Oleh Tun Ahamd Gazali*
Ada kenangan masa kecil yang tidak datang pelan-pelan. Seperti semilir angin sore, tak diundang, tapi langsung membelai dada. Hari ini entah kenapa ingatan saya ditarik jauh, bukan ke bunga sakura Jepang, bukan ke ruang kerja, bukan pula ke usia hampir 57 tahun ini, melainkan ke sebuah tempat yang mungkin sudah tak lagi ada dalam peta, yaitu Komplek Sekolahan SDN Pasar Turi Surabaya.
Masih jelas dalam ingatan, disanalah beberapa puluh tahun lalu ada seorang guru SD bernama Pak Darmojo yang membuatku selalu terkenang. Beliau tinggal sendirian di ruangan ukuran kira-kira 1 x 2 meter. Bukan rumah dinas, atau bukan kamar guru. Itu bekas WC sekolah. Kamarnya berada di bagian paling belakang komplek, berdampingan dengan deretan toilet sekolah. Dindingnya lembab, lantainya dingin, dan di dekatnya berdiri cerobong septictank yang bentuknya seperti cerobong asap pabrik kecil. Kalau angin kencang, kadang bau isi septictank terhembus, lalu memantul ke tembok, berbalik arah, dan menyerbu hidung kami.
Anehnya, kami anak-anak komplek sama sekali tidak peduli. Setiap Minggu sore, kami justru ngrubungi kepala Pak Darmojo. Beliau duduk santai di atas tutup cor septictank, dan kami mengelilinginya seperti lebah mengitari sarang madu. Alasannya sederhana, setiap satu helai rambut uban yang berhasil kami cabut, kami dibayar satu rupiah.
Kedengarannya kecil sekali, ya? Tapi jangan pakai logika tahun sekarang untuk menilai tahun 1975–1981.
Saya sering dapat sampai 100 helai. Ada teman yang pernah 200 helai. Artinya kami bisa mendapat 400 sampai 800 rupiah per bulan, dan Pak Darmojo selalu membayarnya setiap tanggal satu, tepat saat gajian beliau cair. Bagi kami itu bukan sekadar uang jajan, itu adalah gaji pertama dalam hidup kami, dari tangan seorang guru yang hidup di kamar bekas WC.
Kami duduk berdesakan, kadang sambil menahan bau, kadang sambil tertawa, kadang saling iri siapa yang paling banyak dapat uban. Dan Pak Darmojo hanya diam, sesekali meringis kecil ketika ada rambut yang tercabut agak keras, tapi beliau tidak pernah marah. Beliau seperti tahu, anak-anak ini bukan sedang mencabut rambutnya. Mereka sedang belajar bekerja, belajar menunggu tanggal gajian, belajar bahwa rezeki itu datang dari kesabaran satu helai demi satu helai.
Namun entah kenapa semua itu berhenti tiba-tiba, ketika komplek sekolahan digusur. Kami pindah, keluarga guru tercerai-berai. Teman-teman hilang arah dan alamat. Kini di atas tanah tempat kami dulu bermain, kini berdiri ruko-ruko di Jalan Pasar Turi, depan PMK dan Pasar Turi, bangunan yang hari ini mungkin bahkan tak tahu pernah ada anak-anak yang tertawa di atas tutup septic tank. Sejak sekitar 1981/1982 itu, tali pertemanan kami seperti terputus oleh buldoser pembangunan. Tidak ada telepon, tidak ada media sosial, tidak ada jejak.
Hari ini, setelah puluhan tahun, saya baru sadar, “Kami bukan hanya kehilangan tempat tinggal, kami kehilangan satu zaman”. Karena itu, saya menulis ini, siapa tahu ada yang pernah tinggal di Komplek Sekolahan SDN Pasar Turi membacanya. Siapa tahu ada yang mengenal Pak Darmojo, siapa tahu ada anak atau cucu keluarga guru yang dulu hidup di sana membacanya. Semoga tulisan ini menjadi alamat pulang bagi kenangan yang selama ini hanya hidup di kepala saya sendiri. Bangunan bisa digusur, kota bisa berubah, manusia bisa berpindah negara, tetapi masa kecil tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu satu sore sunyi, lalu datang kembali dan membayar kita dengan air mata, seperti dulu Pak Darmojo membayar kami dengan satu rupiah per helai uban Beliau.
*Salam silaturahmi : Tun Ahmad Gazali SH. M.Eng.Ph.D. Anak Pak Guru Maksum yang kini bermukim dan berkarier di Jepang.
