Senin, 27 April 2026, menjadi hari yang tak akan mudah kami lupakan. Hari ketika kabar itu datang, pelan namun menghantam begitu dalam relung hati ini. Seorang sahabat, seorang penulis, seorang jiwa yang begitu hidup dalam kata-kata, telah berpulang.


Hari ini, ketika bangsa memperingati Hari Pendidikan Nasional, ada rasa haru yang semakin dalam saya dan kami rasakan Keluarga Besar Bengkel Narasi Indonesia. Engkau pergi tepat sebelum hari yang seharusnya menjadi panggung penghormatan bagi sosok-sosok sepertimu. Seakan semesta ingin mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya hidup dalam seremoni, tetapi dalam jejak-jejak sunyi yang ditinggalkan oleh para pembelajar sejati seperti dirimu.


Saya memang tak pernah bersua dalam ruang yang sama dengannya. Tak pernah berjabat tangan, tak pernah duduk berdampingan dalam satu meja diskusi. Namun melalui tulisannya, saya merasa begitu dekat. Ia bukan sekadar nama di deretan penulis Bengkel Narasi, melainkan sosok yang hadir, menyapa, dan menghidupkan ruang-ruang literasi dengan gagasan yang jernih serta semangat yang tak pernah redup.


Setiap karyanya adalah jejak. Setiap kalimatnya adalah cermin dari jiwa yang terus bertumbuh. Ia menulis bukan hanya karena mampu, tetapi karena ia mencintai proses belajar itu sendiri. Tak berlebihan jika ia dinobatkan sebagai penulis paling produktif di antara kami. Bukan sekadar soal jumlah, tetapi tentang konsistensi, tentang dedikasi yang nyaris tak tergoyahkan.


Dari tulisannya, saya belajar banyak hal. Tentang ketekunan, tentang keberanian menuangkan pikiran, dan tentang bagaimana menjadi manusia yang terus belajar hingga akhir hayat. Ia seakan mengajarkan bahwa hidup tak diukur dari berapa lama kita ada, tetapi dari seberapa bermakna kita mengisi waktu yang diberikan.


Kini, ruang itu terasa berbeda. Ada kekosongan yang sulit dijelaskan. Sosok yang dulu begitu aktif, kini hanya tinggal kenangan dalam lembar-lembar tulisan yang akan terus hidup, bahkan ketika raganya telah tiada.
Namun di balik duka yang mendalam ini, ada rasa yang tak kalah kuat yaitu “bangga”.
Saya bangga pernah mengenalmu, meski tanpa tatap muka. Bangga pernah berjalan dalam ruang yang sama, meski hanya melalui kata-kata. Bangga pernah belajar dari jejak pemikiranmu yang tulus dan penuh makna.


Saya yakin, dari setiap jejak tulisan yang engkau tinggalkan, akan lahir sosok-sosok hebat sepertimu, mereka yang terinspirasi, yang mencontoh, yang meniru semangatmu dalam berkarya dan belajar tanpa henti.
Begitulah sejatinya kekuatan narasi. ia mampu menggerakkan, menghidupkan, dan menginspirasi, bahkan ketika pemiliknya telah berpulang kepangkuan ilahi.


Duka ini bukan hanya milik satu atau dua orang. Ini adalah kehilangan bagi kami semua, Keluga Besar Bengkel Narasi Indonesia. Kehilangan seorang sahabat, seorang inspirasi, seorang pembelajar sejati.


Saya juga percaya, kepergiannya bukanlah akhir. Hanya berpindah, menuju tempat yang lebih indah, tempat di mana segala lelahnya beristirahat.


Selamat jalan, sahabat.
Tulisanmu akan tetap hidup, mengalir, dan menginspirasi kami yang masih berjalan diantara narasi tercipta.
Tulisanmu akan abadi selamanya. Engkau akan hidup dalam ingatan, tumbuh dalam inspirasi, dan terus menyalakan semangat kami yang masih melanjutkan perjalanan ini.

Doa kami semua menyertaimu.
Semoga engkau berbahagia dalam pelukan kasih Allah SWT.


#AH

(Visited 19 times, 19 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.