Kolaka Utara; desa kecil di tengah pegunungan, tempat kabut pagi turun pelan seperti doa yang tak pernah selesai. Di sinilah saya tumbuh dari anak kecil yang berlari dan berjalan kaki, menyusuri jalan tanah yang berbatu dan licin, mendengar suara angin menyapu sungai hamparan pohon cengkeh. Gunung-gunung berdiri diam, jadi saksi bagaimana hidup mengajari kami sabar.
Di tanah ini, saya belajar arti pulang, arti bertahan, dan arti kehilangan yang kelak terasa paling sunyi. Orang tua kami adalah perantau dari tanah Bugis. Mereka datang dengan bekal nekat dan keyakinan, membangun hidup dari nol di Kolaka Utara.
Bapak dan mama adalah seseorang sederhana mengarahkan kami tentang kekuatan dan kesabaran, tangannya kasar oleh kerasnya pekerja, suaranya tenang, matanya menyimpan lelah yang jarang ia ceritakan. Setiap selesai subuh, ia berangkat sebelum matahari muncul dari balik gunung, meninggalkan aroma kopi hitam dan doa yang tak pernah putus.
Bagiku bapak dan mama adalah rumah; diamnya meneduhkan, nasihatnya sederhana tapi menancap dalam. Lalu waktu berubah tahun ketahun kami beranjak dewasa. Bapak pergi, meninggalkan kami menghap sang Pencipta Kini tersisa mamah yang menjadi rumah bagi kami.
Tidak ada suara tawa, hanya tangis yang disimpan di dada. Kursi tempat bapak biasa duduk kini kosong, seolah masih menunggu ia pulang. Kini, setiap langkah kami di tanah ini selalu mengingatkan pada seorang bapak. Jejaknya ada di setiap jalan setapak.
Tapi kami juga harus tetap hidup dengan harapan baru bukan berarti melupakan, melainkan belajar hidup sambil membawa rindu. Di bawah hamparan pegunungan Kolaka Utara, aku berjanji pada diriku sendiri: menjadi kuat seperti yang bapak ajarkan, menanam harapan di tanah yang sama, dan percaya bahwa meski bapak telah tiada, cintanya tetap hidup; mengalir pelan, setia, seperti angin gunung yang tak pernah benar-benar pergi.
Di tahun baru, napas baru. Di bawah hamparan gunung Kolaka Utara, semoga hati tetap kuat meski rindu belum reda. Apa yang hilang jadi kenangan, apa yang tersisa jadi harapan. Semoga Allah menjadikan tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya Dengan menulis setiap kata begitulah cara kami menuangkan setiap keluh kesah, harapan baru dan doa Semoga setiap langkah kami penuh dengan hal-hal baik. []
