Oleh: Cak Tun Ahmad Gazali

Di media sosial, kita sering melihat keluhan yang sama berulang-ulang, “Cari kerja sekarang susah, lulusan banyak tetapi lowongan sedikit, saingan semakin berat.” Pada banyak tempat itu kenyataan, namun di Jepang tidak. Saat sebagian negara warganya sibuk mencari pekerjaan, Jepang justru sedang sibuk mencari pekerja.

Jepang sedang sibuk mencari pekerja. ukan puluhan atau ratusan, melainkan ratusan ribu. Penyebabnya sederhana. Jumlah penduduk usia produktif terus menurun, sementara jumlah lansia terus meningkat. Hampir 30% penduduk Jepang kini berusia di atas 65 tahun. Akibatnya, banyak sektor mengalami kekurangan tenaga kerja yang serius.

Lalu pekerjaan apa saja yang paling banyak dicari? Berikut daftarnya yang bisa dicoba dan diseriusi.

Pertama, Kaigo (Perawat Lansia). Semakin banyak lansia, semakin besar kebutuhan tenaga perawat. Namun yang dicari bukan sekadar orang yang kuat mengangkat pasien atau mendorong kursi roda. Yang dicari adalah orang yang sabar, telaten, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Di Jepang, seorang lansia sering kali lebih membutuhkan teman berbicara daripada sekadar bantuan fisik. Bayangkan seorang kakek yang anak-anaknya tinggal jauh di kota lain. Seorang nenek yang rumahnya masih berdiri, tetapi suara yang dulu memenuhi rumah itu sudah lama pergi. Kadang-kadang yang mereka tunggu bukan obat, bukan makanan, melainkan seseorang yang mau mendengarkan cerita mereka. Karena itu kemampuan bahasa Jepang menjadi senjata utama.

Kedua, konstruksi. Bekisting, pembesian, perancah, pengecatan, pengelasan, instalasi listrik hingga berbagai pekerjaan bangunan lainnya masih sangat dibutuhkan. Namun perusahaan Jepang tidak mencari “jago ngomong”. Mereka mencari orang yang bisa datang tepat waktu, bekerja dengan aman, dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Di lapangan, konsistensi sering mengalahkan kecerdasan. Karena gedung pencakar langit tidak dibangun oleh janji. Gedung dibangun oleh kedisiplinan yang dilakukan berulang-ulang setiap hari.

Ketiga, Manufaktur dan Pabrik. Operator mesin, perakitan komponen, quality control, pengolahan makanan, hingga industri elektronik terus membutuhkan tenaga kerja baru. Banyak orang mengira pabrik hanya soal tenaga. Padahal yang paling dicari adalah ketelitian, disiplin, dan tanggung jawab. Kesalahan satu milimeter saja bisa membuat ribuan produk gagal. Dalam dunia industri Jepang, hal kecil bukanlah hal kecil. Karena sering kali kualitas sebuah bangsa ditentukan oleh perhatian terhadap detail-detail yang dianggap sepele oleh orang lain.

Keempat, Pertanian dan Peternakan. Sawah masih ada, kebun masih tersedia, peternakan masih banyak. Sementara yang berkurang hanyalah orang yang mau mengerjakannya. Karena generasi muda Jepang banyak berpindah ke kota-kota besar, sektor ini menjadi salah satu yang paling terbuka bagi tenaga kerja asing. Ladang-ladang itu tidak pernah berhenti membutuhkan tangan manusia. Yang berubah hanyalah jumlah orang yang bersedia turun ke tanah dan bekerja bersama alam.

Kelima, Perhotelan dan Pariwisata. Hotel, restoran, dan berbagai layanan wisata membutuhkan banyak tenaga kerja. Di sektor ini, senyum sering kali lebih mahal daripada ijazah. Kemampuan melayani tamu dengan tulus menjadi nilai yang sangat dihargai. Karena tamu mungkin lupa menu yang mereka makan, tetapi mereka jarang lupa bagaimana mereka diperlakukan.

Keenam, Engineer. Teknik mesin, listrik, sipil, robotika, otomasi hingga IT terus membutuhkan tenaga profesional. Menariknya, banyak perusahaan Jepang lebih tertarik melihat apa yang pernah Anda buat daripada berapa IPK Anda. Karena mesin tidak peduli nilai transkrip. Mesin hanya peduli apakah Anda mampu membuatnya bekerja.

Saat ini jutaan pekerja asing telah bekerja di Jepang dan jumlahnya terus meningkat setiap tahun. Banyak perusahaan mengaku kesulitan mendapatkan tenaga kerja lokal sehingga peluang bagi tenaga kerja Indonesia semakin terbuka. Namun di sinilah banyak orang keliru memahami Jepang. Mereka mengira tantangan terbesar adalah mendapatkan visa. Mereka mengira tantangan terbesar adalah mendapatkan perusahaan. Mereka mengira tantangan terbesar adalah lulus wawancara. Padahal sering kali tantangan terbesar adalah bertahan setelah semuanya didapatkan.

Ada satu kesalahpahaman yang sering terjadi. Banyak orang berpikir bahwa kunci sukses bekerja di Jepang hanya satu yaitu bahasa Jepang. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Bahasa Jepang memang penting bahkan sangat penting, tetapi ada sesuatu yang sering kali lebih menentukan daripada sertifikat bahasa, yaitu mentalitas. Karena Jepang bukan tempat yang cocok untuk orang yang mudah mengeluh, sedikit-sedikit ingin pulang, baru dimarahi sedikit langsung menyerah. Padahal yang bertahan dan berhasil biasanya bukan yang paling pintar, melainkan yang tidak manja, tidak cengen, mau belajar, mampu beradaptasi, tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Banyak orang gagal bukan karena kurang pintar, tetapi karena kalah oleh rasa rindu rumah, tidak tahan disiplin, atau tidak siap menghadapi perbedaan budaya kerja. Padahal setiap kesulitan di awal biasanya hanya sementara.

Saya pernah melihat orang yang kemampuan bahasanya biasa saja, tetapi bertahan dan akhirnya sukses. Saya juga pernah melihat orang yang sertifikatnya banyak, tetapi pulang lebih cepat dari yang dibayangkan. Karena pada akhirnya, hidup tidak menguji kertas yang kita miliki. Hidup menguji seberapa kuat kita bertahan saat keadaan tidak sesuai harapan.

Ada satu hal lagi yang perlu diketahui. Bagi mereka yang lulus dari universitas di Jepang, pada banyak jalur pekerjaan profesional, kemampuan bahasa Jepangmu sudah dianggap terbukti melalui proses kuliahmu dan kehidupan akademik sehari-harimu.
Karena itu banyak perusahaan tidak lagi secara khusus meminta sertifikat JLPT sebagai syarat utama. Yang lebih dilihat adalah kemampuan komunikasi nyata saat wawancara, kemampuan akademik, serta kecocokan dengan pekerjaan yang dilamar. Dengan kata lain: Sertifikat JLPT bisa membantu membuka pintu, tetapi lulusan universitas Jepang sering kali sudah dianggap masuk ke dalam rumahnya.

Namun setelah masuk ke dalam rumah itu, tetap ada satu pertanyaan yang harus dijawab setiap orang: “Apakah saya cukup kuat untuk bertahan?” Karena pada akhirnya, tiket menuju Jepang bukan hanya bahasa Jepang, bukan pula ijazah, bukan juga paspor. Namun yang paling menentukan adalah kombinasi dari tiga hal: Bahasa Jepang yang baik, keterampilan yang dibutuhkan, mental baja yang tidak mudah tumbang.

Jadi Jepang hari ini sebenarnya tidak kekurangan pekerjaan. Jepang hanya kekurangan orang-orang yang siap bekerja, siap belajar, dan siap bertahan ketika keadaan tidak selalu mudah. Dan sering kali, yang membedakan antara mereka yang pulang dalam hitungan bulan dan mereka yang sukses membangun masa depan di Jepang bukanlah kecerdasan. Melainkan daya tahan. Sebab bahasa Jepang bisa dipelajari dalam beberapa tahun. Keterampilan bisa dilatih dalam beberapa bulan, tetapi mental pantang menyerah adalah bekal yang akan menentukan nasib seseorang sepanjang hidupnya.

Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan milik mereka yang paling pintar. Bukan milik mereka yang paling berbakat. Bukan milik mereka yang memiliki sertifikat paling banyak. Sering kali keberhasilan jatuh kepada mereka yang memiliki satu kemampuan sederhana yang semakin langka di zaman sekarang yaitu: Tidak menyerah di tengah jalan.

*Profesional muda di Jepang

(Visited 1 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Tun Ahmad Gazali

Penulis adalah Pensiunan Dengan Hak Pensiun PNS Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan yang sejak 2020 melanjutkan hidup dan kehidupan dengan berkarier profesional sebagai engineering leader di Jepang. Peraih beasiswa Honor Monbukagakusho (2015-2017) dan Beasiswa Yamaguchi University Scholarship (2017-2018) juga pernah tercatat sebagai dosen tetap pada INI Dalwa Bangil Pasuruan, dosen tamu pada Fakultas Hukum - Universitas Wijaya Putra Surabaya. Meraih gelar M.Eng dari Saga University Jepang (2004-2006) serta gelar Ph.D.-nya yang diraih hanya dalam 2,5 tahun (Oktober 2015- Maret 2018) hingga Postdoc-nya dari Yamaguchi University. Berpengalaman memadukan hukum, teknologi, dan manajemen lintas negara. Berkarier di lingkungan internasional, khususnya Indonesia-Jepang, dengan fokus pada kolaborasi strategis, regulasi bisnis global, serta integrasi teknologi dalam pengambilan keputusan. Terbuka untuk peluang baru yang menantang di bidang global business, legal compliance, dan teknologi inovatif. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.