Oleh : Tammasse Balla

Dalam perjalanan hidup yang panjang, kasih orangtua adalah lentera yang tak pernah padam. Mereka adalah dua matahari yang menyinari jalan meskipun malam telah jatuh. Sejak tangisan pertama di dunia, tangan mereka adalah pelabuhan paling pertama yang menerima tubuh mungil kita dengan penuh cinta. Tak ada syarat, tak ada pamrih—hanya ketulusan yang menjelma dalam peluh dan doa yang tak pernah putus. Di setiap desis napas mereka, terkandung harap akan masa depan anaknya, meski mereka sendiri kerap menahan lapar dan letih demi senyum anak yang mereka cintai.

Ayah dan ibu, dua nama yang menyimpan ribuan makna. Ada ayah yang mungkin jarang berkata manis, karena sibuk mencari nafkah, tapi punggungnya menjadi tameng dari kerasnya dunia. Ibu, walau lemah lembut tubuhnya, namun jiwanya adalah samudera cinta yang menampung segala luka anaknya tanpa tumpah. Dalam senyum mereka, terkandung kisah letih yang disembunyikan. Dalam peluk mereka, ada dunia yang paling aman. Mereka tak meminta balas, hanya berharap anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang tahu arah pulang.

Waktu terus berjalan, dan hari demi hari mencuri usia mereka. Rambut yang dulu hitam legam kini memutih seperti salju senja. Langkah yang dahulu gagah, kini perlahan gontai dan berat. Namun, cinta mereka tidak pernah uzur. Bahkan ketika anak telah berumah tangga, hati mereka masih bersiap menampung rindu, mendengarkan keluh kesah, atau sekadar menanyakan: “Kau sudah makan, Nak?”

Namun, betapa sering kita alpa menghormati mereka. Dalam hiruk-pikuk dunia, kita kerap melupakan dua wajah tua yang pernah menggendong dan membimbing dengan penuh kasih. Kita terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa bahwa surga itu pernah mengecup dahi kita tiap malam, diam-diam menitipkan doa dalam bisikan lembut. Ada yang memilih menjauh, ada yang menyimpan dendam karena perkara sepele, lupa bahwa orangtua tak pernah sempurna, tapi kasihnya tak pernah salah.

Ketika akhirnya ajal menjemput, barulah kita terhenyak. Rumah tak lagi sama. Tak ada lagi suara lembut yang menegur dengan cinta. Tak ada lagi tangan renta yang menggenggam tangan kita ketika badai datang. Ingin rasanya kembali, memeluk lebih lama, mencium tangan mereka lebih dalam, namun waktu telah mengunci pintunya. Tangis pun hanya jadi hujan yang tak menghidupkan bunga yang telah gugur.

Wahai anak-anak zaman, hormatilah ibu-ayahmu selagi hayat masih dikandung badan. Jangan tunggu liang lahat menelan jasadnya untuk mengucapkan maaf yang telat. Jangan tunggu pusara menjadi tempat curhat ketika dulu lidahmu begitu kaku menyapa. Jika kau ingin tahu makna cinta yang hakiki, pandanglah mata kedua orangtuamu saat mereka menyebut namamu—di sana ada Tuhan yang sedang tersenyum.

Kasih orangtua adalah jalan panjang yang tak pernah minta imbalan. Mereka membentangkan dirinya seperti bumi menopang langit. Sebelum terlambat, balaslah kasih itu dengan hormat, bakti, dan cinta. Karena setelah mereka tiada, dunia akan terasa lebih sunyi—tak ada lagi cinta yang sedekat dan seteduh kasih mereka.

Ingatlah, kita hanya punya satu ibu—satu-satunya perempuan yang bersedia menggadaikan nyawanya agar kita bisa menangis di dunia ini. Tak ada yang bisa menggantikan pelukannya, tak ada yang bisa menyamai lembut doanya di sepertiga malam. Jika ia telah tiada, maka hilanglah satu pintu surga yang tak pernah tergantikan.

Kita hanya diberi satu ayah—laki-laki pertama yang menyebut nama kita dengan bangga, meski dirinya lelah membanting tulang dan diperas waktu. Ia jarang menangis, tapi matanya basah diam-diam. Bukan hanya pelindung, tapi juga guru diam-diam yang mengajari hidup lewat teladan.

Mereka adalah dua nama yang tak ada duanya. Dunia boleh penuh dengan sosok baik, tapi ibu dan ayah tetap tak tergantikan. Singkat kata, bahagiakanlah mereka selagi waktu masih menyapa. Jangan sampai penyesalan menjadi batu nisan bagi cinta yang tak sempat dirawat. Karena hanya satu ayah dan satu ibu yang Tuhan titipkan untuk seumur hidup kita.

Makassar, 15 Juli 2025
Pk. 17.17 WITA

(Visited 24 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.