smansa

Seorang penulis dari Amerika Serikat bernama Ally Condie pernah menulis dalam salah satu buku nya, bahwa “Growing up separate doesn’t change the fact that for a long time we grew side by side; our roots will always be tangled.”  Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya bahwa “Tumbuh dewasa secara terpisah tidak mengubah fakta bahwa dalam waktu yang lama kita tumbuh berdampingan; akar kita akan selalu saling terikat.” Begitulah yang terjadi dalam kehidupan kita dan sahabat sahabat kita, baik masa kecil, masa remaja maupun masa dewasa kita. Kita menjalani kehidupan kita masing masing, di tempat yang berbeda, di daerah dan di kota yang berbeda, dengan bekerja di berbagai sektor yang berbeda pula. Kadang kita bahkan berbahasa dan berbudaya yang berbeda dengan sahabat masa remaja kita, namun kita tetap saling menyatu dalam kenyataan bahwa kita pernah satu sekolah dengan mereka.

Seperti itulah yang saya rasakan ketika kami kumpul kumpul bersama teman alumni SMA Negeri 1 Watampone di Bone, Sulawesi Selatan. Kami bereuni menjalin tali silaturahmi, mengenang 4 dekade silam selepas menjalani kehidupan masa SMA di kota kecil Watampone.  Kota bunga Malino yang berhawa sejuk menjadi tempat pilihan kami selama dua hari yaitu dari tanggal 24 – 25 Oktober 2026. Bagi kami, kota Malino, bukanlah tempat asing, karena 2 kali reuni SMA kami sebelumnya juga dilaksanakan di kota kecil ini. Reuni pertama 2018 dan reuni kedua 2023 dan ini adalah yang ketiga dan semuanya mengambil venue di Malino. Sebenarnya ada reuni yang paling awal yang dilaksanakan di kota Watampone sendiri, namun sayang karena saya tidak sempat hadir.

Setelah persiapan reuni mantap, kami pun berangkat ke Malino. Pagi hari Sabtu kami berkumpul di salah satu Cafe di kawasan Hestasning Makassar untuk selanjutnya dengan menggunakan beberapa mobil pribadi milik teman, kami berangkat. Dari kota Watampone, beberapa rombongan juga sudah berangkat bahkan sejak pagi pagi buta jam 5 subuh agar tetap bisa tiba di Malino. Ternyata rombongan yang dari jauh, dari kota Watampone malah lebih duluan sampai di tempat reuni.

Sabtu siang selepas zuhur satu persatu rombongan peserta reuni tiba. Meskipun raut wajah nampak lelah namun keceriaan dan kebahagian tetap nampak saat pertama kali saling bertemu muka lagi setelah sekian tahun. Bahkan ada sahabat kami, yang baru pertama kali bertemu sejak 40 tahun lalu lulus SMA. Jarak waktu yang terbilang lama untuk suatu jalinan persahabatan. Pertemuan awal itu diwarnai dengan jabat tangan erat, dan pelukan hangat antar peserta yang penuh canda tawa ria dan juga ada rasa haru. Rasa haru dan gembira karena masih sempat bertemu dengan sahabat masa remaja, di usia yang tidak lagi muda. Sebagian dari peserta sudah bercucu sudah berstatus kakek dan nenek, namun masih menyempatkan diri untuk bertemu kangen dengan teman teman.

Panitia reuni kali ini memilih tema, “Kumpul-Kangen, Sipurio Sipurennu, Siuddaning, Reuni 4 Dekade IKA SMANSA Bone”. Sipurio, Sipurennu dan Siuddaning adalah ungkapan Bugis yang berarti saling menggembirakan, saling membahagiakan dan saling merindukan. Suatu pilihan tema yang sangat tepat menggambarkan suasana hati kami. Selain spanduk besar atau backdrop segera dipasang di dinding tembok Villa tempat kami Kumpul-Kangen. Bukan hanya itu, panitia juga memasang spanduk foto setiap peserta di berbagai tempat di dinding Villa. Bahkan teman yang batal datang, meskipun sudah mendaftar untuk hadir, tetap ada spanduk fotonya terpasang.

Kegiatan awal di Malino adalah lomba lomba. Ada lomba joget balon, lari kelereng, dan lomba lainnya, yang disesuaikan dengan kondisi para peserta yang semua sudah menjelang 60 tahun. Lomba yang lomba itu tentu saja mengundang gelak tawa dan kegembiraan karena kelucuan yang terjadi saat lomba. Sore dan malam hari juga masih dilanjutkan dengan lomba, ada lomba baca puisi, lomba karaoke dan lain lain. Yang bikin haru tetapi juga mengundang gelak tawa adalah pementasan drama pendek yang menggambarkan suasana kelas di masa SMA. Teman teman peserta reuni juga yang menjadi aktor, aktris dan sutradaranya. Bayangkan seorang yang telah berusia 59 atau  60 tahun berpakaian seragam SMA putih abu abu, lengkap dengan dasi dan topinya.

Pada lomba karaoke, juga membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Para peserta lomba masih mampu tampil prima dengan suara syahdu menyanyikan lagu lagu yang menjadi hits di era 1980an dan 1990an. Lagu lagu nostalgia itu membawa kami ke masa masa remaja dulu, masa masa tanpa telpon genggam, tanpa internet, masa dimana musik dan lagu hanya didengar lewat pita kaset atau lewat RRI. TVRI pun masih menjadi barang langka masa itu. Lomba baca puisi pun membawa kenangan ke masa silam, karena beberapa tema puisi yang dibacakan peserta lomba, tentang masa remaja SMA dulu. Malam hari juga diisi dengan bincang bincang pengalaman teman teman, terutama yang dari luar Sulawesi Selatan. Malam terasa begitu cepat berlalu, masih begitu banyak kisah kisah yang belum selesai didiskusikan, namun waktu yang tak bisa diajak kompromi.

Subuh dan pagi hari, diisi dengan jalan jalan keliling Villa, menghiruo udara segar, menyaksikan pemandangan alam, bukit bukit yang indah, dan pohon pohon pinus yang bergoyang tertiup angin. Namun ada juga pemandangan kebun kebun sayur yang meranggas kekeringan dimusim kemarau yang panjang tahun ini. Sisa buah tomat dan straberry yang memerah namun mulai berguguran karena ketiadaan air penyambung hidupnya. Jalan jalan keliling Villa sebenarnya tidaklah terlalu jauh jaraknya, namun karena kontur tanahnya yang menurun dan menanjak membuat kami kelelahan juga setiba di Villa. Senam aerobik dengan musik musik rancak juga kami lakukan, meskipun tidak semua ikut senam.

Minggu pagi kami menyatu dalam seragam kaos orange (tapi kata ibu ibu, warna terrakota) yang dipesan khusus untuk acara Kumpul Kangen tahun ini. Dipadukan dengan celana jeans nuansa biru, serasi dalam paduan warna dengan terrakota. Karena seragamnya tentu saja menjadikan sessi foto foto menjadi panjang. Selain foto foto di halaman Villa, juga dilanjutkan dengan pengamilan foto di hutan pinus Malino. Bukan hanya berfoto dengan pinus, ada juga peserta naik kuda.

Sesi terakhir acara Kumpul-Kangen, makan siang dan karaoke bersama di rumah Villa ketua IKA86 Smansa Bone.  Pemandangan luarbiasa di halaman belakang, perbukitan dengan pohon pohon pinus, sebagian tertutup kabut pagi dan hembusan angin sepoi sepoi, seakan menyertai perpisahan kami. Pertemuan yang hanya dua hari satu malam, namun cukup untuk melepas rasa rindu dengan sahabat sejati alumni SMA 1 Bone. Menjelang perpisahan, saya kembali terigat kata kata tokoh kartun Winny The Pooh, “We didn’t realize we were making memories, we just knew we were having fun.”  (Kita tidak menyadari bahwa kita sedang membuat kenangan, kita hanya tahu bahwa kita sedang bersenang-senang.)

Ada harapan untuk melanjutkan pertemuan atau reuni di waktu yang akan datang. Semoga semua kita semua alumni SMANSA 86 Bone tetap dikaruniai kesehatan prima dan waktu senggang dan berjumpa lagi di acara kumpul kumpul / reuni selanjutnya. Amin!

tt
Tandatangan

Paccinongang, 27 Oktober 2026.

(Visited 5 times, 5 visits today)
Avatar photo

By Suharman Musa

Suharman Musa, seorang Pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.