Oleh : Lolita Eka Putri*

Warna dinding Hotel Gizsela begitu sejuk, cahaya lampu aula terasa lebih terang dari biasanya, dan hampir setiap sudut memancarkan energi kreatif.

Hari itu, saya bukan sekadar seorang guru yang datang dari Surantiah. Bukan sekedar perempuan yang menata harapan.

Saya adalah seorang putri Minangkabau yang membawa tumpukan mimpi di pundak, mencoba mencari kunci untuk membuka pintu dunia literasi.

Di depan kelas inspiratif pagi itu, berdirilah seorang narasumber,
penggerak jiwa bernama bapak Ruslan Ismail Mage, yang bisa diakronim namyanya RISMA, persis nama komunitas tempat saya berumbuh, RISMA (Remaja Islam Masjid An-Nur).

Jika di Masjid An-Nur Bukiktogang saya belajar berdiri tegak dan bicara di depan umat, maka di hadapan sang inspirator menulis Indonesia, saya belajar menunduk khusyuk di hadapan kertas putih.

“Menulislah seolah-olah engkau sedang membangun rumah di surga,” mungkin itu bukan kalimat harfiahnya, tapi itulah getaran yang saya tangkap dari setiap materi yang beliau sampaikan.

Sebagai salah satu dari 40 Guru Penulis Pessel, saya merasa memikul amanah besar.

Bang RIM tidak hanya mengajarkan cara merangkai diksi, menjahit kata, dan menyulam kalimat, tapi beliau membedah jiwa kami.

Beliau meyakinkan saya bahwa menjadi penulis adalah jalan dakwah yang paling sunyi namun paling abadi.

“Jika kau ingin mengenal dunia, membacalah. Jika kau ingin dikenal dunia, menulislah. Tapi jika kau ingin dikenal penduduk langit, menulislah dengan iman,” bisik hati saya saat itu, teringat pesan-pesan Buya Hamka yang agung.

Kini, setiap kali saya mengajar di Surantiah, saya melihat murid-murid saya sebagai bait-bait puisi yang belum selesai ditulis.

Pengabdian saya bukan lagi sekadar menggugurkan kewajiban di papan tulis.

Dua RISMA telah membentuk saya:

RISMA Masjid An-Nur adalah akar yang menguatkan pijakan saya di bumi Allah.

Bang RIM (Ruslan Ismail Mage) adalah sayap yang dipasangkan ke punggung saya di Hotel Gizsela agar saya bisa terbang menjangkau cakrawala pemikiran.

Saya ingin menjadi seperti Buya Hamka. Saya ingin tulisan saya menjadi saksi di akhirat kelak bahwa ada seorang guru dari Pesisir Selatan yang tak lelah menebar cahaya melalui tinta.

Di Bukiktogang cerita ini dimulai, di Surantiah pengabdian ini menetap, dan melalui buku-buku yang lahir dari bimbingan Bang RIM, cita-cita itu kini mulai menemukan wujudnya.

*Guru sederhana yang tidak pernah berhenti memupuk mimpinya menjadi penulis.

(Visited 39 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.