Dalam sunyi, aku menemukan suara hati. Di Kolaka Utara, aku belajar bahwa doa dan kata-kata bisa menjadi kekuatan yang tak terduga. Di sinilah aku belajar tentang arti sabar, tentang jalan hidup yang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan, namun akan selalu ada doa dan harapan di dalamnya.
Setiap kata aku tuangkan lewat doa dan tulisan. Aku meyakini bahwa selain doa, tulisan juga mampu menguatkan. Dalam tulisan, kita bisa menitipkan keluh kesah dan harapan yang kadang tak sanggup diucapkan dengan suara. Lewat tulisan pula, kita belajar berani jujur pada diri sendiri tanpa rasa takut di dalamnya.
Kemarin bukan hari yang mudah. Ada lelah yang tak sempat diceritakan, dan ada tangis yang hanya Tuhan yang mendengarkan. Namun di sanalah aku menemukan capaian besar: tidak menyerah. Meski ragu, meski hati terasa rapuh, aku memilih bertahan.
Di sinilah aku belajar dan percaya bahwa kata-kata yang dituliskan dengan tulus serta doa yang dipanjatkan dengan ikhlas mampu membangun kekuatan perlahan dalam diriku. Menulis menjadi caraku menjaga harapan. Setiap kata yang lahir adalah bentuk kesabaran dalam perjalanan.
Doa yang diselipkan bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi ruang kecil tempat mimpi diselamatkan dari lorong sunyi dan dari hati yang hampir menyerah. Untuk masa depan, harapanku sederhana. Aku ingin tulisan ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia, dari mana pun asalnya, selalu punya ruang untuk bangkit.
Hari baru akan selalu datang bersama harapan baru, selama kita mau percaya dan terus melangkah. Karena tulisan sederhana bisa menguatkan satu hati, dan dari hati yang kuat, lahirlah harapan yang tak pernah padam.
Semoga tahun mendatang membawa lebih banyak cahaya, lebih banyak harapan, dan lebih banyak kebahagiaan. Semoga doa-doa kita terkabul, dan mimpi-mimpi kita menjadi kenyataan. Aamiin. []
