Oleh: H. Tammasse Balla

Ada kegagalan yang datang bukan untuk menutup jalan, melainkan untuk menggeser langkah menuju takdir yang lebih indah. Tuhan tidak selalu membuka pintu yang kita ketuk, sebab kadangkala Dia sedang menyiapkan gerbang lain yang lebih sesuai dengan kemampuan dan panggilan jiwa kita. Kegagalan bukanlah akhir perjalanan, melainkan jeda agar manusia belajar membaca arah kehidupan.
Arya Sidqi Wiranata Sanusi lahir dari keluarga yang darah pengabdiannya mengalir kuat. Kakeknya, Huseng, dan Ayahnya Mayor Inf. (Purn) Sanusi, pernah memimpin dengan ketegasan sebagai prajurit, dan Kakaknya, Letda Zufar Yoga Indratmo Sanusi, S.Tr.Han. mengenakan seragam kebanggaan sebagai prajurit muda yang kini bertugas di Kostrad Divisi III Makassar. Di rumah itu, loreng bukan sekadar warna pakaian, tetapi lambang pengabdian. Tidak mengherankan bila sejak kecil Arya memandang seragam hijau itu dengan mata penuh kekaguman. Baginya, menjadi taruna Akademi Militer adalah mimpi yang disusun dengan doa-doa panjang. Ia ingin melanjutkan jejak kakek, ayah, dan kakaknya, seakan-akan darah keluarga telah menentukan arah masa depannya.

Namun langit mempunyai cara sendiri dalam memilih jalan bagi setiap anak manusia. Ketika ia mengikuti seleksi AKMIL, takdir berkata lain. Namanya belum tertulis di antara mereka yang diterima. Mimpi itu runtuh seketika, meninggalkan sepi dan galau yang hanya dimengerti oleh hati yang sedang kecewa.
Pada saat itulah aku memandangnya bukan sebagai seorang pemuda yang gagal, melainkan seorang pelaut yang sedang salah membaca arah angin. Aku berkata kepadanya, “Barangkali Tuhan tidak sedang menjauhkanmu dari kehormatan, tetapi sedang mengantarmu kepada kehormatan yang lain. Bukan jas loreng yang menunggumu, melainkan jas putih.”
Aku mengenalnya sebagai anak yang mencintai ilmu. Di bangku SMA, angka-angka menjadi sahabatnya. Ia berkali-kali mengharumkan nama sekolah dalam Olimpiade Matematika dan menjadi salah satu siswa terbaik di Kabupaten Wajo. Prestasi itu adalah bahasa Tuhan yang diam-diam sedang menunjukkan ke mana langkahnya seharusnya menuju.

Aku membujuknya memilih Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Makassar. Aku berkata, “Jadilah bagian dari sejarah. Jadilah Alumnus Angkatan Pertama. Kelak engkau akan dikenang bukan hanya karena gelarmu, tetapi karena keberanianmu membuka jalan bagi generasi sesudahmu.”
Syukur kepada Allah, ia menerima nasihat itu dengan hati yang lapang. Ia menukar kesedihan dengan semangat belajar. Ia mengubah luka menjadi tenaga untuk terus berlari. Sejak hari itu, ia tidak lagi menghitung kegagalan, melainkan menghitung kesempatan.

Prestasi demi prestasi kemudian datang menghampiri. Nilainya selalu membanggakan. Indeks Prestasinya (IP) tak pernah turun dari angka 3,50. Bahkan, pada semester keempat baru-baru ini ia menorehkan IP sempurna, 4,00. Angka itu bukan sekadar hasil ujian, melainkan bukti bahwa air mata yang jatuh tidak pernah sia-sia apabila disiram dengan kerja keras.

Ketika Fakultas Kedokteran UNM menggelar acara Inaugurasi I (27/6) kepercayaan besar diberikan kepadanya sebagai ketua panitia. Ia berdiri tegak di atas mimbar dengan wajah tenang. Suaranya mengalir jernih. Tidak ada keraguan dalam intonasinya. Kata-kata keluar dengan tertata, seolah-olah keberanian telah lama tinggal di dalam dadanya.

Aku menyaksikan langsung semua itu dari jejeran kursi terdepan, sederet petinggi UNM dan FK-UNM dengan mata berkaca-kaca. Dalam diam, aku berbisik kepada diriku sendiri, “Telah lahir seorang generasi “Pattola Palallo”, penerus yang kelak akan membawa sinar terang bagi banyak orang.” Seorang pemimpin tidak selalu lahir dari mereka yang menang pada percobaan pertama, melainkan dari mereka yang bangkit setelah jatuh.

Hari itu aku semakin percaya bahwa Tuhan tidak pernah keliru menempatkan manusia. Ada yang ditakdirkan menjaga negeri dengan senjata, ada pula yang menjaga kehidupan dengan stetoskop. Keduanya sama mulianya apabila dijalani dengan hati yang ikhlas.

Aku berharap suatu hari nanti Arya mengenakan jas putih dengan kebanggaan yang sama seperti kakek, ayah, dan kakaknya mengenakan seragam loreng. Bahkan aku membayangkan ia kelak menjadi dosen di Fakultas Kedokteran UNM, menapaki jejak sang tante, Dokter Jumraini Tammasse, dan sepupunya, Dokter Iin Tammasse, dan Dokter Fachrul Tamrin yang telah lebih dahulu mengabdikan ilmu sebagai dosen di Universitas Hasanuddin. Ilmu akan menjadi medan juangnya dan kemanusiaan menjadi wilayah pengabdiannya.

Wahai anak muda, jangan pernah mengutuk kegagalan. Kegagalan hanyalah guru yang menyuruhmu mengambil jalan memutar agar engkau melihat lebih banyak pemandangan kehidupan. Jalan panjang sering kali melahirkan jiwa yang lebih matang daripada jalan yang lurus. Benarlah bahwa gagal adalah sukses yang tertunda. Ia bukan batu nisan bagi cita-cita, melainkan batu pijakan menuju puncak yang lebih tinggi. Kelak, ketika engkau berdiri di tempat yang telah Allah tetapkan untukmu, engkau akan tersenyum sambil berkata, “Untung aku pernah gagal. Dari kegagalan itulah aku menemukan takdir terbaik dalam hidupku.” [HTB] ———————————————
Kampus Unhas, 29 Juni 2026
Pk. 08.19 WITA

(Visited 11 times, 11 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.