Oleh. Syair Assituju
Edisi : Aku, Kamu, dan Ramadhan Kita
Terbangun disudut malam yang tak seperti biasanya. Dini hari ini kita terbangun dengan rasa syahdu,sejuk, nyaman, dan penuh kehangatan bersama keluarga. Bersantap hidangan yang beberapa bulan berlalu kita sebut sarapan, untuk kali ini kita, khususnya Ummat Islam menyebutnya santap sahur.
Ramadhan 1445 Hijriah, ada suatu yang juga terasa berubah. Aku bersahur bersamamu dengan suasana tambahan cabang cinta yang sebelumnya begitu membawa suasana hati terasa gelisah. Pertanyaan demi pertanyaan dalam diri, dimana, siapakah kiranya nanti yang akan menemani perjalanan kehidupan hubungan insan manusia dalam biduk rumah tangga. Kegelisahan dari pertanyaan itu begitu dapat pula memicu amarah dan kepedihan saat datang dari luar (orang lain). Pertanyaan itu sering terjadi dalam lingkungan kerja, keluarga, terutama di waktu ramadhan telah usai. Suasana idul fitri bahkan bagi pemuda/pemudi yang telah berada di usia matang dalam pernikahan pertanyaan kapan nikah begitu menjadi momok yang menakutkan.
Ramadhan di Negeri kita Indonesia merupakan suatu momen yang begitu mengharukan. Berbagai agenda dalam menyemarakkan suasana ramadhan. Ada yang memeriahkan dengan bertadarus dalam masjid dengan menggunakan pengeras suara. Ada yang memeriahkan ramadhan dengan mengadakan perlombaan bagi anak-anak maupun remaja. Perlombaan yang dilaksanakan saat ramadhan tak seperti perlombaan yang diadakan saat perayaan HUT kemerdekaan Negara kita Indonesia. Perlombaan yang di lombakan berhubungan dengan keagamaan seperti ; hafalan do’a sehari-hari, hafalan surah-surah pendek, membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar dan lain sebagainya. Beberapa lembaga keagamaan mereka melakukan safari ramadhan. Begitu pula dari instansi kementerian Agama juga melakukan safari ramadhan. Untuk pondok-pondok pesantren biasanya mengirim santri-santri keberbagai daerah untuk ditugaskan menjadi imam sholat tarawih serta untuk melakukan dakwah. Metode dakwah yang dilakukan oleh para santri biasa dengan metode ceramah agama di waktu tarawih dan ba’da sholat subuh.
Semarak ramadhan penuh cinta dan rahmat Allah. Bagi yang telah memahami tentang keimanan dan ketakwaan. Merupakan hal yang menjadi suatu bulan sangat dirindukan terutama di bulan Rajab dan sya’ban. Sehingga do’a : “ALLAHUMMA BARIKLANA FII RAJAB WA SYA’BAN WA BALLIQNA RAMADHAN”, begitu di gaungkan. Do’a ini pula ada beberapa muballigh sampai menyebutkan “do’a itu merupakan hadits dari Rasullulah SAW. Semoga kita telah memahami bahwa itu adalah bagian dari do’a yang bukan do’a yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW.
Dalam bulan ramadhan ada pula para pemuda yang membentuk program satu tarawih satu masjid dengan tujuan mereka mencari suasana dengan bacaan Qur’an Imam sholat tarawih yang indah. Mereka menjelajah masjid dengan bertarawih masjid satu ke masjid lainnya.
Dapat pula ditemukan suasana masjid di sore hari menjelang berbuka begitu ramai. Mulai dari anak-anak, remaja, pemuda dan para tetua lingkungan sekitar berkumpul untuk melakukan buka bersama.
Di berbagai masjid suasana subuh kita dapat menyaksikan berbagai suasana beberapa jamaah melakukan i’tikaf. Beberapa komunitas berbagi santapan sahur di jalanan yang dikenal dengan “Sahur On The Road”.
Tak kalah hebohnya suasana sore hari menjelang waktu ibadah sholat maghrib. Perekonomian Ummat begitu hidup berbagai pedagang jajanan yang dikenal dengan sebutan takjil begitu banyak. Sungguh hal yang luar biasa setiap pedagang takjil semua barang dagangan mereka habis terjual.
Dikenal dengan buka bersama(batal puasa) dengan berkumpul di masjid dan ada pula masyarakat yang melaksanakan agenda buka bersama di rumah mereka dengan mengundang masyarakat sekitar untuk bersila ukhuwah.
Suasana Ramadhan yang telah kita dapatkan sekilas dari kutipan sebelumnya. Itulah merupakan suasana Ummat muslim saat benar-benar memahami aqidah agamanya secara menyeluruh serta menjalankan syari’ah dengan sungguh-sungguh. Allahu a’lam.
(Visited 20 times, 1 visits today)
