Oleh: Dr.Ir. Baharuddin Burhan, SP.,ST., M.Si.,MM.,MH., MT.,C.EIA.,IPU.,
ASEAN ENG*

Penulis adalah seorang ayah yang telah menjalani kehidupan lebih setengah abad silam. Namun jauh sebelum hari ini, penulis ditempa oleh tebing tinggi, jurang dalam, arus sungai deras, hingga lembah dan elevasi gunung bervegetasi lebat serta diasuh dalam naungan organisasi mahasiswa pencipta alam. Jurnal perjalanan panjang sebagai pemanjat tebing yang lahir dari rahim Korpala Unhas.

Perjalanan itu kemudian membawa penulis menjadi bagian dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Sulawesi Selatan. Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa panjat tebing bukan sekadar olahraga, bukan sekadar keberanian menghadapi ketinggian. Di sanalah penulis belajar tentang disiplin, teknik, ketelitian, keberanian, keselamatan, persaudaraan, kepemimpinan, dan tanggung jawab.

Kini, setelah bertahun-tahun melewati berbagai pengalaman, penulis menemukan makna lain dari semua yang pernah dipelajari. Ternyata ilmu yang paling berharga bukanlah ilmu yang kita simpan sendiri, tetapi ilmu yang mampu kita wariskan. Hari ini, penulis kembali memegang tali, carabiner, dan perlengkapan yang dahulu menjadi bagian dari perjalanan penulis.

Kesibukan penulis saat ini bukan lagi untuk mengejar sebuah puncak. Bukan pula merangkak bergelantungan di tebing, tetapi hari ini, penulis menemani, mengawal sang putri bungsu belajar, sebagai bagian dari
aktivitasnya di Tim Bantuan Medis (TBM) Fakultas Kedokteran Unhas, kami berlatih tali temali, prusiking, rappelling, teknik memanjat, hingga vertical rescue.

Bagi penulis ini bukan sekadar latihan. Bagian ini adalah proses mentransfer pengalaman dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Penulis ingin ia memahami bahwa di dunia panjat tebing, keberanian saja tidak cukup. Keberanian harus dikawal ilmu.
Keterampilan harus dibangun dengan disiplin. Kepercayaan wajib lahir dari kompetensi, dan setiap keberanian harus tunduk pada keselamatan. Itulah nilai yang dahulu terima dari perjalanan penulis di alam dan organisasi.

Dan hari ini, sebagai seorang ayah, penulis memiliki tanggung jawab untuk meneruskannya, namun penulis tidak ingin anak sekadar mengikuti jejak ayahnya, penulis berkehendak, agar sibuah hati ini memiliki jejaknya sendiri. Jika suatu hari nanti ia memilih jalan yang berbeda, seorang ayah akan tetap bangga. Karena tugas seorang ayah bukan menciptakan anak yang menjadi salinan dirinya.
Tugas seorang ayah adalah membekali anak agar mampu menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Untuk para ayah yang pernah ditempa oleh perjalanan hidup:
Jangan biarkan pengalaman berhenti pada diri kita. Apa yang kita pelajari dengan susah payah, ajarkan. Apa yang kita pahami setelah melewati kegagalan, ceritakan. Apa yang dahulu kita dapatkan dari para senior, teruskan kepada generasi berikutnya.
Karena kita tidak hanya mewariskan nama keluarga.
Kita juga ikut mewariskan nilai, karakter, ilmu, dan keteladanan.

Penulis pernah belajar menghadapi tebing. Kini penulis belajar menghadapi tanggung jawab yang jauh lebih besar:
mempersiapkan anak untuk menghadapi tebing kehidupannya sendiri.
Dan mungkin inilah puncak yang sesungguhnya bagi seorang ayah. Bukan ketika kita berhasil mencapai ketinggian tertinggi, tetapi ketika suatu hari kita melihat anak kita berdiri kokoh, mampu menjaga dirinya, mampu mengambil keputusan, mampu bertanggung jawab, dan berani menghadapi kehidupannya dengan bekal yang telah kita wariskan.

Jejak kita boleh berakhir, tetapi nilai yang kita tanamkan harus terus berjalan.
Untuk anakku: Ayah tidak meminta engkau menjadi seperti Ayah. Ayah hanya ingin ketika kehidupan menghadapkanmu pada sebuah tebing yang tinggi, engkau tidak menyerah karena takut. Belajarlah, persiapkan dirimu, ikat simpulmu dengan benar, perhitungkan risikonya. Percayalah pada proses. Dan melangkahlah dengan penuh tanggung jawab.
Karena puncak bukan hanya tentang seberapa tinggi kita berdiri.
Puncak adalah tentang seberapa matang kita menjalani perjalanan untuk sampai ke sana.

*Seorang Ayah, Pemanjat Tebing, dan bagian dari keluarga besar Korpala Unhas & FPTI Sulawesi Selatan.

Makassar, 20 September 2026

(Visited 2 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.