Guna meningkatkan profesionalisme pelayanan informasi, sebanyak 39 tenaga Hubungan Masyarakat (Humas) Kemenag Kabupaten Paser mengikuti pelatihan penguatan etika kehumasan di Aula MAN Paser, Senin (31/8/2026).
Kepala Kantor Kemenag Paser, Syarifuddin, menegaskan bahwa pelatihan ini bertujuan membekali pegawai kehumasan agar lebih profesional dan terampil dalam bertugas. Langkah ini dinilai krusial mengingat ilmu kehumasan terus berkembang secara dinamis, sehingga pemutakhiran kompetensi mutlak diperlukan.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah Kabupaten Paser, dengan memadukan penyampaian teori, diskusi dan praktik langsung demi mencapai hasil yang maksimal.
Di samping memperluas wawasan kehumasan, ditambah materi tentang atau tata krama di meja makan (table manner), hal penting lainnya adalah penyatuan persepsi di internal Kemenag Paser. Karena itu di bagian kedua pelatihan ini berisi diskusi dan berbagi pengalaman.
Dari total 39 pegawai kehumasan di lingkungan Kemenag Paser, 16 orang di antaranya bertugas di kantor induk. Sementara itu, 10 orang merupakan perwakilan dari masing-masing KUA se-Kabupaten Paser, dan 13 orang sisanya adalah humas Madrasah (MIN, MTsN, dan MAN).
Fokus perhatian utama tertuju pada keberagaman latar belakang para pelaksana humas. Mayoritas dari 16 pegawai humas merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang baru bergabung dalam satu hingga dua tahun trerakhir, dengan latar belakang pendidikan yang bervariasi.
Sementara itu perwakilan KUA adalah staf yang selama ini sudah melaksanakan fungsi-fungsi kehumasan, sebagian merangkap tugas lain. Adapun humas dari Madrasah adalah guru dan tata usaha yang mendapat tugas tambahan. Juga merangkap.
Banyak yang fungsi ganda, mereka justru menikmati posisi sebagai juru bicara atau Public Relations (PR). Ada kepuasan tersendiri saat berhasil menyebarluaskan informasi kepada publik, terutama ketika dedikasi tersebut mendapat apresiasi pimpinan serta ada respons positif dari pembaca.
Kekhawatiran sering muncul ketika ada tanggapan negatif. Apalagi kalau sampai menyerang ranah pribadi di akun individu, padahal mereka melakukan publikasi yang bersifat kelembagaan.
Perwakilan Kemenag, Joko Pramono, mengungkapkan bahwa segelintir warganet sengaja melayangkan kritik negatif di akun pribadinya. Meski jumlahnya tidak signifikan, intensitas serangan personal yang berulang berpotensi mengganggu fokus dan kinerja serta menghambat efektivitas kerja.
Padahal salah satu tugas strategis dan krusial humas Kemenag adalah sosialisasi regulasi baru dan kebijakan pemerintah pusat secara masif, dalam hal ini Kemenag RI. Tujuannya adalah akselerasi diseminasi informasi kepada publik.
Tugas lain, adalah analisis informasi, juga terhadap kebijakan pemerintah pusat yang harus menyesuaikan dengan kondisi lokal. Pendekatan serupa berlaku untuk umpan balik masyarakat, agar mendapat tanggapan secara objektif dari pengambil kebijakan di daerah.
Miftahul Sidik, peserta dari KUA Kecamatan Long Ikis, menyebut keberadaan pendengung (buzzer) adalah pola komunikasi baru yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus eksis di masyarakat. Para pendengung ini memiliki loyalalitas dan militansi dalam tugasnya. Sidik menegaskan bahwa pegawai humas bisa meniru cara ini. Tapi harus tetap berpijak pada koridor etika yaitu sopan dan santun, patuh pada kode etik jurnalistik, serta tidak menyerang pihak manapun.
Sementara itu Fauzy Romansyah, Guru Seni Budaya Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Paser selama ini menjalankan tugas kehumasan dengan memegang teguh filosopi one picture is worth a thousand wordsatau ‘satu foto sama dengan seribu kata’.
Prioritas tertinggi sebagai pendidik adalah proses belajar mengajar. Ini kurang memungkinkan untuk memiliki waktu luang menyusun narasi dalam bentuk berita atau pers rilis di sela jadwal akademik.
Oleh karena itu publikasi sekolah lebih mendominasi dalam rilis publikasi visual berupa foto di media sosial. Banyak yang minim penjelasan, namun kolom komentar tetap ada untuk menjaring umpan balik dan tanggapan dari warganet.
Sesi akhir pelatihan memberikan ruang kepada unsur panitia dari Kemenag untuk turut membagikan wawasan mengenai etika pelayanan pimpinan. Ini meliputi table manner, etiket dalam pertemuan formal, teknis pendampingan unsur pimpinan pada acara resmi, hingga protokol penerimaan tamu ekternal. Sebagai contoh kunjungan dari Kantor Wilayah Kemenag Kalimantan Timur.
Sebagai benang merah, seluruh sesi pelatihan ini bermuara pada esensi penting. Yaitu memperkaya keilmuan dalam upaya mengoptimalkan penjenamaan (branding) di Kemenag Paser berikut unit organisasi di bawahnya. Ini adalah implementasi salah satu misi Kemenag Paser. Karena, membangun citra positif Kemenag Paser adalah fondasi utama membangun identitas dan marwah instansi secara utuh.
Paser, Kalimantan Timur, 1 September 2026
