Oleh : Rosmawati*

Ada masa ketika manusia menakar harinya bukan dari seberapa cepat jemarinya menari di atas kaca, melainkan dari seberapa dalam napasnya menyatu dengan angin. Kita kini hidup di zaman yang memuja kecepatan dan menertawakan jeda. Kita bangun oleh dering, kita rebah oleh penat, dan di antara keduanya kita menjelma arsip yang berjalan tanpa sempat membaca dirinya sendiri. Sebagai penjaga buku-buku bisu, sebagai perangkai kata, saya justru menemukan kegelisahan: semakin kita fasih berbicara kepada dunia, semakin gagap kita mendengarkan diri sendiri.

Di zaman ini, kita mudah luka oleh hal-hal yang tak berwujud. Kita resah oleh banding, kita lelah oleh kejar. Kita mencari penawar di tempat yang sama dengan sumber duka: di dalam bilik-bilik cahaya yang kita ciptakan sendiri. Kita gadaikan malam demi esok yang belum tentu datang. Padahal, jauh sebelum kita mengenal kata “cemas”, sudah ada tabib tua yang tak pernah pensiun. Namanya alam.

Perhatikanlah sebuah potret yang sederhana: seorang lelaki, sebungkus bekal, sebatang sungai yang setia mengalir. Tidak ada panggung, tidak ada tepuk tangan. Namun di sanalah saya menyaksikan sebuah pelukan paling purba. Langit tidak meminta kita menjadi siapa-siapa. Angin tidak meminta kata sandi. Air tidak meminta kita sempurna. Cukup datang, cukup hadir, maka alam akan membisikkan mantra paling tua: bahwa kita hanya debu yang sedang belajar bernapas.

Alam adalah penyembuh yang tidak mengenal tarif. Ia meredakan kepala yang sesak oleh pikiran yang berpacu. Ia mendinginkan dada yang terbakar oleh ingin yang tak bertepi. Di hadapannya, segala yang kita anggap besar mendadak menjadi kecil, serupa kerikil di tepi sungai. Alam tidak pernah berteriak. Ia hanya berbisik, “Tidak semua harus hari ini. Bernapaslah. Selebihnya adalah titipan yang akan menemukan jalannya sendiri.”

Alam adalah guru ketenangan yang tidak pernah cuti. Dunia menyuruh kita berlari, seolah berhenti adalah sebuah dosa. Tetapi alam mengajarkan sebaliknya: bahwa jeda bukanlah mati. Jeda adalah hidup yang sedang mengisi ulang dirinya dengan hening. Dari rahim jeda yang kita sangka kosong itulah, justru lahir benih-benih pikiran yang paling utuh. Sebab gagasan tidak tumbuh di tanah yang tegang; ia mekar di tanah yang berserah.

Alam adalah pendamai yang tidak memihak. Di hadapan sesama, kita mudah menakar diri dengan mistar orang lain. Kita lupa bahwa setiap tanah memiliki musimnya sendiri, setiap pohon memiliki waktu berbuahnya sendiri. Di tepi sungai, kebenaran itu menjadi jernih kembali: tugas manusia hanya menanam dengan jujur, selebihnya adalah urusan langit. Panen bukanlah hak untuk disombongkan, melainkan amanah untuk disyukuri.

Sebagai penulis, saya meminjam napas dari kehidupan yang saya saksikan. Sebagai penjaga pustaka, saya meminjam ingatan dari halaman-halaman yang telah sepuh. Namun sebelum keduanya, saya harus meminjam kewarasan dari alam. Sebab pena yang digerakkan oleh jiwa yang letih hanya akan melahirkan baris-baris yang rapuh, mudah patah oleh waktu. Dari heningnya alam saya belajar lagi caranya merenda kata agar ia kuat menahan beban makna.

Maka sisihkanlah waktu untuk memeluk alam. Bukan sebagai pelarian dari hidup, melainkan sebagai cara untuk kembali pulang pada hidup itu sendiri. Tak perlu menunggu musim libur, tak perlu mencari tebing yang tinggi. Cukup tanggalkan alas kaki, biarkan kulitmu mengenali tanah. Dengarkan bagaimana angin mengeja namamu tanpa pernah keliru. Sebab manusia yang asing dengan tanahnya adalah lilin yang menyala dari dua sumbu: cepat menyilaukan, cepat pula menghitamkan dirinya sendiri.

Kita tidak kekurangan orang pandai berucap di zaman ini. Yang langka adalah orang yang masih sanggup mendengarkan sunyi. Pulanglah sebentar ke pangkuan alam. Setelah itu, kembalilah ke hidupmu dengan jiwa yang lebih utuh. Percayalah, langkahmu akan lebih menjejak, kata-katamu lebih berakar, dan hatimu lebih lapang menerima apa pun yang datang. Sebab yang abadi bukanlah riuh yang kita kejar, melainkan jeda yang sempat kita peluk. Jadi, sudahkah “memeluk alam” pekan ini?

*BNsiana sejati Kolaka Utara

(Visited 10 times, 5 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.