Oleh: Muhammad Sadar*

Petualangan telah membawa kepada penemuan suatu komoditi atau wilayah koloni. Pengembaraan para penjelajah membuka peta jalan menuju asimilasi antar pelaku budaya, sumber pangan, energi, tradisi hingga pertukaran barang dan jasa. Melalui penguasaan ilmu dan teknologi, karenanya ekspedisi antar benua sangat mudah dilakukan oleh kekuatan atau golongan tertentu yang berimplikasi kepada penyebaran benih-benih tanaman lokal ke seantero dunia.

Angin sejarah komoditas pertanian telah mengubah arah kehidupan manusia. Pada awal peradaban, manusia selaku aktor pertanian nomaden, primitif-tradisionalis-konsumtif hingga pertanian modernis masa kini. Beragam jenis sumber daya hayati dan plasma nutfah di pelosok bumi menjadi bahan bercocok tanam umat manusia. Sampai saat ini, tanaman berpredikat komoditas klasik yang eksis dipertahankan manusia dalam tindakan budidaya setiap musim adalah tanaman jagung.

Jagung sebagai warisan tanaman purba yang berasal dari kawasan benua Amerika oleh penduduk lokal, Indian menyebutnya sebagai Teosinte atau jagung liar. Generasi teosinte yang telah berevolusi dan beradaptasi ribuan tahun silam dari seleksi alam, migrasi maupun rekombinasi gen-gen hingga perlakuan pemuliaan tanaman oleh para ilmuan berwujudlah sebagai komoditas jagung modern seperti saat ini. Energi jagung telah menyebar luas pada negara tropis dan subtropis dunia membuatnya sebagai komoditas kosmopolitan-paling banyak dibutuhkan dan sangat familiar dibudidayakan petani setelah padi dan gandum.

Data Statista.com mencatat produksi jagung global pada tahun 2022/2023 mencapai lebih dari 1,15 miliar metrik ton, dengan lima negara produsen jagung terbesar di dunia adalah Amerika Serikat 346,74 juta metrik ton, disusul Tiongkok 270 juta metrik ton, kemudian Brasil 143,4 juta metrik ton, lalu Argentina 55,2 juta metrik ton, terakhir India 37,5 juta metrik ton. Sedangkan tingkat konsumsi jagung terbesar dunia (diukur dari satuan gantang atau bushel) adalah negara USA sebesar 12,465 juta gantang, Uni Eropa 12,047 juta gantang, Brasil 3,118 juta gantang, Mexico 3,051 juta gantang, India dan Canada masing- masing 1,835 juta gantang dan 1,272 juta gantang. Komoditas jagung tersebut diproduksi oleh lebih dari 170 negara di muka bumi ini dari lahan seluas 193,7 juta hektare dengan produktivitas rata-rata 5,75 ton per hektare (FAOSTAT,2020).

Betapa pentingnya komoditas jagung dalam sirkulasi ekonomi dunia dan menggerakkan jutaan petani dan pelaku dunia usaha. Perdagangan dan ekspor-impor jagung yang bernilai miliaran dollar setiap tahun mampu memperbaiki taraf hidup petani jagung di belahan dunia manapun utamanya di negara USA, kawasan Amerika Latin hingga Tiongkok. Penelitian dan pengembangan jagung oleh lembaga riset jagung pusat dunia-CIMMYT di Mexico setiap waktu meriliskan inovasi dan varietas terbaru, diseminasi parent seed, maupun update metode proteksi terhadap hama penyakit tanaman jagung hingga teknologi hilirisasinya.

Spesies tanaman jagung sangat adaptif terhadap semua ekologi wilayah pengembangan di setiap negara. Status penerimaan varian jagung saat ini mudah diterima oleh petani karena tingkat toleransi, produktivitas serta daya tahan terhadap cekaman lingkungan lebih baik. Teknologi budidaya dan mekanisasi panen mayoritas dikuasai petani ditambah dukungan sarana benih unggul bermutu dan subsidi pupuk oleh pemerintah telah tersedia. Demikian juga dengan pasar jagung domestik, telah memiliki jaminan harga melalui kebijakan HPP yang ditetapkan oleh pemerintah tentunya dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Rilis data BPS melaporkan produksi jagung nasional tahun 2024 pada kelas jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sebesar 15,14 juta ton dari luas panen mencapai 2,55 juta hektare. Dibandingkan produksi jagung pada kelas yang sama tahun 2023 lalu sebanyak 14,77 juta ton, sehingga laju peningkatan produksi sebesar 0,36 juta ton atau naik 2,47 persen. Produksi tersebut diperoleh dari luas panen 2,48 juta hektare.

Kinerja jagung domestik cukup menggembirakan seiring dengan perbaikan harga pasar yang ditetapkan oleh pemerintah walaupun komoditas jagung sebenarnya merupakan produk free market yang bebas diperdagangkan, dan berbeda dengan komoditas beras yang under full control pemerintah. Pohon industri komoditas jagung meluaskan turunannya mulai dari produk main food, pati, tepung, corn milk, minyak nabati atau biofuel, pakan ternak, hingga biomassa tanaman jagung untuk kebutuhan bioplastik, pulp and paper.

Ekosistem jagung yang dahulu disematkan teosinte, kini identitas asing tersebut mengantar terhadap perkembangan bioindustri serta memacu majunya bioekonomi jutaan pelaku jagung. Teosinte sekarang memicu bioeconomi circular dunia untuk kemajuan peradaban umat manusia di planet ini. Teosinte akan tetap menjadi komoditas unggulan dunia dalam menggapai kesejahteraan. Jagung atau teosinte akan konsisten dan abadi sebagai primadona budidaya pertanian. []

Barru, 04 Juni 2025

*Penelaah Teknis Kebijakan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru.

(Visited 84 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.