Tirai ungu tua menggantung di jendela,
lelah menahan sore yang dinginnya tak selesai.
Cahaya tiba sebagai sisa,
dan debu jalanan menari tanpa tujuan.

Aku berdiri di baliknya
seorang saksi yang belajar diam,
menyimpan hari-hari yang pernah hangat
dalam lipatan kain yang mulai pudar.

Tirai ini satu-satunya yang tertinggal,
bekas rumah yang dulu bernama bahagia.
Sejak pintu itu tertutup,
hidup berjalan tanpa jeda,
seperti jam yang lupa berhenti.

Kini aku memikul pagi hingga senja,
tulang-tulangku menghafal lelah.
Tanganku berpindah dari satu kerja ke kerja lain,
asal cukup untuk menjaga nyala di rumah kecil ini.

Aku tak sanggup melihat mata mereka meredup
karena permen yang tak terbeli,
atau langkah ke sekolah yang tertahan
oleh sepatu yang menyerah lebih dulu.

Lelah tubuh hanya singgah,
namun luka
ia menetap.

Di dunia yang cepat menilai,
namaku sering dipanggil dengan nada miring.
Ada tatap yang merendahkan,
ada ulur tangan yang menyimpan maksud.
Aku belajar waspada
tanpa kehilangan harga diri.

Air mata kerap jatuh
di sela pekerjaan
dan di kamar yang gelap.
Namun pagi selalu menuntut satu hal:
wajah yang tetap utuh.

Aku menyeka malam dari mataku,
menarik napas panjang,
dan mengenakan senyum
yang harus cukup
untuk tiga pasang harap.

Merekalah alasan aku bertahan,
alasan dada ini terus bergerak.
Di balik tirai ungu
aku menantang badai seorang diri,
menyimpan janji
agar langkah mereka kelak lebih terang.

Jika seluruh jiwa harus kubayar,
aku siap.

Aku mungkin jatuh berkali-kali,
namun tak pernah benar-benar rebah.
Di balik sunyi ini,
aku berdiri
sebagai ibu,
sebagai kekuatan
yang tak perlu bersuara keras
untuk tetap ada.

(Visited 15 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.