Oleh: H. Tammasse Balla

Janganlah engkau bertanya mengapa sebuah puisi mampu hidup lebih lama daripada usia penyairnya. Puisi bukanlah tinta yang mengering di atas kertas, melainkan napas yang dipinjamkan Tuhan kepada kata-kata. Selama masih ada hati yang bergetar, selama masih ada mata yang menitikkan air karena kejujuran, puisi tidak akan pernah mati. Di sanalah aku menemukan nama Taufiq Ismail, seorang penyair yang menjadikan bahasa sebagai rumah
bagi nurani bangsanya.

Aku pertama kali mengenal namanya ketika masih menjadi murid sekolah dasar di sebuah kampung sederhana di Soppeng pada tahun-tahun 1970-an. Waktu itu kami belum memahami seluk-beluk sastra. Kami hanya tahu bahwa ada puisi yang harus dihafal, dibaca dengan lantang, lalu diresapi. Tanpa kusadari, setiap bait yang kuhafal sedang menanam benih kecintaan kepada bahasa yang kelak tumbuh menjadi pohon kehidupan.

Tahun-tahun berlalu seperti burung yang meninggalkan langit senja. Rambut mulai memutih, pengalaman bertambah panjang, dan jalan hidup mempertemukanku dengan sosok yang dahulu hanya kukenal dari lembar-lembar buku. Aku mengenal beliau, bahkan keluarganya. Aku menyaksikan bahwa kemasyhuran tidak membuatnya meninggikan suara, dan kebesaran tidak menjadikan langkahnya lebih berat daripada orang biasa.

Pada suatu kesempatan, aku membawa sebuah pertanyaan yang telah lama kusimpan. Pertanyaan itu sederhana, tetapi bagiku sangat penting. “Teori apa Bapak pakai dalam menulis puisi?” Barangkali aku berharap akan mendengar nama-nama filsuf, teori estetika, atau rahasia besar yang hanya dimiliki penyair agung.
Beliau memandangku dengan wajah yang tenang, setenang danau yang memantulkan langit tanpa memilih awan. Lalu beliau berkata, “Menulis itu tidak ada teorinya. Tulis saja apa yang kaurasakan, apa yang kaulihat, apa yang kaualami, dan apa yang kaupikirkan.”
Jawaban itu singkat, tetapi bagiku ia menjelma samudra. Sejak hari itu, aku mengerti bahwa teori dapat memenuhi kepala, tetapi hanya kejujuran yang mampu memenuhi hati. Puisi lahir bukan dari kepala yang penuh, melainkan dari hati yang tidak sanggup lagi menyimpan kegelisahannya.
Bukankah mata air tidak pernah belajar mengalir dari buku? Ia mengalir karena memang itulah hakikatnya.

Demikian pula penyair. Ia menulis karena jiwanya telah terlalu penuh oleh rasa. Kata-kata hanyalah jalan keluar agar hatinya tidak pecah oleh diam.
Aku kemudian memahami bahwa puisi Taufiq Ismail tidak pernah berusaha menjadi indah. Ia hanya berusaha menjadi jujur. Justru karena kejujuran itulah keindahan datang dengan sendirinya, sebagaimana bunga yang mekar tanpa pernah mengumumkan kelahirannya kepada dunia.

Banyak orang mengejar keindahan bahasa. Namun beliau mengajarkan bahwa bahasa hanyalah perahu. Yang terpenting adalah lautan makna yang dibawanya. Perahu boleh sederhana, tetapi jika membawa mutiara, orang akan tetap menunggunya berlabuh.
Di dalam dirinya aku melihat seorang penyair yang tidak sedang mengejar keabadian. Ia hanya setia kepada suara hati. Anehnya, justru kesetiaan itulah yang mengantarkannya menuju keabadian. Sejarah selalu memberi tempat kepada mereka yang berbicara dengan nurani, bukan kepada mereka yang sekadar pandai berbicara.
Ribuan puisinya telah diterbitkan, dibaca, dikaji, bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Namun sesungguhnya, bahasa hanyalah pakaian. Jiwa puisi tetap sama. Ia dapat mengenakan bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Jepang, atau bahasa mana pun, tetapi air mata yang ditimbulkannya selalu memiliki rasa yang sama.

Sering kali aku berpikir, penyair bukanlah orang yang paling pandai merangkai kata. Penyair adalah orang yang paling berani mengatakan kebenaran ketika banyak orang memilih diam. Kata-katanya mungkin lembut seperti embun, tetapi mampu melubangi batu yang paling keras.

Bila aku menyebut Taufiq Ismail sebagai Dewa Sastra Angkatan 66, itu bukanlah untuk menempatkannya di atas manusia lain. Itu hanyalah sebuah metafora, sebagaimana langit disebut tak berbatas dan laut disebut tak bertepi. Dalam perjalanan sastra Indonesia, beliau menjulang sebagai mercusuar yang cahayanya tetap terlihat meskipun zaman terus berganti.
Kini, setiap kali aku duduk di depan selembar kertas kosong, kalimat beliau kembali mengetuk batinku. “Tulis saja apa yang kaurasakan.” Kalimat itu lebih berharga daripada seribu teori yang hanya memenuhi rak-rak perpustakaan. Ia mengingatkanku bahwa sastra tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari keberanian untuk jujur kepada diri sendiri.
Aku percaya, suatu hari nanti buku-buku akan menua, tinta akan memudar, bahkan nama-nama besar dapat terlupakan. Namun selama masih ada seorang anak kecil yang membaca puisi dengan mata berbinar, selama masih ada seorang guru yang mengajarkan bahwa kata-kata dapat menyelamatkan kemanusiaan, selama masih ada hati yang memilih kejujuran daripada kepalsuan, maka Taufiq Ismail akan tetap hidup. Bukan hanya sebagai penyair Angkatan 66, melainkan sebagai cahaya yang terus menuntun para peziarah sastra menemukan jalan pulang menuju nurani. [HTB]
–‐—————————————-
Makassar, 8 Juli 2026
Pk. 13.47 WITA

(Visited 3 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.