13. Guru sebagai Pemindah Kemah
Hidup ini selalu berubah, dan gurulah yang mampu memindahkan kemah kehidupan, dan membantu peserta didik meninggalkan hal yang lama menuju sesuatu yang baru yang bisa mereka alami. Guru berusaha keras untuk mengetahui masalah peserta didik, kepercayaan, dan kebiasaan yang menghalangi kemajuan serta membantu menjauhi dan meninggalkannya untuk mendapatkan cara-cara baru yang lebih sesuai.
Untuk menjalankan fungsi ini, guru harus memahami mana yang tidak bermanfaat dan barangkali membahayakan perkembangan peserta didik, dan memahami mana yang bermanfaat.
Dalam proses meninggalkan cara lama dan mengambil cara yang baru merupakan sesuatu yang halus dan kompleks.
Dalam hal ini, kepribadian terbentuk melalui cara-cara berikut ini:
- Perilaku yang bersangkutan dalam merespon lingkungan hidup untuk memenuhi kebutuhannya.
- Secara berangsur-angsur atau sekaligus, baik kebutuhan maupun lingkungan berubah.
- Respons-respons terdahulu dikembangkan agar menjadi efektif, tetapi sering berubah menjadi kurang efektif dan bahkan membahayakan.
- Kepribadian senantiasa mewujudkan semua cara yang telah digunakan di masa lampau.
- Semua pola perilaku tetap bekerja untuk menemukan kebutuhan dan tuntutan-tuntutan.
- Di bawah semua tekanan, kepribadian berkembang menjadi gaya hidup, suatu cara menghadapi masalah kehidupan termasuk dirinya sendiri.
- Gaya hidup ini cenderung mengkristal dari waktu ke waktu, dan oleh karenanya kepribadian menjadi lebih kaku atau tidak luwes.
Banyak hal yang bisa dilakukan guru untuk memelihara pertumbuhan kepribadian:
- Pertama, bisa menjadi orang yang siap dengan pengertian, seperti konflik antara keinginan untuk tetap dan untuk berubah, serta menyadari dan tidak menyadari.
- Kedua, berusaha keras untuk memberikan pengalaman yang luas sehingga memungkinkan peserta didik menilai keberadaannya sehubungan dengan pengalamannya.
- Ketiga, guru juga sebagai “swinger”, yang berpindah dari satu posisi ke posisi lain, khususnya dalam ide.
Fungsi demikian terjadi dalam pembelajaran ketika peserta didik telah berhasil memecahkan suatu masalah, dan berpindah ke masalah lain.
14. Guru sebagai Pembawa Cerita
Dalam hal ini, perpustakaan yang besar telah menjadi monument yang hebat bagi pikiran manusia, kekayaan yang ditinggalkan manusia sedunia telah tertulis dalam buku-buku, halaman, garis-garis, yang menyimpang kata-kata tertulis tersebut.
Menjadi kewajiban manusia untuk mengembangkan luasnya kehidupan dalam ide-ide dan membiarkan mereka hidup kembali, walaupun bagaikan bunga-bunga di padang pasir, terbengkalai untuk sementara waktu, tetapi untuk sampai pada saat kehidupan baru mereka disuburkan oleh hujan, salju dan sinar matahari.
Guru, dengan menggunakan suaranya, memperbaiki kehidupan melalui puisi, dan berbagai cerita tentang manusia. Guru tidak takut menjadi alat untuk menyampaikan cerita-cerita tentang kehidupan, karena ia tahu sepenuhnya bahwa cerita itu sangat bermanfaat bagi manusia, dan ia berharap bisa menjadi pembawa cerita yang baik.
Salah satu karakteristik pembawa cerita yang baik adalah, mengetahui bagaimana menggunakan pengalaman dan gagasan para pendengarnya, sehingga mampu menggunakan kejadian di masa lalu untuk menginsterpretasikan kejadian sekarang dan yang akan datang.
Jadi guru diharapkan mampu membawa peserta didik, mengikuti jalannya cerita dengan berusaha membuat peserta didik, memiliki pandangan yang rasional terhadap sesuatu.
15. Guru sebagai Aktor
Sebagai seorang aktor, guru harus melakukan apa yang ada dalam naskah yang telah disusun dengan mempertimbangkan pesan yang akan disampaikan kepada penonton.
Untuk menjadi aktor yang mampu membuat para penonton bisa menikmati penampilannya, serta memahami pesan yang disampaikan, diperlukan persiapan, baik pikiran, perasaan maupun latihan fisik.
Sebagai seorang aktor, guru melakukan penelitian tidak terbatas pada materi yang harus ditransferkan, melainkan juga tentang kepribadian manusia, sehingga mampu memahami respons-respons pendengarnya, dan merencanakan kembali pekerjaannya sehingga bisa dikontrol. Demikian pula, guru harus memiliki kemampuan menunjukkan penampilannya di depan kelas.
Untuk menghibur orang-orang yang merasa bahwa guru bukanlah seorang aktor atau harus tidak bertindak sebagai aktor, sebaiknya dilihat proses bagaimana dia menjadi seorang aktor yang nyata. Ia memilih mengajar sebagai karier, mengabdi melalui bidang studi tertentu, yang memerlukan waktu, uang, tenaga dan harus menguasai bidangnya, serta belajar mengajarkannya kepada orang lain.
16. Guru sebagai Emansipator
Guru dengan kecerdikannya mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insan, dan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan “budak” stagnasi kebudayaan. Ketika masyarakat membicarakan rasa tidak senang kepada peserta didik tertentu, guru harus mengenal kebutuhan peserta didik tersebut akan pengalaman, pengakuan dan dorongan.
Untuk memiliki kemampuan melihat sesuatu yang tersirat, perlu memanfaatkan pengalaman selama bekerja, ketekunan, kesabaran dan kemampuan menganalisis fakta yang dilihatnya, sehingga guru mampu mengubah keadaan peserta didik dari status “terbuang” menjadi “dipertimbangkan” oleh masyarakat.
Dari aksi inilah guru telah melaksanakan fungsinya sebagai emansipator, ketika peserta didik yang telah menilai dirinya sebagai pribadi yang tak berharga.
Guru melihat potensi dan kreativitas peserta didiknya tampak mengalir, namun dari sisi lain ada yang terisolasikan dari aliran lain, dan mengisi sumur itu dengan ide-ide, pengetahun dan harapan. Hal ini akan membantu peserta didik meraih hubungan dengan budaya sekitarnya dan hidup lebih berisi, lebih kaya, walaupun sering kali mendapatkan hambatan. Itulah kehidupan.
17. Guru sebagai Evaluator
Evaluasi atau penilaian merupakan, aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variable lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian.
Kemampuan lain yang harus dikuasai guru sebagai evaluator adalah, memahami teknik evaluasi, baik test maupun non test yang meliputi jenis masing-masing teknik, karakteristik, prosedur pengembangan, serta cara menentukan baik atau tidaknya ditinjau dari berbagai segi, validitas, reliabilitas, daya beda, dan tingkat kesukaran soal.
Hal penting yang perlu diperhatikan adalah, bahwa penilaian perlu dilakukan secara adil, secara obyektif, tidak dipengaruhi oleh factor keakraban (hallo efect), menyeluruh, mempunyai kriteria yang jelas, dilakukan dalam kondisi yang tepat, dan dengan instrument yang tepat pula, sehingga mampu menunjukkan prestasi belajar peserta didik sebagaimana adanya.
Selain menilai hasil belajar peserta didik, guru harus pula menilai dirinya sendiri, baik sebagai perencana, pelaksana, maupun penilai program pembelajaran. Oleh karena itu, dia harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang penilaian program sebagaimana memahami penilaian hasil belajar.
18. Guru sebagai Pengawet
Untuk melaksanakan tugasnya sebagai pengawet terhadap apa yang telah dicapai manusia terdahulu, dikembangkan salah satu sarana pendidikan yang disebut kurikulum, yang disederhanakan menjadi program pembelajaran.
Dengan kurikulum, maka jaminan pengetahuan yang telah ditemukan dan disusun oleh para pemikir pendidikan lebih kuat. Dalam perkembangan kurikulum memiliki sifat fleksibel, sehingga memungkinkan perubahan, guru mengembangkan kreativitasnya, memberi peluang untuk penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat, seperti muatan lokal, desentralisasi, dan kurikulum berbasis kompetensi yang dikemas dalam kurikulum 2004.
Sebagai pengawet, guru harus berusaha mengawetkan pengetahuan yang telah dimiliki dalam pribadinya, dalam arti guru harus berusaha menguasai materi standar yang akan disajikan kepada peserta didik. Oleh karena itu, setiap guru dibekali pengetahuan sesuai dengan bidang yang dipilihnya.
19. Guru sebagai Kulminator
Belajar di ruang kelas tidak bersifat insidental (secara acak/random), melainkan terencana, artificial, dan sangat selektif. Guru harus mampu menghentikan kegiatannya pada suatu unit tertentu dan maju ke unit berikutnya. Untuk itu diperlukan kemampuan menciptakan suatu kulminasi pada unit tertentu dari suatu kegiatan belajar. Kemampuan ini tampak dalam bentuk menutup pembelajaran, menarik atau membuat kesimpulan bersama peserta didik, melaksanakan penilaian, mengadakan kenaikan kelas, dan mengadakan karya wisata.
Guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta didik bisa mengetahui kemajuan belajarnya. Di sini peran sebagai kulminator terpadu dengan peran sebagai evaluator.
Melalui rancangannya, guru mengembangkan tujuan yang akan dicapai akan dimunculkan dalam tahap kulminasi. Dia mengembangkan rasa tanggung jawab, mengembangkan keterampilan fisik dan intelektual yang telah dirancang sesuai dengan kebutuhan masyarakat melalui kurikulum.
Benarkah kemampuan-kemampuan yang dikembangkan itu bisa muncul dalam tahap kulminasi? Tugas guru untuk menjawabnya melalui pengamatan terhadap pelaksanaan tahap kulminasi oleh sang kulminator.
Kesimpulan:
Demikianlah “Peranan Guru dalam Pembelajaran” yang telah dijabarkan dan diuraikan secara terperinci dari 1 hingga 19, agar para calon guru atau para guru junior dan guru seniorpun harus membaca dan memahami konteks dari uriaan tersebut.
Semoga artikel mini, yang memuat intisari dari kegiatan belajar mengajar di kelas maupun di luar kelas (kursus/les private), harus membaca dan memahami konteks ini dan mengikuti aturannya, niscaya akan membawa dampak yang positif bagi peserta didik kita, yang kita bina dan juga bagi para guru sebagai pendidik. Demi masa depan mereka yang gemilang bagi keluarga, bangsa, negara dan religiom kita masing-maing.
Secara bertahap dalam langkah yang pasti dalam mempelajari dan mengenali “Peranannya sebagai seorang guru dalam Pembelajaran”, akan membawa anda ke titik kulminasi yang disebut sebagai, “Guru Profesional” dalam profesinya sebagai seorang guru atau professor (bhs.portugis). Semoga bermanfaat!!!
Tamat…
Fonte: Menjadi Guru Profesional & Pengalaman dari Penulis
By prof. EdoSantos’25
