadar slogan. Bayangkan, gaji saya sebagai Bupati hanya Rp 5,7 juta. Bagaimana kami bisa bekerja maksimal dan mencegah praktik korupsi jika dukungan anggaran minim?” katanya.

Isu lain, Bursah juga menyoroti perihal pendidikan dan menyampaikan komitmen Apkasi untuk mendukung program pendidikan dasar gratis secara nasional, sekaligus mendukung program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Program MBG mestinya sudah berjalan lebih cepat. Tapi kenyataannya masih minim koordinasi dengan pemerintah kabupaten. Apkasi siap membantu pemerintah pusat dalam pelaksanaan MBG, termasuk misalnya dengan menghibahkan lahan untuk fasilitas penunjang,” jelas Bursah.

==

Sepekan berlalu. Ketua Bursah telah kembali ke Lahat. Sekretaris Umum Joune juga semakin semangat beraktifitas sebagai Bupati Minahasa Utara. Bupati lain pun kembali ke daerah masing-masing, lanjut dengan rutinitas, kembangkan inovasi, penuhi janji politik, dan penuh semangat mengejar target 100 hari kedua, ketiga dan seterusnya.

Untuk Bursah dan Joune dengan tugas barunya, sekarang dan ke depan akan lebih aktif dari sebelumnya. Mungkin akan lebih sering berada di eks ibukota RI. Semoga amanah buat Bapak berdua.

Sebanyak 516 orang, termasuk Bapak berdua, berharap yang lebih baik. Tomorrow must be better than today. Lebih bisa mensejahterakan rakyatnya. Lebih mudah melangkah membantu terwujudnya Indonesia Emas 2045, dan satu yang paling penting, adalah terhindar dari jeratan hukum.

Apkasi bukan sekadar jembatan untuk jabatan politik yang lebih tinggi: Gubernur, Menteri, RI 1 dan RI 2. Meskipun, sah-sah saja jika memiliki ambisi ke arah itu.

Catatan:
Sayangnya penulis tak punya hak suara di pemilihan Ketua Apkasi. Seandainya ada, maka tentu saja penulis akan mengusulkan Bupati Paser, Bupati Mamasa, atau Bupati Enrekang.
Selamat Hari Raya Idul Adha, 10 Zulhijjah 1446H/6 Juni 2025

Somewhere between Manado and New Indonesian Capital, Awal Juni 2025

(Visited 37 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.