Ketika Cinta Seorang Ayah Menjadi Rumah Pertama bagi Putrinya
Oleh: H. Tammasse Balla
Ada cinta yang tidak pernah pandai menyusun kata-kata, tetapi begitu fasih berbicara melalui pengorbanan. Ada kasih sayang yang tidak selalu hadir dalam pelukan panjang, tetapi bersemayam dalam kesetiaan yang tak mengenal lelah. Begitulah kisah Papa HTB lldengan putri sulungnya, dr. Iin Fadhilah Utami Tammasse, S.Ked., MARS, M.Sc. Sejak pertama kali tangis kecilnya memecah kesunyian ruang persalinan, Papa seolah-olah mendengar Allah sedang berbisik, “Kutitipkan kepadamu seorang anak perempuan. Kelak ia akan tumbuh dewasa, tetapi jangan biarkan ia kehilangan tempat untuk pulang.” Sejak itulah Papa mengerti bahwa menjadi ayah bukan sekadar menghadirkan seorang anak ke dunia, melainkan menyediakan seluruh hidup sebagai tempat anak itu menemukan keteduhan. Iin bukan hanya putri pertama dalam keluarga kami. Ia adalah halaman pertama dari sebuah kitab cinta yang dituliskan Allah melalui perjalanan panjang rumah tangga kami.
Usianya baru dua minggu ketika kehidupan mulai mengajarkan arti perpisahan yang paling sederhana, tetapi menggetarkan hati. Mamanya harus kembali menjalani pendidikan dokter muda atau co-assistant di rumah sakit. Cuti melahirkan telah usai, sedangkan panggilan ilmu pengetahuan tidak mengenal kompromi. Papa menguatkan hati istrinya dengan sebuah kalimat sakti, “…..lanjutkan pendidikanmu, jangan bebani pikiran anakmu, hanya dua hal yang Papa tidak tanggung, yaitu nyawanya dan ASI-nya.” Betapa berat hati seorang ibu meninggalkan bayi yang masih membutuhkan kehangatan dadanya. Dengan kalimat sakti dari Papa, ibu muda itu maju tak gentar melanjutkan pendidikan Co-Assistant. Namun, di antara tanggung jawab seorang calon dokter dan kerinduan seorang ibu, berdirilah Papa sebagai jembatan yang menghubungkan keduanya. Sejak pagi hingga malam, tangan Papa menjadi buaian, dada Papa menjadi bantal, dan suara Papa menjadi nyanyian pengantar tidur. Ketika Iin menangis, Papa belajar memahami bahasa yang belum memiliki kata. Ketika Iin tertawa, Papa merasa seluruh keletihan dunia terbayar seketika. Barangkali, jauh sebelum Papa mendalami Neurolinguistik, seorang bayi perempuan telah mengajarinya pelajaran paling mendasar tentang bahasa manusia. Bahwasanya cinta dapat dimengerti bahkan sebelum seseorang mampu mengucapkan sepatah kata.
Pada masa itu, Papa menjalani sebuah pekerjaan yang tidak pernah tercantum dalam riwayat hidup akademiknya, yaitu menjadi kurir Air Susu Ibu (ASI). Demi memastikan Iin kecil tetap memperoleh asupan ASI, Papa rela menempuh perjalanan ke rumah sakit pada jam-jam ketika orang sekeliling menikmati.mimpi-mimpi indahnya, menunggu Mama Iin memerah susu di sela-sela kesibukan menjalani pendidikan kedokteran. Betapa sederhana pekerjaan itu jika dilihat dengan mata biasa, tetapi betapa agung maknanya jika ditimbang dengan hati. Di tangan Papa, botol kecil berisi ASI bukan sekadar makanan bagi seorang bayi. Ia adalah titipan cinta seorang ibu, yang harus diantarkan kepada putrinya tanpa kehilangan kehangatan kasih sayang. Papa menunggu, membawa pulang, lalu memastikan kebutuhan si kecil terpenuhi. Tak ada tepuk tangan, tak ada penghargaan, tak ada gelar kehormatan bagi pekerjaan itu. Namun, di hadapan Allah, barangkali setiap langkah kaki Papa telah dicatat sebagai ibadah yang tidak terlihat oleh manusia. Seorang ayah yang bersedia menjadi kurir ASI sesungguhnya sedang mengantarkan masa depan anaknya, setetes demi setetes.
Waktu pun mengalir seperti sungai yang tidak pernah bertanya kepada bebatuan apakah mereka bersedia ditinggalkan. Iin mulai belajar mengenali wajah, merangkak, berdiri, lalu melangkah dengan kaki mungilnya. Pada setiap pertumbuhan itu, Papa menjadi saksi yang nyaris tidak pernah absen. Ketika Mamanya kembali melanjutkan Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi selama empat tahun, Papa tetap menjadi penjaga rumah, pengasuh anak, sekaligus sahabat kecil yang selalu siap menerima segala keluhannya. Ada malam-malam ketika Papa harus mengalahkan kantuk karena si kecil belum ingin tidur. Ada hari-hari ketika pekerjaan dan tanggung jawab di luar rumah harus berdamai dengan kebutuhan seorang anak yang ingin dipeluk. Namun, Papa tidak pernah menganggap semua itu sebagai beban. Dalam hati Papa tumbuh keyakinan bahwa anak-anak tidak selamanya kecil. Akan tiba suatu hari ketika tangan mungil yang dahulu menggenggam jari kita mulai belajar menggenggam tangannya sendiri. Karena itu, selagi Iin masih membutuhkan pelukan, Papa ingin menjadi pelukan yang paling dikenalnya. Selagi ia masih mencari wajah yang menenteramkan, Papa ingin menjadi wajah yang pertama kali ditemukannya.
Tahun demi tahun berlalu. Bayi perempuan yang dahulu menunggu kiriman ASI itu tumbuh menjadi gadis cerdas, lalu menapaki jalan ilmu pengetahuan di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Papa menyaksikan perubahan itu dengan perasaan yang sulit diterjemahkan. Ada kebanggaan yang tumbuh diam-diam, tetapi juga kesedihan halus yang menyelinap ketika menyadari bahwa masa kecil tak mungkin dipanggil pulang. Dahulu Papa mengajarinya berjalan agar tidak terjatuh. Kini ia berjalan memasuki dunia kedokteran yang penuh tantangan, tempat ia harus belajar menyembuhkan penderitaan orang lain. Dahulu Papa menyuapkan kehidupan melalui botol kecil berisi ASI. Kini ia sedang mengisi pikirannya dengan ilmu yang kelak dapat menyelamatkan kehidupan banyak manusia. Betapa indah cara Allah menumbuhkan seorang anak. Dari tubuh menghadapi dunia. Namun, di tengah segala perubahan yang dahulu begitu rapuh dalam dekapan, lahirlah pribadi yang semakin mandiri dan berani itu, satu hal tidak pernah berubah, yaitu bagi Papa, Iin tetaplah bayi mungil yang dahulu tertidur di dadanya, seakan-akan tidak ada tempat di muka bumi yang lebih aman daripada pelukan seorang ayah.
Suatu hari, ketika Iin telah menjalani sebagai mahasiswa kedokteran tingkat akhir, Papa memberanikan diri menanyakan sesuatu yang selama ini hanya disimpan dalam hati. “Nak, adakah laki-laki yang sedang dekat denganmu?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya lahir dari kegelisahan paling lembut seorang ayah yang menyadari bahwa suatu hari putrinya akan mencintai laki-laki lain. Iin tersenyum, lalu menjawab dengan kejujuran yang membuat hati Papa bergetar. “Maaf, Papa. Sebenarnya cukup banyak, tetapi kutolak dengan halus. Aku takut mengecewakan Papa. Jangan sampai aku menyukai seseorang, tetapi Papa justru tidak menyukainya. Kalau begitu, Papa saja yang pilihkan,” katanya sambil bercanda. Papa ikut tersenyum, tetapi jauh di dasar hatinya ada sesuatu yang tiba-tiba terasa mengharukan teramat dalam. Betapa dalam kepercayaan seorang anak kepada ayahnya hingga urusan hati pun ingin ia letakkan dalam pertimbangan orang yang paling dicintainya. Namun, Papa juga memahami bahwa cinta sejati seorang ayah bukanlah menggenggam seluruh pilihan anaknya. Tugas Papa bukan menentukan kepada siapa putrinya harus menyerahkan hati, melainkan memastikan bahwa ia mengetahui betapa berharganya dirinya sehingga tidak menyerahkan cinta kepada orang yang salah.
Kini Iin telah dewasa. Di belakang namanya telah terukir gelar-gelar akademik yang diperjuangkan melalui perjalanan panjang, dan sekarang ia sedang menempuh Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Barangkali takdir sedang menyusun lingkaran yang amat indah. Dahulu Mamanya harus meninggalkan Iin yang baru berusia dua minggu untuk menjalani pendidikan kedokteran. Kini Iin sendiri sedang menapaki lorong-lorong rumah sakit, mempelajari rahasia kehidupan yang tumbuh di dalam rahim seorang ibu, dan mempersiapkan diri menjadi dokter yang kelak membantu perempuan lain menghadirkan anak-anak mereka ke dunia. Papa membayangkan, suatu hari ketika Iin berdiri di ruang persalinan, menyambut tangisan pertama seorang bayi, mungkin ia akan teringat bahwa dahulu dirinya pun pernah menjadi bayi yang diperjuangkan dengan begitu banyak cinta. Apabila pada suatu ketika ia melihat seorang ayah menunggu dengan cemas di luar ruang bersalin, semoga hatinya berbisik, “Begitulah dahulu Papaku. Lelaki yang tidak pernah melahirkanku, tetapi ikut membesarkanku dengan seluruh jiwa dan raganya.” Gelar boleh bertambah, ilmu boleh semakin tinggi, dan kehidupan boleh membawanya ke tempat-tempat yang jauh. Namun, tidak ada gelar yang sanggup menggantikan satu panggilan sederhana yang telah hidup sejak masa kecilnya, Anak Papa.
Kelak, ketika usia Papa semakin senja, ketika rambut memutih dan langkah kaki tidak lagi secepat dahulu, Papa tidak meminta Iin mengembalikan segala pengorbanan yang pernah diberikan. Cinta orang tua bukanlah utang yang harus dilunasi anak-anaknya. Papa hanya berharap, di tengah kesibukannya menjadi dokter, istri, ibu, dan perempuan yang mengabdikan hidup kepada kemanusiaan, sesekali Iin masih menyediakan ruang kecil dalam hatinya untuk mengenang seorang lelaki yang dahulu setia menunggui botol ASI di rumah sakit. Lelaki yang pernah menggendongnya dengan tangan lelah, tetapi hati bahagia. Lelaki yang diam-diam belajar menjadi ibu ketika Mamanya sedang berjuang menjadi dokter. Apabila suatu hari Allah memanggil Papa pulang sebelum semua cerita sempat dituturkan, janganlah Iin terlalu lama menangis. Tengoklah ke dalam hatimu, Nak. Di sanalah Papa meninggalkan sesuatu yang tidak akan dikuburkan bersama jasadnya, yaitu cinta yang tak pernah selesai. Sebelum dunia mengenalmu sebagai seorang dokter, sebelum orang-orang memanggilmu dengan gelar kehormatan, sebelum kehidupan mengantarkanmu kepada segala pencapaian, engkau telah memiliki sebuah kedudukan yang tak akan pernah berubah, bahkan sampai akhir zaman. Engkau adalah putri sulungku, darah dagingku, kebanggaanku, dan untuk selama-lamanya, engkaulah ANAK PAPA.
Makassar, 8 November 2026
PAPA HTB
