Penulis: Hasni Tagili, S. Pd., M. Pd. (Sociowriter)

Ironi menyakitkan kembali hadir dari dunia digital. Dua anak di Lombok Timur yang masing-masing masih duduk di bangku TK dan SD, dilaporkan meninggal dunia akibat cedera leher setelah meniru aksi “freestyle” yang viral di media sosial dan gim daring. Aksi berbahaya tersebut diduga terinspirasi dari gerakan ekstrem dalam game populer Garena Free Fire (Tribunpontianak, 6-5-2026).

Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Ia adalah alarm keras tentang rapuhnya sistem perlindungan anak di tengah derasnya arus digital. Kepolisian, sekolah, Dinas Pendidikan, psikolog anak, hingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia pun mengimbau orang tua agar lebih mengawasi penggunaan telepon genggam, media sosial, dan tontonan anak-anak.

Namun, pertanyaannya: apakah persoalan ini cukup diselesaikan dengan imbauan semata? Ketika nyawa anak menjadi taruhan, masalahnya jelas lebih dalam daripada sekadar kurang hati-hati menggunakan gawai.

Krisis Pengasuhan

Anak-anak pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka mudah tertarik pada sesuatu yang tampak seru, menantang, dan viral. Dalam usia yang masih belia, kemampuan mereka membedakan mana hiburan dan mana bahaya belum terbentuk sempurna. Apa yang terlihat keren di layar sering dianggap layak ditiru di dunia nyata.

Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Dunia digital hari ini menawarkan banjir visual tanpa batas, sementara kemampuan nalar anak belum siap menyaringnya. Konten berbahaya dapat masuk ke ruang pribadi anak hanya melalui satu sentuhan layar. Gim daring, video pendek, dan media sosial menghadirkan simulasi kekerasan, aksi ekstrem, hingga perilaku berisiko yang dikemas secara menarik dan menghibur.

Akibatnya, anak-anak tidak lagi belajar terutama dari orang tua atau lingkungan sekitar, melainkan dari algoritma digital yang bekerja tanpa mempertimbangkan keselamatan psikologis mereka.

Fenomena ini menunjukkan bahwa anak-anak kini hidup di tengah dunia yang sangat cepat, tetapi minim pendampingan. Banyak orang tua terpaksa menyerahkan gawai kepada anak karena kesibukan kerja, kelelahan, atau sekadar agar anak tenang. Gadget akhirnya berubah fungsi menjadi “pengasuh kedua”. Padahal, internet tidak pernah benar-benar netral. Ia membawa nilai, budaya, dan pengaruh yang membentuk cara berpikir anak secara perlahan.

Ketika pendampingan melemah, anak akan tumbuh dengan referensi yang dibentuk oleh media digital. Mereka melihat kekerasan sebagai hiburan, tantangan berbahaya sebagai permainan, dan viralitas sebagai bentuk pengakuan sosial.

Selain itu, lemahnya kontrol sosial di lingkungan sekitar juga sangat tampak. Anak-anak sering bermain tanpa pengawasan memadai. Ruang publik yang dahulu menjadi tempat interaksi sosial perlahan tergantikan oleh ruang digital yang tidak memiliki pagar moral yang jelas.

Di masa lalu, anak-anak tumbuh dalam pengawasan kolektif: keluarga besar, tetangga, guru, dan masyarakat memiliki peran dalam menjaga perilaku anak. Kini, pola hidup individualistik membuat pengasuhan semakin terisolasi. Ketika orang tua lengah, lingkungan pun sering kali tidak hadir sebagai pelindung.

Negara sebenarnya telah menghadirkan berbagai regulasi terkait perlindungan anak dan keamanan digital. Namun faktanya, pembatasan akses terhadap konten berbahaya masih jauh dari efektif. Konten ekstrem tetap mudah ditemukan. Gim dan media sosial terus memproduksi tren tanpa kontrol yang memadai terhadap dampaknya bagi anak-anak.

Dalam sistem yang bertumpu pada logika pasar digital, perhatian anak menjadi komoditas. Semakin viral sebuah konten, semakin tinggi keuntungan yang dihasilkan platform.

Keselamatan psikologis generasi muda sering kali kalah oleh kepentingan industri hiburan dan trafik digital.

Akibatnya, masyarakat dipaksa hidup dalam situasi paradoks yaitu teknologi berkembang pesat, tetapi perlindungan terhadap anak justru tertinggal jauh.

Islam Memandang Anak

Islam memandang anak sebagai amanah besar yang wajib dijaga. Anak-anak yang belum balig tidak dibebani taklif hukum karena akalnya belum sempurna. Artinya, mereka belum memiliki kemampuan penuh untuk menimbang risiko dan konsekuensi perbuatannya. Karena itu, Islam menempatkan pendampingan orang dewasa sebagai kebutuhan mutlak dalam proses tumbuh kembang anak.

Dalam Islam, orang tua bukan sekadar pemberi makan dan fasilitas, melainkan pendidik utama yang bertanggung jawab membentuk akal, kepribadian, dan akhlak anak. Orang tua wajib melindungi anak dari segala hal yang membahayakan fisik maupun mentalnya.

Pengasuhan dalam Islam juga tidak berdiri sendiri. Pendidikan anak bertumpu pada tiga pilar utama yaitu keluarga, lingkungan masyarakat, dan negara. Ketiganya saling menopang dalam menciptakan ekosistem yang sehat bagi pertumbuhan generasi.

Keluarga menanamkan nilai dan kedekatan emosional. Lingkungan menghadirkan kontrol sosial dan budaya yang baik. Negara bertugas memastikan ruang publik, media, dan sistem pendidikan tidak merusak generasi muda.

Karena itu, dalam pandangan Islam, negara tidak boleh bersikap pasif terhadap arus informasi digital. Negara wajib membatasi konten yang tidak bermanfaat, apalagi yang berpotensi membahayakan anak-anak. Konten yang mengandung kekerasan, perilaku ekstrem, atau kerusakan moral tidak dibiarkan bebas atas nama kebebasan pasar dan hiburan.

Sebaliknya, negara berkewajiban memperbanyak konten edukatif, membangun sistem media yang sehat, dan menciptakan budaya yang mendukung lahirnya generasi berilmu dan berakhlak.

Pada akhirnya, anak-anak yang akalnya belum sempurna tidak dapat dibiarkan tumbuh sendirian di tengah arus digital tanpa pendampingan, kontrol lingkungan, dan kebijakan negara yang melindungi. Islam memandang penjagaan generasi sebagai tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan negara untuk menciptakan ekosistem yang aman, sehat, dan mendidik.

Dengan pengasuhan yang kuat, lingkungan yang peduli, serta negara yang tegas menyaring konten berbahaya dan menghadirkan media edukatif, generasi muda tidak hanya terlindungi dari ancaman fisik dan moral, tetapi juga dipersiapkan menjadi generasi berkepribadian mulia yang mampu membangun peradaban yang lebih baik. Wallahualam.

(Visited 10 times, 5 visits today)
Avatar photo

By Inspirasi Daerah

Inspirasi Daerah memuat narasi pemerintahan daerah seluruh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.