Oleh: Rosmawati

Menatap kembali foto jadul dengan jas almamater berwarna jingga menyala itu, ingatan saya seketika terlempar ke masa-masa penuh idealisme pada tahun 1997, saat saya menempuh Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Soppeng.

Waktu boleh berlalu hampir tiga dekade dan warna foto mungkin mulai memudar, tetapi kehangatan tanah Soppeng selalu punya tempat khusus di dalam dada. Bagi kita yang pernah mengenakan jaket oranye tersebut, masa-masa di tahun 1997 itu adalah fase di mana kita belajar mengawinkan teori-teori megah dari kampus dengan realitas kehidupan masyarakat pedesaan yang bersahaja namun kaya akan nilai kehidupan.

Salah satu ritual yang paling melekat dalam ingatan kami adalah setiap kali menyelesaikan program kerja KKN lapangan atau hendak kembali ke posko, kami selalu menyempatkan diri untuk singgah di Pasar Tradisional Takalala. Di pasar yang riuh oleh keramahan khas Bugis itu, agenda wajib kami adalah membeli Benno, camilan brondong jagung tradisional yang renyah.

Menikmati Benno di sela-sela lelahnya mengabdi bukan sekadar pengusir lapar, melainkan momen intim untuk merajut kebersamaan dan mendengarkan petuah-petuah hidup dari warga lokal.

Sebagai seorang penulis buku motivasi yang kerap menggali kearifan lokal, saya melihat Benno Takalala yang kami makan dahulu menyimpan metafora kehidupan yang sangat luar biasa. Sastrawan Dul Abdul Rahman dalam catatannya menuliskan kalimat yang sangat menggugah jiwa bahwa seperti halnya benno yang harus difalleppo, hidup juga harus difalleppo, bukan hanya direncanakan.

Benno tidak akan pernah ada jika ia hanya berupa butiran biji jagung kering yang keras dan tersimpan rapi di dalam karung. Ia harus melewati proses dipanaskan di dalam silinder besi panas tradisional hingga akhirnya meletup keras dan merekah menjadi brondong yang putih, renyah, serta membawa manfaat bagi banyak orang.

Hubungan antara Benno dan Mattola Palallo sangatlah erat. Orang tua di pelosok Soppeng, dengan segala kesederhanaannya, rela membakar peluh dan memeras keringat di sawah demi menyekolahkan anak-anak mereka.

Mereka memproses anak-anaknya lewat tempaan pendidikan, persis seperti jagung yang dipanaskan, agar kelak anak-anak tersebut bisa meletup melampaui batas instan desanya, menyeberangi benua-benua ilmu pengetahuan di luar sana, namun tetap kembali membawa kemanfaatan yang harum bagi tanah kelahirannya.

Kenangan singgah membeli Benno di Pasar Takalala pada tahun 1997 lalu kini telah bertransformasi menjadi sebuah buku kehidupan yang sarat akan motivasi diri. Foto KKN beralmamater jingga adalah saksi bahwa kita pernah berani mengambil langkah nyata untuk mengabdi.

Sukses sejati yang selaras dengan nilai luhur Bugis bukan tentang seberapa jauh kita pergi meninggalkan akar budaya, melainkan seberapa besar keberanian kita untuk meletupkan potensi diri demi melahirkan generasi yang melampaui zaman. Mari berhenti sekadar merencana, mulailah melangkah, dan biarkan karya hidup Anda meletup indah menginspirasi dunia.

(Visited 4 times, 2 visits today)
Avatar photo

By Inspirasi Daerah

Inspirasi Daerah memuat narasi pemerintahan daerah seluruh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.